Rihlah Nanggelan dalam Kenangan _bagian 4_

 

Oleh Tim Reportase Santri

 

“Tim satu dan dua bekerja membuat tenda dalam satu setengah jam pertama. Kemudian tim tiga dan empat bekerja dalam satu setengah jam berikutnya. Nanti salat zuhur dan asarnya di jamak qasar setelah tenda jadi.” Himbau salah satu pembimbing, kepada para santri yang sedang merebahkan badannya di atas bebatuan yang tersebar di pesisir pantai.

Itulah kegiatan pertama kami sesampainya di Pantai Nanggelan; Mendirikan tenda dan menyiapkan semua apa yang kami butuhkan selama di sana. Tim-tim yang telah dibentuk sebelumnya (Tim Duyung, Tim Pinguin, Tim Lumba-Lumba, dan Tim Gurita) saling bekerja sama. Masing-masing mengerjakan yang menjadi tugasnya. Sebelum mendirikan tenda, kami harus menyiapkan dulu areal yang akan menjadi tempat  tenda.

 

Rerumputan setinggi perut yang tumbuh di sana kami babati dengan alat seadanya. Tidak ada celurit, parang pun jadi. Tidak dapat parang, ranting pun kena. Yang penting dipukul-pukulkan ke rerumputan tersebut sampai rebah jimpah, nantinya jadi lebih mudah membersihkannya.

Tempat kemah kami agak tinggi dari permukaan laut. Agar ketika air pasang, ia tidak merusak tenda kami. Posisinya terletak di antara dua pohon palem yang menjulang tinggi sekali, ukuran pangkal batangnya lebih besar dari pelukan orang dewasa.

Tenda Kami yang Sederhana

Setelah rerumputan selesai dibabat, saatnya mendirikan tenda. Tali tampar biru dikaitkan di satu pohon, kemudian diikatkan di pohon seberangnya.

“Ini bedanya tali temalinya orang Jawa dan Sumatra..” Tutur salah seorang ustadz yang memperlihatkan kelihainnya dalam tali temali.

“Oh.. kalau orang Jawa lebih cepat dan simpel ya ustadz?” Salah seorang santri menyela dan menebak.

“Ya.. Kalau Sumatra itu terlalu ruwet dan banyak muter-muternya..” Jelas ustadz tersebut.

 

Berlomba Mendirikan Tenda

Setelah tali terikat dengan kuat, terpal dibentangkan di atasnya. Untuk kemudian ujung-ujungnya dikencangkan, dan ditambatkan ke pohon atau patok bambu.

Beberapa meter di bawah sana, seorang santri asal Buton juga dengan susah payah mendirikan tenda. Rencananya tempat itu akan digunakan untuk dapur umum. Seluruh tenaga ia kerahkan, pohon-pohon ia panjat untuk mengikatkan tali penyangga tenda. Sementara kami yang di atas, tidak perlu memanjat pohon untuk mengikatkan tali tampar biru tadi. Cukup dengan membuat simpul laso yang dilingkarkan ke pohon, kemudian tali tersebut ditinggikan dengan menggunakan bambu, selesailah perkaranya. Ketika talinya ditarik, ikatannya akan semakin kencang.

 

Begitu pula ketika mengikatkan di pohon satunya, santri asal Buton bersusah payah sampai rela bergelantungan  di dahan-dahan pohon. Adapun kami yang di atas, cukup dengan menaikkan tali tersebut dengan bambu, kemudian mengikatnya dengan simpul truk. Lalu hanya dengan ditarik, maka ikatan akan semakin kuat. Semua prosesnya kami lakukan dengan lebih cepat, efisien tenaga, dan berpengalaman.

Setelah santri asal Buton itu selesai mendirikan tendanya dengan susah payah, ternyata tempat itu tidak jadi digunakan sebagai dapur umum. “Mas, dapurnya di atas sana.. nggak jadi di sini..” kata santri asal Banjar dengan senyum meledek yang senantiasa mengembang darinya.

