Keutamaan Tarbiyah (Nasehat Pendidikan Bag. 2)

pandangan

Oleh Tim Madrasah Tarbiyatul Aulad Ma’had Minhajul Atsar Jember

 

Alhamdulillah, sekali lagi kita bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kenikmatan untuk bisa terlibat dalam lingkungan tarbiyah. Sebagai bentuk motivasi dan penambah semangat, berikut ini kami sampaikan keutamaan bagi orang-orang yang terjun dalam tarbiyah. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mendapatkan keutamaan berikut ini,

1)  Menjadi manusia terbaik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan kemudian mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari no. 5027)

2)  Datangnya pertolongan Allah.

Tarbiyah merupakan kesempatan dan peluang besar untuk istiqamah di atas kebenaran dan mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala. Karena amalan ini pada dasarnya adalah menolong dan membantu saudara-saudara kita dalam mendidik putra putri mereka. Menjadikan anak-anak yang shalih dalam ibadah, adab, dan akhlak mereka.

Tentu, ini merupakan kesempatan dan peluang besar untuk meraih pertolongan Allah Ta’ala. Karena kalau bukan karena Allah dan pertolongan-Nya, niscaya kita tidak bisa istiqamah di atas jalan yang lurus. Mengingatkan kita kepada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah Ta’ala selalu menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim 2074)

Kita butuh kepada pertolongan Allah untuk diri kita, keluarga, dan anak-anak kita. Dengan kita menolong saudara-saudara kita, mendidik putra putri mereka, semoga pertolongan Allah datang.

3)  Mendapat doa dari penduduk langit dan bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ.

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi sampai semut yang berada di dalam lubangnya bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kepada manusia kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi 4/347)

4)  Diangkatnya derajat dan dihapusnya dosa.

Ketika kita duduk atau meluangkan waktu bersama mereka, mengajari mereka, mengikuti perkembangan akhlak, ilmu, dan ibadah mereka. Dari waktu ke waktu mendiskusikannya yang banyak memakan waktu, pikiran, dan tenaga kita.

Semua itu bukan tanpa hitungan, semua itu bukan tanpa balasan. Kita tidak jarang tertimpa sedih dan gundah ketika mendapati anak-anak tidak serius dalam belajar. Mendapati anak didik bermasalah dalam akhlaknya, tidak memahami pelajaran, dan lainnya.

Semua itu harapannya menghapuskan dosa-dosa dan menjadi sebab diangkatnya derajat kita di sisi Allah. Terkadang kita duduk sampai larut malam untuk mendiskusikan mereka. Waktu dan istirahat kita tersita, bahkan waktu ibadah kita tersita. Tak jarang, kita terganggu konsentrasi dan kekhusyuan dalam beribadah.

Semua itu tentu tidak akan sia-sia -biidznillah-, ketika semua itu diiringi dengan mengharap ridha Allah. Mengaharapkan anak-anak menjadi orang-orang shalih dan bermanfaat untuk dakwah tauhid dan sunnah.

Tentu, hasil dari amalan besar ini merupakan hasil yang dikehendaki seorang mukmin. Di waktu yang sama, amalan besar ini tidak disukai oleh syaithan dari kalangan jin dan manusia.

Sehingga amalan ini tantangannya besar, membutuhkan keseriusan yang berkesinambungan, kesabaran yang sampai pada puncaknya, keuletan, dan kekokohan pada amalan yang kita lakukan. Tentu, masing-masing kita berupaya untuk mensyukuri nikmat ini. Kemudian megikhlaskan dari waktu ke waktu dan kokoh dalam amalan.

5)  Amalan jariyah.

Apabila manusia telah meninggal, maka akan terputus semua amalannya kecuali tiga perkara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia telah meninggal, maka akan terputuslah seluruh amalannya. Kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shalih untuk kedua orang tuanya.” (HR. at-Tirmidzi no. 3/ 53)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.