☕️ Adab Mulia di Balik Secangkir Kopi

Bakda Maghrib, suasana di Posko PKL-SPN terasa hangat penuh semangat. Kami berpencar menjadi beberapa tim, menyebar ke delapan RT yang ada di Gondang. Salah satu tim berkunjung ke RT 04 Gondang Bawah, kediaman Pak Niryan—seorang guru gaji di musalla setempat.

Dari warga, kami mendengar bahwa beliau sedang mengajar anak-anak selepas shalat Maghrib. Namun betapa kagumnya kami ketika beliau rela meninggalkan kegiatan mengajarnya demi menjamu kedatangan kami. Dengan penuh ketulusan, beliau menyambut kami dan menghidangkan suguhan khas masyarakat Madura: seteko kopi yang disajikan bukan dalam cangkir, melainkan piring kecil. Sekaligus ditemani kacang, kerupuk, dan roti yang beliau beli dari warung sebelah.

Obrolan hangat pun tercipta, dan di balik kesederhanaan itu kami belajar banyak tentang adab mulia: bagaimana memuliakan tamu walau tak dikenal, bagaimana menghargai kedatangan orang lain dengan sepenuh hati. Itulah pelajaran berharga yang membekas dalam hati kami.

Dengan kesan, kami pun pamit, membawa oleh-oleh berupa keteladanan yang tak ternilai. Memuliakan tamu merupakan adab yang dicontohkan sejak zaman Nabi Ibrahim saat memerintahkan istrinya menyembelih seekor anak sapi untuk menyambut tamu tak dikenalnya. Lebih-lebih lagi sangat ditegaskan dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses