MIK Sesi Penyaringan Marhalah Wustho
Jember, Kamis, 13 Rajab 1447 H / 1 Januari 2026 M
Malam Jum’at itu, Masjid ‘Ali bin Abi Thalib kembali dipenuhi semangat para santri. Kegiatan MIK (Musabaqah Istima’ Kalamil ‘Ulama) masih terus berlanjut dan kali ini memasuki sesi penyaringan untuk marhalah wustho. Sejak awal malam, suasana masjid tampak ramai dan hidup, menandakan antusiasme santri yang tidak surut meski rangkaian lomba telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Pelaksanaan MIK pada malam tersebut dikhususkan untuk marhalah wustho, sehingga para santri yang berada di Ma’had 2 tidak turut hadir. Adapun peserta yang mengikuti sesi ini berasal dari kalangan thullab tahfidz, mulai dari tahfidz 1 (judud) hingga tahfidz 3 (qudama). Sementara itu, MIK untuk marhalah ‘ulya yang diikuti thullab takhasus dan takmili telah memasuki babak final sebagai tahap paling menentukan.
Sebelum lomba dimulai, panitia membuka pendaftaran peserta terlebih dahulu melalui musyrif kamar masing-masing. Data yang terkumpul kemudian diserahkan kepada panitia untuk diverifikasi. Berdasarkan ketentuan awal, jumlah peserta dibatasi sebanyak 30 santri. Namun, tingginya minat dan semangat santri menyebabkan jumlah pendaftar melampaui kuota yang telah ditetapkan.
Melihat kondisi tersebut, panitia menggelar musyawarah dan memutuskan untuk menerapkan sistem penyaringan, sebagaimana yang sebelumnya telah diterapkan pada marhalah ‘ulya. Seluruh peserta dikumpulkan dalam satu majelis, lalu juri memberikan pertanyaan bersifat umum yang mencakup seluruh tingkatan kelas. Peserta yang mampu menjawab dengan benar dipersilakan menempati tempat khusus sesuai kelas masing-masing, sementara peserta yang menjawab salah dikenai sanksi berupa larangan menjawab pada dua soal berikutnya.
Melalui tahapan ini, 30 santri unggulan akhirnya terpilih untuk melaju ke babak selanjutnya. Sepanjang proses penyaringan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Semangat kompetisi terasa kuat, bukan semata demi lolos seleksi, tetapi juga sebagai ikhtiar untuk memberikan hasil terbaik dan mengharumkan nama kelas masing-masing.
Tingginya tensi persaingan bahkan membuat sebagian santri kurang merespons sesi kuis berhadiah yang diselipkan oleh pembawa acara. Beberapa kali terdengar teriakan peserta yang lebih memilih sesi pertanyaan penyaringan dibandingkan kuis hiburan. Meski demikian, pembawa acara tetap menjalankan sesi tersebut sebagai upaya menjaga kondusifitas dan meredakan ketegangan suasana.
Puncak ketegangan terjadi pada sesi kuota tambahan (kuota ekstra). Pada tahap ini, panitia menguji kecepatan dan kekuatan hafalan peserta dengan memutarkan rekaman nasab sahabat atau tabi’in. Peserta yang mampu menyetorkan hafalan secara benar melalui mikrofon berhak melanjutkan ke rekaman berikutnya.
Antusiasme santri semakin memuncak. Beragam metode digunakan untuk membantu hafalan, termasuk menghitung dengan jari. Namun, keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri. Sesi kuota ekstra dimulai sekitar pukul 21.50 WIB, sementara seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir pada pukul 22.00 WIB, sehingga waktu efektif yang tersedia hanya sekitar 10 menit.
Dalam durasi singkat tersebut, panitia hanya sempat memutarkan dua rekaman nasab, yakni nasab sahabat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan Imam As-Suyuthi rahimahullah. Meski singkat, sesi ini menjadi salah satu momen paling berkesan karena menuntut konsentrasi, ketenangan, dan kesiapan hafalan para peserta.
Tepat pada pukul 22.00 WIB, rangkaian kegiatan MIK sesi penyaringan marhalah wustho resmi ditutup. Melalui kegiatan ini, panitia berharap para santri semakin mencintai para ulama, menguatkan hafalan, serta menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal berharga—tidak hanya untuk prestasi, tetapi juga sebagai amal ibadah yang bernilai di sisi Allah Ta‘ala.
Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kaum muslimin dari berbagai macam syubhat dan keburukan. Aamiin yaa mujiibas saailiin.