 

Setelah tenda dialasi terpal, dan barang-barang dimasukkan ke dalamnya, Alhamdulillah salat zuhur dan asar dapat ditegakan secara jamak qasar.

Waktu kosong setelah salat lebih banyak yang menggunakannya untuk istirahat. Persiapan tenaga sebelum bermain di sore hari nanti.

 

Pantai Serasa Milik Kami

Matahari mulai tumbang di arah barat. Teriknya juga sudah tidak begitu terasa. Kami pun segera turun ke pantai untuk bermain ombak.

Indahnya Senja di Nanggelan

“Yo., yo gede ombaknya.” Blaaarrrr.. ombak tinggi menggulung tubuh kami, membuat kami terjungkal ke dasar laut, tertatap pasir, lalu air laut yang asin masuk ke dalam hidung membuatnya terasa perih. Begitulah kondisinya jika ombak datang dalam keadaan kami belum siap.

Jarang sekali kami bermain ombak seperti ini. Walaupun di sini kami tidak bisa leluasa berenang, tapi ini sudah lebih mengasyikkan daripada sekedar berenang. Karena kami sudah sering berenang biasa.

Kami Berada di Balik Ombak

Terkadang kami bergandeng tangan atau berangkulan ketika ombak datang. Berusaha bertahan sekuat tenaga agar tidak terdepak. Namun tetap saja, selalu ada saja dari kami yang terlepas dan terdorong ombak sampai jauh.

“Ayo, ayo siap… Siap.. Pegangan.” Sejak ombak masih jauh di belakang sana, kami sudah saling memberi aba-aba. Ombaknya tinggi sekali. Gelombang yang membawa butiran pasir dari dasar itu, sampai menutupi penglihatan kami dari matahari yang sebentar lagi akan terbenam.

Sekali lagi, Blaaarrrr.. Ombak melewati kami. Matahari kembali terlihat. Rona tejanya memantul-mantul indah di antara riak-riak gelombang laut, timbul tenggelam.

 

Teman-teman kami yang lainnya bermain bola di pinggir pantai. Dua gawang dari bambu mereka tancapkan. Orang-orang yang biasanya tidak pernah bermain bola ketika di pondok, di sini mereka bermain sepuasnya.

Pantai Serasa Milik Kami Sendiri

Pantai seluas ini serasa milik kami sendiri, tidak ada orang lain. Yang terdengar hanya suara-suara sorakan kami yang membahana, melampiaskan selaksa kesenangan yang membuncah dalam dada.

Dua Orang Pembawa Rezeki

Langit semakin gelap. Walaupun matahari belum terbenam, tapi cahayanya sudah tak dapat kami lihat lagi. Ia bersembunyi di balik Pulau Nusa Barong nun jauh di sana.

Kami segera menghentikan permainan, lalu kembali ke tenda. Rupa-rupanya di sana terlihat dua santri yang bukan termasuk anggota rihlah. Mereka berdua terlihat membawa sebuah ember. Entah apa yang ada di dalamnya, tetapi yang jelas mereka baru datang, dan mereka tidak ikut rombongan kami.

 

Apa gerangan yang membuat mereka kemari, dan berani sekali mereka datang hanya berdua. Padahal waktu itu malam hendak menyelimuti.

“Loh..!! Antum kok ke sini?” Tanya salah seorang dari kami menyelidik.

“Iya ni.. Ini juga dadakan..” Jawab salah satu santri yang berasal dari Jogja.

 

“Gimana emang ceritanya kok bisa ke sini?”

“Kami berdua tadi sedang lewat di depan kantor, tiba-tiba dipanggil..” Terang santri asal Malang.

“’Antum berdua ikut kita ke Nanggelan ya.. Buat ngantar baju gantinya ustadz dan tim ahli..’ Kata seorang ustadz yang memanggil kami.” Lanjutnya.

