🍃Potret Masyarakat Gondang Mengajari Kita Agar Punya Syukur yang Lapang

Dari jam 10 malam, warga laki-laki Gondang dan Sumber Bulus sudah berangkat ke kebun karet untuk menyadap. Dalam semalam, terkadang puluhan pohon sudah selesai mereka sadap hingga pukul 3 dini hari.

Belum sempat beristirahat lama, pukul 05.15 giliran ibu-ibu yang berangkat ke kebun. Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu melakukan apel pagi. “Tumbuh, Juara, Bangun Negeri!” seru mereka dengan penuh semangat. Di antara mereka, ada yang sudah sepantasnya menikmati masa istirahat di rumah, namun keadaan hidup menuntut mereka untuk terus berusaha mengais rezeki.

Mereka bekerja dari jam 05.15 hingga jam 11.00 siang. Dalam kurun 15 hari, upah yang mereka terima hanya Rp250.000, jumlah yang tentu saja belum mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Akhirnya, selepas dari perkebunan karet, mereka juga menggarap kebun kopi untuk menutup kekurangan nafkah keluarga.

Kehidupan warga Gondang mengajarkan kita tentang semangat, kerja keras, dan kesabaran dalam menghadapi keterbatasan. Mereka adalah teladan dalam berjuang dan tidak pernah mengeluh, meskipun hasil yang didapat tidak sebanding dengan lelah yang mereka keluarkan.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ • وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan.” (QS. An-Najm: 39–40)

Rasulullah ﷺ pun bersabda,

ما أكلَ أحدٌ طعامًا قطُّ ، خيرًا من أنْ يأكلَ من عمَلِ يدِهِ وإنَّ نبيَّ اللهِ داودَ كان يأكلُ من عمَلِ يدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri. Dan sungguh Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
Harapannya dengan mengetahui fakta kehidupan Masyarakat gondang, menumbuhkan benih-benih sifat qana’ah di hati para santri PKL khususnya dan para pembaca sekalian.

اللَّهُمَّ إنّا نسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
Ya Allah, kami meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat’ iffah dan merasa cukup.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses