Tentang Kursi Allah

 

Oleh Saleh Juman al-Katiri 3B Takhasus

 

Beriman terhadap sifat Allah merupakan salah satu dari makna tauhid kepada Allah. Yaitu bertauhid kepada Allah dengan mengimani bahwa Allah memiliki nama dan sifat. Dalam pengimanan terhadap nama dan sifat Allah, maka prinsip yang digariskan oleh para ulama adalah mengimaninya sesuai dengan nash yang datang dalam al-Qur’an maupun hadis, tanpa adanya takwil maupun tahrif (mengubah makna dari nash), takyif (membagaimanakan/mengilustrasikannya), tamtsil maupun tasybih (menyerupakannya dengan sifat makhluk) dan ta’thil (menolak sifat tersebut).

Ahlussunnah bukanlah kaum musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Bukan pula kaum mujassimah yang menyatakan bahwa wujud dan fisik Allah seperti fisik makhluk-Nya. Sebab, Allah itu tidak serupa dengan makhlu-Nya. “Laisa kamitslihi syai-un wa huwas-sami’ul-bashir” tidak ada yang sesuatupun yang serupa dengan Allah. Dia maha mendengar lagi mah melihat.”

Di antara sifat Allah yang harus kita imani adalah kursi Allah. Berikut pembahasannya.

 

Al-Kursi

Salah satu bentuk keimanan adalah mengimani bahwa Allah Ta’ala memiliki kursi. Sebagaimana telah jelas penyebutan kursi Allah Ta’ala di dalam al-Quran maupun al-Hadis. Lalu apa itu kursi Allah Ta’ala? Dimanakah ia berada? Marilah kita simak penjelasan berikut ini.

 

Pendapat pertama: Kursi Allah Ta’ala berbeda dengan ‘arsy-Nya

Kursi Allah Ta’ala berbeda dengan ‘arsy-Nya. Ini adalah pendapat yang benar. Bahkan ‘arsy Allah Ta’ala lebih besar dari kursi-Nya, berdasarkan sabda Nabi shallallhu’alaihi wa sallam:

 

ما السموات السبع والأراضون السبع وما بينهن وما فيهن في الكرسي إلا كحلقة ملقاة بأرض فلاة، وإن الكرسي بما فيه بالنسبة إلى العرش كتلك الحلقة في تلك الفلاة

“Langit yang tujuh dan bumi yang tujuh jika dibandingkan dengan kursi Allah, bagaikan lingkaran gelang yang dilemparkan ke hamparan bumi yang luas. Demikian pula perbandingan kursi dengan ‘arys.” (Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam shahihnya, 109)

 

Krtitikan para ulama terhadap dalil di atas

Namun hadis ini terdapat beberapa kritikan:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (399/5), dari jalur Ibnu Zaid dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Berkata asy-Syaikh Yasin al-‘adeni rahimahullah: “Ibnu Zaid adalah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Beliau tidak mendengar dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, yaitu sanad nya terputus.”
  • Diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi dalam kitabnya al-Asma’ was-Shifat (299-300/2) dan Abu Nuaim dalam kitabnya al-Hilyah (1/168), dengan jalur yang berbeda. Dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Yahya bin Sa’id. Berkata al-Uqaily dalam kitab ad-Di’afa’: “Beliau (Yahya bin Sa’id) tidak menyetujui / menyelidiki hadis tersebut, dan beliau bukan perawi yang terkenal penukilannya.”
  • Di dalamnya terdapat ‘an’anah Ibnu Juraij.
  • Berkata adz-Dzahabi dalam kitab nya al-‘Ulu, hal:90. : ”Kabar tersebut munkar (ditolak).”
  • Al-Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari jalur yang lain. Dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk (ditinggalkan), yaitu Ibrahim bin Hisyam al-Ghassani sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mizan.
  • Dan Ibnu Murdawaih sebagaimana dalam tafsir Ibnu Katsir: “Pada sanadnya terdapat perawi bernama Muhammad bin Abi Asirry.” Berkata asy-Syaikh Muqbil pada tahqiqnya dalam at-Tafsir (571/1): ”Beliau seorang yang dha’if (lemah). Adapun Abdullah bin Wahb al-Ghazi dan al-Qasim bin Muhammad, saya tidak mendapati biografi nya.”

 

Berkata asy-Syaikh Yasin rahimahullah: “Adapun Abdullah bin Wahb al-Ghazi beliau termasuk gurunya at-Thabari.” Al-Haitsami menyebutkannya dalam kitab al-Mujm’a (471/1).

 

Pendapat kedua: Kursi Allah Ta’ala adalah ‘arsy-Nya

Adapun pendapat yang mengatakkan bahwa kursi Allah Ta’ala adalah ‘arsy-Nya, merupakan pendapat yang datang dari al-Hasan al-Basri diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (399/5). Namun padanya juga terdapat dua periwayatan:

  • Syaikhnya Ibnu Juraij: Al-Matsna yaitu Ibnu Ibrahim al-Amuli. Berkata asy-Syaikh Ahmad Syakir dan juga as-Syaikh Muqbil: “Beliau tidak menunjukkan biografinya.”
  • Juaibir yaitu Ibnu Said al-Azdi, seorang perawi yang dha’if jiddan (sangat lemah). (Lihat: At-Taqrib).
  • Berkata Ibnu Katsir: “Ini tidak sahih dari Hasan.” (Al-Bidayah wannihayah, 1/11)
  • Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya: “Yang benar bahwa ‘arsy bukan kursi.”
  • Berkata Syaikhul Islam: “Ini merupakan pendapat mayoritas.” (lihat: Al-Fatawa, 585/6)

 

Kursi merupakan tempat dua kaki Allah Ta’ala memijak

Dan hadis yang menyatakan bahwa kursi merupakan tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala memijak, datang dengan sanad yang marf’u (sampai kepada Rasulullah shallallhu’alaihi wa sallam) dan sanad yang mauquf (hanya sampai kepada sahabat). Yaitu Ibnu Abbas dan Abi Musa radhiyallahu ‘anhuma.

Adapun hadis Ibnu Abbas dikeluarkan oleh beberapa ulama:

  • Abdullah bin Ahmad dalam kitabnya as-Sunnah hal. 172.
  • Ibnu Abi Hatim dalam at-Tafsir (2/491)
  • Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid (hal. 71).

Dan yang lainnya seperti: Al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Batthah, ad-Darimi dan ath-Thabari. Periwayatan ini disahihkan oleh al-Azhari, adz-Dzahabi, al-Haitsami, al-Albani, dan al-Wadi’i.

Adapun periwayatan Abu Musa dikeluarkan juga oleh beberapa ulama, seperti at-Thabari dalam tafsir nya (5/398) dan al-Baihaqi (859). Namun kesimpulannya periwayatan Abu Musa adalah munqat’i (terputus), sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syaikh Yasin rahimahullah.

 

Periwayatannya secara marfu’

Adapun hadis yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) terdapat periwayatan dari beberapa sahabat:

  • Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dikeluarkan oleh Ibnu Murdawaih sebagaimana dalam tafsir Ibnu Katsir terdapat perawi yang bernama Hakam bin Zhahir al-Fazari, berkata Ibnu Katsir: Beliau perawi yang matruk (ditinggalkan).
  • Dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, marf’u dan di akhir hadis terdapat lafal (kursi merupakan tempat dua kaki allah memijak) namun sanadnya munqat’i (terputus).
  • Dari sahabat Ibnu Abbas dan sanadnya sahih.

Hadits yang datang dari Ibnu Abbas ini menunjukkan bahwa kursi Allah Ta’ala merupakan tempat dua kaki Allah Ta’ala memijak. (Disahihkan oleh al-Albany rahimahullah dalam Mukhtashar al-‘ulu, 45).

 

Kesimpulan

Pendapat yang lebih tepat pada permasalah ini adalah:

  • Kursi Allah Ta’ala berada di ‘arsy-Nya.
  • Kursi Allah Ta’ala adalah tempat dua kaki Allah Ta’ala berpijak.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Zamanain dalam Ushulus sunnah, (96).

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.