Tatkala Kebenaran Tak Lagi Ditoleh
Oleh Abu ‘Arafat Robi’ Al-Maidany
Agama Islam adalah agama yang indah, agama yang sempurna, agama yang telah menjelaskan seluruh perkara kepada para pemeluknya; menjelaskan tauhid dan lawannya, yaitu syirik; sunnah dan lawannya, yakni bid‘ah; kebenaran serta lawannya, yaitu kebatilan. Sebagaimana hal tersebut telah Allah Ta‘ala jelaskan dalam Al-Qur’an,
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama Islam. Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Namun sangat disayangkan, tatkala seseorang mulai berani meninggalkan kebenaran karena adanya faktor-faktor yang mendorong mereka. Di antaranya ialah bisikan jiwa dan hawa nafsu yang jelek. Keduanya telah Allah Ta‘ala isyaratkan dan beritakan dalam firman-Nya,
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53)
Allah Ta‘ala juga berfirman,
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Dari ayat tersebut, kita mengetahui bahwa salah satu akibat dari meninggalkan kebenaran adalah Allah akan menyesatkan seseorang dalam keadaan dirinya memiliki ilmu, lalu Allah mengunci pendengarannya, menutup hatinya, demikian pula penglihatannya.
Ini merupakan peringatan dari Allah Ta‘ala untuk para hamba-Nya. Jikalau seseorang mencoba berpaling dari peringatan-Nya, maka Allah mengancamnya sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ (126) وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ ۚ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ
“Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Allah menjawab, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu mengabaikannya; maka begitu pula pada hari ini kamu diabaikan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 124–127)
Dengan ayat-ayat yang telah kita paparkan di atas, hal itu sudah cukup untuk menyadarkan seorang mukmin yang sejati akan akibat buruk berpaling dari kebenaran, serta ayat-ayat itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)
Maka kita memohon kepada Allah Ta‘ala agar senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar dan menjauhkan kita dari segala bentuk kebatilan. Aamiin ya Mujibas Sa’ilin.


