Tips Hidup Bahagia (Seri-2)

Oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah

 

Di antara cara yang dapat menghilangkan kegelisahan yang muncul disebabkan ketegangan urat syaraf dan hati yang selalu memikirkan kesulitan adalah sibuk dengan suatu amalan atau ilmu yang bermanfaat. Hal ini dapat menghibur hati dari kegelisahan, bahkan dapat membuatnya lupa dari penyebab kesedihan. Setelah dia mendapatkan kebahagiaan dan bertambah semangatnya. Cara yang kedua ini juga merupakan cara yang dapat dilakukan oleh orang yang beriman dan selainnya.

Hanya saja orang yang beriman terbedakan dengan sebab keimanan, keikhlasan, dan harapannya terhadap pahala tatkala ia sibuk dengan ilmu yang ia pelajari atau yang ia ajarkan.

Sama halnya juga dengan amalan yang dikerjakannya, jika amalan itu adalah ibadah maka akan ternilai sebagai ibadah dan ketika amalan itu adalah kesibukan dunia atau hanya sekedar kebiasan, akan menyertainya niatan yang baik.

Ia niatkan kesibukan itu untuk membantunya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, maka dengan itu pengaruh amalannya dapat menghilangkan kesedihan, kegelisahan, dan kegundahan yang menimpanya.

Betapa banyak orang yang diuji dengan kegelisahan dan kegundahan, sehingga dia tertimpa berbagai penyakit, lalu obat yang manjur baginya adalah melupakan sebab kegelisahan dan kesusahannya dan ia sibuk dengan amalan yang penting.

Sudah selayaknya agar kesibukan yang ia jalani dapat menjinakan jiwa dengan mudah dan dapat membuat jiwa tertarik. Hal ini akan lebih ampuh untuk kesembuhan. Wallahu A’lam.

Kemudian kiat lain untuk menghilangkan kegelisahan dan ketakutan adalah fokus dalam memilkirkan amalan di hari yang dijalaninya dan tidak fokus pada kejadian di waktu yang telah lampau berupa kenangan pahit. Oleh karena itulah Nabi berlindung kepada Allah dari al-hamm dan al-huzn.

       Al-Huzn adalah sedih disebabkan memikirkan kejadian  masa lalu yang tidak dapat dielakkan lagi. Adapun al-Hamm adalah rasa cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi berupa hal yang mengkhawatirkan.

Maka sepantasnya bagi seseorang untuk memikirkan waktu yang sedang dijalaninya. Ia fokuskan semangat dan kesungguhannya di hari dan  waktu yang sedang dijalaninya. Dan  hal ini akan lebih menyempurnakan amalannya serta dapat menghilangkan dan menghibur seorang hamba dari  kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi ataupun kesedihannya akan suatu kejadian yang telah dilaluinya.

Apabila Nabin berdoa dengan sebuah doa atau mengajarkan ummatnya akan suatu doa, maka beliau sangat menghasung ummatnya agar bersungguh-sungguh dalam merealisasikan doa yang dipanjatkan dan meninggalkan suatu hal yang ia berdoa untuk terhindar darinya–disertai permintaan tolong kepada Allah dan harap besar akan ganjarannya-, karena doa itu harus digandengkan dengan amal.

Maka seorang hamba dituntut untuk berantusias dalam menggapai kemanfaatan agama dan dunianya. Bersamaan itu dia meminta tolong kepada Rabbnya dalam meraih keberhasilan cita-citanya.

Di dalam sebuah sabdanya, Nabi mengatakan,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان

“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu! Mintalah pertolongan kepada Allah! Jangan melemah! Jika menimpamu sebuah musibah, jangan engkau katakan, ‘Duhai seandainya aku lakukan demikian dan demikian, niscaya akan demikian hasilnya’. Namun katakanlah, ‘Qadarullah wa maa syaa-a fa’ala (semua terjadi dengan takdir Allah dan apa yang dikehandakinya pasti terjadi).’ Sesungguhnya kata “seandainya” membuka celah bagi setan.”

Di dalam hadis ini Rasulullahn memadukan antara perintah untuk bersemangat dalam melakukan sesuatu yang bermanfat pada setiap keadaan, perintah untuk selalu meminta pertolongan Allah, dan menghilangkan keputusasaan yang hakekatnya adalah sifat malas yang berbahaya dengan membiarkan perkara yang telah lewat dan berlalu kemudian bersaksi terhadap keputusan Allah dan kehendak-Nya.

Segala sesuatu yang terjadi terbagi menjadi dua jenis:

  1. Sesuatu yang dapat diusahakan oleh seorang hamba untuk meraihnya atau mendekatinya. Dan perkara tersebut dapat ia tolak atau diminimalisir. Maka jenis pertama ini butuh adanya kesungguhan dan pertolongan dari Allah bagi seorang hamba.
  2. Suatu hal yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Jenis ini membutuhkan sikap tenang, rida, dan menerima pada diri seorang hamba. Dan ketika pokok yang sangat penting ini diperhatikan oleh seorang hamba, maka akan menjadi sebab kebahagian dan terangkatnya kegelishan serta kegundahan darinya.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.