“Antum berdua ke sini sendirian??” Kami masih penasaran dan bertanya kepada keduanya.

“Nggak, tadi ada ustadz dan tim kantor yang menemani kami saat mendaki. Kemudian setelah setengah perjalanan, mereka kembali dan menyuruh kami untuk melanjutkan sendiri.” Tutur mereka berdua.

Alhamdulillah, kalian berdua nggak nyasar dan bisa sampai ke sini.” Tanggap salah seorang santri menakut-nakuti.

 

“Ini ayam dari ustadz, katanya jangan lama-lama, segera diolah aja..” Santri asal Jogja menyodorkan wadah berisi ayam utuh beberapa ekor.

Masyaallah.. repot-repot sekali antum bawakan ayam buat kita.. jazaakumullahu khairan ya..” Ujar para santri dengan wajah bahagia. Ternyata dua santri tadi datang dengan membawa rezeki.

 

Memang ketika kami baru sampai ke sini tadi, seorang ustadz bertanya, “Nanti malam acaranya apa?”

“Bakar ayam tadz.” Seorang santri menjelaskan.

“Berapa kilo ayamnya?”

“Lima kilo tadz.”

“Cuma lima kilo? Itu kurang buat 40 orang. Nanti wes, ana bawakan ayam lagi dari pondok.” Kata sang ustadz menjanjikan. Dan inilah penepatan janji itu, dikirim melalui dua santri takmili yang baru saja datang.

 

Alam Bebas

Langit sempurna gelap sudah, air laut berubah menjadi kelam. Di tepi pantai seberang sana, kemerlap lampu terlihat indah. Perkampungan tepi pantai itu menyala di tengah kegelapan. Binar cahayanya membias dari kejauhan. Berpendar dan memantul-mantul di antara gelombang air laut.

Kami berbilas di mata air tepi pantai. Di sini, untuk mendapat air bersih sangat mudah. Hanya perlu  menggali sedikit ke dalam tanah, akan keluar darinya mata air.

Namun mata air ini hanya tersedia sewaktu air laut sedang surut. Karena ketika pasang, air laut akan menutupinya.

Di situlah kami keramas dan berbilas, bahkan bersabun. Karena memang kami tak memiliki kamar mandi, yang ada hanya kamar ganti. Akhirnya jika ingin bersabun, kami harus memasukkan tangan ke balik baju, dan menggosokkan sabun ke badan. Tangan satunya menahan baju agar jangan sampai tersingkap.

Mata Air untuk, Masak, Mandi, dan Sebagainya. Airnya Bisa Diminum Langsung

Di sini, BAK dan BAB juga tak bisa leluasa. Kamar ganti yang jumlahnya hanya satu tidak boleh untuk BAB. Kami pun juga tak mungkin mengantri lama hanya untuk BAK. Akhirnya untuk hal itu kami harus menjauh dari pandangan manusia. Bersembunyi di balik batu atau pohon, menembus hutan yang banyak monyetnya, dan sebagainya.

Alhamdulillah tidak ada di antara kami yang ketika BAK dan BAB di hutan, sekawanan monyet berebut mendatanginya, mengira bahwa ia sedang bagi-bagi minum dan makan gratis.

Selesai berbilas, kami berganti baju di kamar ganti yang tersedia. Atau bagi yang malas mengantri, mudah sekali caranya menjauhi pandangan manusia. Di malam hari seperti ini, tidak sulit mencari tempat persembunyian. Asal sedikit menjauh, gelapnya malam akan menutupi, yang penting jangan sampai tersorot lampu senter.

 

Gerhana yang Terlewatkan

Shalat magrib dan isya di jamak. Suara lantunan bacaan Quran yang berpadu dengan suasana pantai di malam hari, membuat suasana terasa syahdu. “Sami’allahu liman hamidah.” Sang imam bangkit dari rukuk. Suaranya hampir kalah oleh deburan ombak.

