🌱Dari Rumput Gajah ke Rumput Jepang, Dari Tolong-Menolong ke Keteladanan Umar bin Abdul Aziz

Sore itu, di halaman masjid, ada satu setengah karung berisi rumput gajah—rumput yang awalnya kami niatkan untuk menghijaukan pekarangan masjid. Namun siapa sangka, ternyata bukan itu jenis rumput yang seharusnya kami gunakan.

Seorang jamaah masjid, Pak Rohemi, datang mendekat dan bertanya ramah, “Isinya apa, dek?”
“Rumput gajah, Pak,” jawab kami.

Beliau tersenyum lalu menjelaskan, “Kalau rumput gajah di sini, dek, biasanya malah disemprot, karena dianggap hama di kebun. Kalau mau yang bagus untuk halaman masjid, ambil saja rumput yang daunnya pendek-pendek.”

Kami pun menimpali, “Maksudnya rumput Jepang, ya Pak?”
“Iya, betul. Kalau mau, bisa ambil di masjid Sumber Bulus. Di sana banyak,” sarannya dengan ringan.

Selepas itu juga, dengan semangat yang masih menyala, kami bergegas menindaklanjuti saran beliau. Bermodal dua arit dan satu karung, kami berdua—saya dan seorang teman dari Ambon—meluncur menuju masjid Sumber Bulus. Kami menempuh jalan pintas, sehingga waktu perjalanan hanya sekitar lima belas menit.

Sesampainya di sana, udara terasa sejuk dan tenang. Masjid kecil itu tampak rapi, dikelilingi hamparan rumput hijau yang menyejukkan pandangan. Saat kami tiba, beberapa warga memperhatikan kedatangan kami. Dengan sopan, kami mengucap salam, berjabat tangan, memperkenalkan diri sebagai santri PKL-SPN 2025, serta menjelaskan maksud kedatangan kami: mencari rumput Jepang untuk halaman masjid.

Rupanya, mereka sudah mengenal kami dari kegiatan sebelumnya. Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyambut hangat. Seorang bapak yang ternyata adalah Pak Mai, RW setempat, segera mengambil arit dan ikut mengarit bersama kami. Seorang warga lain pun turut membantu. Tak butuh waktu lama, satu karung penuh rumput Jepang berhasil kami kumpulkan.

Kami pun berpamitan sambil berkata, “Matur sakalangkong sebanyaaak-banyak, Pak! -terima kasih banyak-” Mereka tersenyum lebar. Kami pulang dengan hati lega—bukan hanya karena membawa rumput Jepang, tapi juga karena membawa pelajaran tentang ketulusan dan kebersamaan.

Kami sadar, rumput itu hanyalah simbol kecil dari semangat gotong royong yang lahir dari kepedulian. Kami yang datang sebagai tamu, justru mendapat bantuan tulus dari orang-orang yang baru kami kenal. Sungguh, kebaikan tidak menunggu kedekatan—cukup niat tulus untuk membantu sesama.

Peristiwa sederhana ini mengingatkan kami pada keteladanan Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, lampu minyak padam. Raja’ bin Ḥaiwah—sahabat beliau—berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau menyuruh pelayan untuk menuangkan minyak?”

Beliau menjawab, “Pelayanku sudah bekerja seharian, biarlah ia beristirahat.”

Raja’ pun menawarkan diri, namun Umar menolak, lalu bangkit sendiri menyalakan lampu. Setelah itu beliau berkata,

“قُمْتُ وَأَنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَرَجَعْتُ وَأَنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، يَا رَجَاءُ، إِنَّهُ لَيْسَ مِنَ مُرُوءَةِ الرَّجُلِ اسْتِخْدَامُ ضَيْفِهِ.”

Aku berdiri sebagai Umar bin Abdul Aziz, dan kembali pun tetap sebagai Umar bin Abdul Aziz. Wahai Raja’, tidak termasuk kemuliaan seorang lelaki bila ia menyuruh tamunya melayaninya.” (Az-Zuhd lil Imam Ahmad).

Begitulah makna luhur yang kami rasakan di Sumber Bulus. Seperti Umar bin Abdul Aziz yang menolak membebani tamunya, Pak Mai pun tak tinggal diam melihat kami bekerja. Ia ikut turun tangan tanpa diminta, menunjukkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada jabatan atau kedudukan, melainkan pada kesediaan membantu sesama dengan hati yang ikhlas.

Dari rumput Jepang itulah kami belajar, bahwa menanam kebaikan akan selalu membuat lingkungan—dan hati manusia—menjadi lebih hijau, lebih sejuk, dan lebih hidup -biiznillah. 🌿

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses