Teladan Baik dari Ustadz

Oleh Alif Wiryawan Wibawa 2C Takmili

Perjuangan wahai kawan..

Mungkin bagi yang belum tahu tentang Mahato, bisa jadi dia mengira bahwa Mahato adalah sebuah tempat yang ada di Negara China atau Jepang. Namun ternyata Mahato adalah salah satu nama daerah di Sumatera.

Mahato adalah sebuah desa yang sangat luas cakupannya. Betapa tidak? Bayangkan saja jalan utama yang ada di desa berukuran panjang kurang lebih 14 km, luas sekali bukan?

Ya alhamdulillah, ana adalah salah seorang santri Ma’had As-Salafy Jember yang pernah diberi kesempatan PKL ke Pulau Sumatera. Sebuah hal unik dalam pengalaman ana adalah keistimewaan kota Mahato.

Setiap bulan, biasanya ustadz yang ada di Ma’had tempat kami PKL mendapatkan jadwal untuk mengisi taklim di sana. Dan seringnya di antara kami pasti ada yang menemani ustadz mengisi taklim. Nah kalau jadwal taklim nya ke sana waktu tempuh kami selama tiga hari.

Alhamdulillah ana mendapatkan pengalaman menemani ustadz safari dakwah ke Mahato, biasanya kalau perjalanan jauh kami menggunakan mobil, namun safar ke Mahato ini kami menggunakan sepeda motor. MasyAllah letih dan lelahnya sungguh terasa.

Pukul 13.30 kami berangkat menuju Mahato, perjalanan jauh harus kami tempuh, ustadz memperkirakan waktu yang kami tempuh akan sedikit melelahkan yakni sekitar 4 sampai 5 jam. Terbayang di benak ana betapa jauh dan lelahnya perjalanan ini ditambah tas yang harus kami panggul. Pundak dan punggung capek dirasa, menurutku inilah arti pengalaman. Rasa kantuk tak kalah menyerang jiwa, sehingga mencari minuman segar adalah solusi terbaik.

Roda sepeda motor terus berputar, di jalanan tidak ada lampu merah, kecepatan rata-rata 70 sampai 80 km/jam. Kami berhenti di salah satu masjid untuk menunaikan shalat ashar sejenak. Seusai itu kami pun istirahat di depan masjid. Masjidnya enak sekali masyaAllah, berkarpet dan berAC sehingga nyaman dan enak untuk bersantai. Setelah kami merasa cukup, maka perjalanan pun dimulai kembali. Alhamdulillah

Hingga akhirnya sampailah kami di desa yang katanya sudah bagian dari desa Mahato, namun ternyata perjalanan masih jauh juga, hampir satu jam. Sebenarnya yang membuat agak lama adalah kondisi jalan yang kurang memadai, kata orang sih jalan keriting. Alhamdulillah tidak hujan, kalau hujan jalan di sana menjadi lumpur dan susah untuk dilalui.

Tepat pada jam 17.00 WIB, kami tiba di rumah ikhwah untuk beristirahat, karena ustadz akan mengisi taklim di tempat itu dengan membahas kitab Qawaidul Arba’. Yang hadir kurang lebih 10 orang dari masyarakat sekitar yang secara umum masih awam.

Keesokan harinya, tepat setelah subuh taklimkembali diselanggarakan. Dan merupakan taklim terakhir di daerah itu, selanjutnya ustadz akan melanjutkan perjalanannya ke Ujung Tanjung.

Singkat cerita…

Akhirnya kami sampai di Ujung Tanjung dan langsung istirahat sejenak.

Sekitar pukul 16.15 WIB ana dibangunkan ustadz untuk segera mandi dan persiapan karena pukul 17.00 WIB akan ada taklim di rumah tersebut, taklim ummahat sampai maghrib. Kami salat maghrib di masjid dekat situ. Setelah maghrib kami kembali ke rumah bersama ikhwan-ikhwan, kemudian kami salat isya di masjid yang sama. Selepas shalat, taklim di mulai bersama ustadz dengan pembahasan tematik.

