Adab Bersedekah, Keutamaan dan Rahasianya (bag.2)

3 hal

Oleh Abdul Halim Perawang 4A Takhasus

 

Pembaca, kita akan melanjutkan pembahasan terkait dengan sedekah. Pada bagian 2 ini kita akan membahas adab-adab dalam bersedekah. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya. Amiin.

Adab-adab dalam bersedekah

Pembaca hafidzakallah yang kami cintai,

Diantara tugas-tugas pendamba akhirat dari sedekahnya adalah:

Pertama, memahami tujuan bersedekah. Tujuannya ada tiga:

  1. Sebagai ujian bagi mereka yang mengaku cinta kepada Allah dengan mengorbankan kecintaannya (harta).
  2. Menyucikan jiwa dari sifat bakhil (kikir) yang mencelakakan.
  3. Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat harta.

Kedua, memberikan sedekah secara sembunyi-sembunyi agar terhindar dari sifat riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar).[1]

Hal ini selaras dengan sabda Nabi tentang tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat kelak, diantaranya:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Dan seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.” (HR. Bukhari no.660 dan Muslim no.1031)

Ketiga, tidak merusak pahala sedekah tersebut dengan mengungkit-ungkit pemberiannya  dan menyakiti perasaan orang yang menerima. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaan si penerima). Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu diguyur hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).” (QS. al-Baqarah: 264)

Keempat, menganggap kecil pemberiannya. Karena biasanya orang yang mengganggap besar pemberiannya akan ditimpa sifat ‘ujub (bangga diri).

Tugas kelima, memilih harta yang paling halal, paling bagus, dan paling dicinta untuk disedekahkan. Adapun harta yang halal karena:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang thayyib (halal dan baik).” (HR. Muslim no.1015)

[1] Namun jikalau sang pesedekah menampakkan amalannya dengan tujuan motivasi atau teladan yang baik, maka hal ini pun tak mengapa. Dengan tetap memperhatikan niatan kalbu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.