“Rabbana walakal hamd.” Salah seorang makmum dengan lantang menyampaikan suara imam. Para makmum pun segera bangkit dari rukuk mereka. Terus demikian sampai, “Assalamualaikum wa rahmatullah.”

Makmum tadi juga menirukan, “Assalamualaikum wa rahmatullah.”

 

Seusai shalat, arang dinyalakan, tempat panggangan disiapkan. Sebagian baranya mengambil dari serpihan kayu bakar yang sudah menyala sejak sore tadi di belakang tenda. Kini saatnya bakar ayam.

Untuk para ustadz dan pembimbing, mereka berempat mendapat satu ekor ayam utuh dari yang dibawa oleh santri asal Jogja sore tadi. Setelah matang dalam air mendidih, ayam itu dilumuri bumbu. Lalu badannya yang sudah terbelah, ditusuk menggunakan bambu lalu dibakar di atas api. Nikmatnya.

Di sela-sela mengipasi ayam, seorang ustadz memberitahu bahwa di malam itu akan terjadi gerhana bulan. Teman-teman kami yang berada di ma’had, mereka melakukan salat gerhana. Mendengar itu, kami segera mencari bulan ingin memastikan. Namun, karena tempat kami tertutup oleh pepohonan dan perbukitan, akhirnya kami hanya dapat melihat gerhana ketika sudah tersisa sedikit.

Walaupun kami tidak bisa mengerjakan salat, tapi momen itu segera kami gunakan semaksimal mungkin untuk beribadah. Toh ibadah itu kan beragam jenisnya. Kami masih bisa bertasbih, bertakbir, bertahlil, bersedekah (baik itu secara hissi maupun maknawi), berta’awun, berwajah yang berseri-seri, dan lain sebaginya. Bahkan berbagi jajanan maupun berbagi faedah pun kami kerjakan. Sebagian kami malah ada yang menghidupkan lilin, supaya dapat membaca kalamullah.

 

Malam yang Tenang

Azan fajar pertama berkumandang. Walaupun suaranya seperti tertelan ombak, tapi muazinnya berharap semoga itu dapat membangunkan temannya. Supaya mereka dapat menegakkan syariat Allah, mengerjakan shalat witir, dan sebagainya.

Badan yang kelelahan, membuat tidur malam ini serasa begitu singkat. Suara ombak meninabobokkan kami, nyamuk tiada yang menggangu di tengah hutan seperti ini. Itu semua semakin membuat tidur kami sangat nyenyak dan terasa singkat.

Kami sampai tidak tahu, bahwa ternyata semalam tadi air laut pasang. Sampai hampir menyentuh jalan menanjak ke arah tempat kemah kami berada. Kami juga sampai lupa tugas jaga yang telah dibacakan jadwalnya sebelum tidur tadi. Bablas terus dan baru bangun ketika fajar.

 

Sebelum tidur, sebagian kami metekakkan pakaiannya di atas batang pohon tumbang yang menjorok ke laut. “Eh, bajumu lho.. Nanti hanyut kalau air laut pasang..” Temannya mengingatkan.

“Ora ora, banyune ra tekan kono.” Kawan tadi tetap ngeyel, ia membiarkan bajunya di atas batang itu.

Benar, malamnya air laut pasang. Dan ketika bangun tidur, kawan tadi mencari-cari bajunya namun tak kunjung dapat. Setelah hampir berputus asa, alhamdulillah ternyata pakaiannya ditemukan. Air laut tidak membawanya pergi, hanya memindahkan posisinya ke atas bebatuan di tepi pantai. Namun sudah dalam kondisi berbalur pasir pantai.

 

Lalu bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Apa yang terjadi di pagi hari berikutnya? Nantikan pada artikel-artikel selanjutnya. Masih banyak kisah menarik yang seru untuk diikuti insya Allah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.