Mengejar Harapan

 

Oleh Abbas Nanang Jember, Tahfidz

 

Harapan adalah bagian dari hidup yang kita semestinya memilikinya. Harapan biarlah tersimpan dalam hati, diingat saat mulai menyerah, dan dijaga dalam setiap Langkah. Berikan ia ruang dalam hati kita, namun tak perlu dilangitkan tinggi-tinggi. Sebab ia bisa melukai kita saat kenyataan harus tak sejalan dengan ekspektasi.

Jadi, jika suatu saat nanti apa yang menjadi harapan kita tak menjadi nyata, bersiaplah untuk merelakannya. Bukan untuk kecewa lalu mati, tetapi untuk menumbuhkan harapan lainnya dan berusaha kembali. Berusaha untuk kembali mewujudkannya dan berdoa agar Allah Taala berkenan mengabulkannya.

 

Rasa kecewa hadir saat kita terlalu menggebu-nggebu dalam menaruh harapan. Namun tidak apa-apa jika kita harus kecewa pada ujungnya, karena dari sinilah kita belajar dari kegagalan. Adakalanya kecewa hadir di sela-sela hari, namun itu suatu hal yang manusiawi. Yang salah adalah ketika kita kecewa, namun kita tak bisa bangkit darinya karena perasaan sedih mendalam dan berlarut, lalu tak mau untuk mencoba atau berusaha lagi.

Ada yang pernah bilang:

“Bahwa saat memiliki keinginan atau tujuan, maka kecilkanlah harapan itu dan perbesar usaha untuk meraihnya. Agar kita tak menelan banyak kecewa saat kenyataan tak sejalan dengan harapan.”

 

Jadi berusahalah dengan maksimal, diiringi dengan doa dan berpasrah kepada Allah. Apapun yang terjadi, pasti Allah telah siapkan yang terbaik untuknya. Adapun jika nanti kita harus berhadapan dengan kegagalan, jadikan ia sebagai jalan yang mesti kita tempuh untuk sampai kepada tujuan.

Tapi setiap orang yang berusaha, berjuang keras untuk mencari hidayah, pasti akan Allah sampaikan keinginannya tersebut. Allah Taala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berusaha berjuang kepada (agama Kami), niscaya Kami akan tunjukkan jalan Kami. Dan Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

 

Tidak ada yang salah dari sebuah harapan, memiliki harapan berarti mempunyai daya untuk terus melanjutkan hidup. Bayangkan jika seorang tidak memiliki harapan, ia pasti sekedar hidup, namun tak memiliki daya juang atau semangat untuk menjalani hidupnya.

Jatuh lalu tumbuh, kecewa, namun tetap berusaha. Bangkit lalu melangkahlah, Allah telah siapkan sesuatu yang indah.

 

Mari, kita berusaha lebih bijak dalam mengejar harapan kita, sekedarnya saja. Tak perlu harapan itu terlalu tinggi yang terpenting upaya kita dalam meraihnya.

Mari terus berharap, namun dengan memaknainya lebih bijak.

Semoga bermanfaat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.