Pelatihan Fisik di Lembaga Tahfizh, Upaya Meminimalisir Cedera

 

Oleh Tim Jurnalistik Pesantren

 

Sebagaimana biasa, Kamis malam Jumat 13 Jumadal Akhirah 1444 H lembaga Tahfizh menggelar rapat rutin bersama para mudarris dan musyrif. Di antara hasil keputusan rapat pada malam itu adalah untuk memulai kembali Program Pelatihan Fisik dan Kebugaran.

Dianggap penting keputusan ini untuk segera dilaksanakan, mengingat manfaat dan tujuannya yang sangat besar, yaitu melatih otot dan tulang santri agar kuat dan tidak mudah cedera. Beberapa insiden sebelumnya yang terjadi saat olahraga hingga mengakibatkan cedera, semakin mendesak untuk segera terealisasinya program ini.

Akhirnya, dipilihlah hari Sabtu 14 Jumadal Akhirah 1444 H (kemarin lusa) sebagai hari pertama untuk mengawali kembali program ini. Beberapa tahun sebelumnya, program semisal juga sudah pernah berjalan dengan baik. Namun, kondisi pandemi Covid-19 mengakibatkan terhentinya program selama sekian lama.

 

Pra Tahfizh yang Memulai

Kelas Pra Tahfizh, menjadi pemain pertama yang meresmikan kembali program ini. Kelas ini adalah yang termuda di Tahfizh, tapi untuk mengawali program baru atau menghidupkan kembali rutinitas lama, kelas mereka selalu siap.

Bukan tanpa alasan menunjuk mereka sebagai pemain pertama. Selain karena memang dimulai dari yang termuda, namun ada pula faktor-faktor lain yang menjadi dasar keputusan tersebut.

Semoga dengan melihat semangat dan antusias mereka dalam mengikuti program ini, dapat memotivasi kelas-kelas di atasnya untuk menyemarakkan program ini saat tiba jadwal mereka. Atau bahkan menggerakkan lembaga lain untuk turut mengadakan program serupa.

 

Pelatih Program Latihan Fisik

Materi Pelatihan Fisik ini meski terlihat ringan, tapi tidak sembarang orang bisa mempraktikkannya. Apalagi untuk mencontohkan dan mengajarkan, butuh pelatih yang memahami gerakan juga cara yang benar dalam melakukannya, serta teknik melatih yang dapat dicerna dengan baik oleh santri dengan perbedaan tingkat usianya.

Terpilihlah dua pelatih yang dikira paling mumpuni untuk hal ini, seorang musyrif asal negeri Papua (yang memang sudah terbiasa dengan olahraga otot), dan seorang musyrif asal Jawa tengah yang memiliki latar belakang serupa.

Dahulu, pelatihnya adalah ikhwah asal Belanda yang memang mumpuni dalam hal ini. Namun kini, pihak Tahfizh sudah mendapat pengganti yang lebih dekat dengan memberdayakan tenaga musyrif, tanpa perlu meminta saja, walhamdulillah.


Baca Juga: Giat Beribadah Menambah Kekuatan Badan


Waktu Pelatihan Fisik

Setelah bel istirahat murajaah subuh berbunyi sekitar pukul 05.00 WIB, program ini langsung mulai dengan mengambil tempat di lapangan badminton di area taman ma’had. Tidak lama, durasi keseluruhan hanya sekitar 45 menit.

Diawali dengan pemanasan ringan, peregangan tangan dan pinggang. Baru kemudian berlanjut ke sesi materi dengan gerakan yang bervariasi. Di antaranya, jumping jack, push up, mountain climbers, dan lain sebagainya. Para santri cukup mempraktikkan gerakan tanpa harus menghafal namanya.

Memanfaatkan fasilitas olahraga (bar gym) yang terpasang di taman, program ini tidak memerlukan banyak peralatan tambahan. Ada empat fasilitas di sana dengan fungsi yang berbeda. Semoga berguna dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan kekuatan santri serta anak-anak salafiyyin.

 

Harapan dan Doa

Dengan adanya program ini, harapannya dapat mencetak para pejuang sunnah yang tangguh hati dan fisiknya. Tangguh hatinya dengan ilmu, amal saleh, dan prinsip yang kokoh di atas dalil-dalil serta hujah yang sahih. Tangguh juga fisiknya dengan latihan dan olahraga yang cukup.

Semoga mereka menjadi seperti yang tersifatkan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمُؤْمِنُ ‌الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ ‌الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai dari mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Kata Imam an-Nawawi rahimahullah: “Yang dimaksud dengan kekuatan di sini adalah kebulatan tekad, dan bakat dalam perkara akhirat. Sehingga orang yang memiliki sifat tersebut akan lebih sering maju menghadapi musuh dalam jihad, dan lebih sigap untuk keluar serta berangkat menuju peperangan.

Ia juga lebih kuat mentalnya dalam menegakkan amar makruf nahi munkar, bersabar atas gangguan yang ia terima darinya, serta (lebih tahan) untuk menanggung kesulitan dalam membela Allah. Juga, ia akan lebih senang dalam menegakkan salat, puasa, zikir, dan seluruh ibadah lainnya, serta lebih giat melakukan serta menjaganya.” (Syarh Shahih Muslim)

Semoga bermanfaat.


Artikel Kami: Kuatkan Iman dengan Amal Saleh


Penulis: Mushab Klaten, Musyrif

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.