Durasi taklim satu jam. Selesai taklim kami dan para ikhwan kembali ke rumah untuk musyawarah tentang berbagai permasalahan yang ada, kira-kira satu jam lah musyawarah nya. Tak lama berlangsung sebagian ikhwah pamitan pulang, dan sisanya tetap berbincang dengan ustadz terkait masalah dakwah yang ada di daerah tersebut. Ustadz selalu menjawab dengan baik, padahal beliau belum makan malam, sedangkan ana hanya terdiam menjadi pendengar setia kala itu sambil menahan lapar yang suuuaangat.

Tepat pukul 00.00 WIB barulah kami makanmalam dengan menu bakso.

Lihatlah saudara semua butuh keseriusan, kesungguhan, kesabaran, serta keistikamahan.

Sejak pagi ustadz memulai persiapan bahkan sejak malam beliau mempersiapkan perbekalan materi. Berangkat pagi sampai daerah Suram, jadi khatib di sana kemudian lanjut perjalanan, sampai Mahato sore hari, setelah maghrib beliau mengisi taklim sampai isya’, setelah isya’ makan malam sambil berbincang-bincang masalah dakwah, kemudian tidur.

Bakda Shubuh taklim dimulai kembali, setelah taklim persiapan dan makan pagi kemudian melanjutkan perjalanan menuju Ujung Tanjung.

Setelah sampai di daerah yang dimaksud, kami istirahat sejenak, karena setelah itu akan ada taklim ummahat sampai maghrib, setelah maghrib kegiatan santai sambil berbincang ringan dengan para ikhwah sampai isya, setelah isya taklim kembali, kemudian dilanjutkan dengan musyawarah terkait masalah dakwah, sampai tengah malam. MasyaAllah.

Coba perhatikan wahai saudara, kegiatan ekstra padat, tidak membuat beliau putus asa, beliau selalu semangat dalam menjalani kegiatan-kegiatantersebut. Berbagai pertanyaan dengan izin dan taufik dari Allah tentunya beliau dapat menjawabnya dengan baik dan tepat.

Ingat, perjalanan yang begitu jauh nan melelahkan. Selama tiga hari di setiap bulannya selalu beliau jalani dengan tegar.

Sesaat setelah makan malam tadi ana mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya kepada ustadz, “ya Allah ustadz kok lama sekali mereka ngobrolnya sampai tengah malam. Kayak gak ta kalau kita kecapean.” maka ustadz pun menjawab, “yah seperti itu lah, mereka sangat butuh terhadap arahan dan bimbingan, begitulah.” Makanya ketika ada ustadz datang bersama mereka dimanfaatkan baik-baik” kemudian beliau melanjutkan nasehatnya, ”makanya antum belajar yang semangat dan disiapkan mentalnya, karena menghadapi mereka membutuhkan mental dan jiwa yang besar.”

Oleh karena itu bersyukurlah kita yang masih diberikan kesempatan untuk belajar agama di ma’had-ma’had ahlus sunnah bersama asatidzah. Alhamdulillah. Orang yang di luar terkadang kesulitan mendapatkan ilmu, oleh karenanya mari kita bersama-sama untuk thalabul ilmi dengan semangat ikhlas dan tabah.

Thalabul ilmi memang berat membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, dan kesalehan niyyat. Yang semoga dengan ini semua menjadi lebih ringan dalam menjalaninya.

Tentunya jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar diberi keistikamahan dalam thalabul ilmi dan jangan bosan untuk slelalu mengulang-ulangnya!

Umat  menunggu dai-dai yang mengajak kepada al-Quran dan as-Sunnah. Jangan berpangku tangan dan menutup mata? Bangkitlah dan berjuanglah! SEMANGAT!!!

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Abu Yasmin berkata:

    Masya Allah… Barokallahufikum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.