Akhlak jahiliah: berbangga dengan jumlah

 

Oleh Abu Zaidan Yusuf Takhasus

 

Jumlah dan pengikut bukanlah dalil akan kebenaran suatu amalan. Barometer kebenaran itu berasal dari Allah Ta’ala yang Maha Adil dan Maha Benar. Adapun manusia, berapapun banyaknya mereka, berapapun orang yang melakukan, tetaplah tidak menunjukkan benarnya keyakinan dan perbuatan mereka.

 

Akhlak jahiliah

Mari kita perhatikan, di antara peyelewengan orang-orang jahiliyah dahulu yang tercela dalam syariat Islam adalah anggapan bahwa kebenaran itu bersama jumlah yang banyak atau mayoritas. Apa yang diyakini sebagai kebenaran oleh mayoritas orang, itulah yang dianggap benar. Adapun yang tidak dilakukan mayoritas orang, maka dianggap salah.

Sedangkan minoritas dianggap salah, asing, aneh, dan nyeleneh. Mereka berbangga dengan besarnya anggota, banyaknya pengikut dan menganggap salah setiap lawan yang tidak memiliki jumlah yang banyak. Subhanallah, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata menggambarkan tentang keadaan kebanyakan manusia:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Apabila engkau menuruti kebanyakan orang-orang yang berada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah mengabarkan kondisi penduduk muka bumi dari keturunan Adam, sesungguhnya mereka barada dalam kesesatan.” (Tafsir al-Qur’an al-Adzim 3/322)

 

Barometer kebenaran

Sehingga tidak tepat untuk menetapkan kebenaran sebuah perkara karena melihat mayoritas orang yang mengikutinya. Justru mayoritas manusialah yang condong kepada kesesatan. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tatkala menjelaskan tentang orang-orang yang mengikuti Nabi Nuh ‘alaihis salam dalam penggalan ayat-Nya:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Tidak ada yang beriman kepada Nuh, kecuali sangat sedikit.” (QS. Hud: 40)

Begitu pula betapa banyak para Rasul yang sedikit jumlah pengikutnya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Ditampakkan untukku umat-umat terdahulu, maka aku lihat ada seorang Nabi bersamanya antara 3-9 pengikut. Ada juga Nabi yang bersamanya hanya satu atau dua orang, dan seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut satupun.” (HR. Muslim no. 220)

 

Apabila telah jelas bahwa jumlah bukanlah penentu kebenaran, lalu dengan apakah kita menetapkan kebenaran? Jawabannya addalah firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikian itu karena Allah adalah sesembahan yang berhak. Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itu bathil. Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Haj: 62)

 

Allah Yang Maha benar janji-Nya, agama-Nya adalah agama yang benar. Sehingga tidak ada kebenaran kecuali dari-Nya. Walaupun dalam mengikuti kebenaran, kita hanya berjumlah segelintir. Namun kebenaran, tetaplah kebenaran. Tidak memandang kepada mayoritas pendapat manusia.

Kita juga perlu melihat kepada dalil dalam al-Qur’an tentang sediktinya para pengikut keberanan dan terasingnya mereka. Bersamaan itu ,besarnya keutamaan pahala orang yang memegang kebenaran tersebut. Maka bangga diri karena banyaknya pengikut, bangga karena banyak pendukung dan bangga karena banyaknya orang yang melakukannya adalah termasuk akhlak jahiliyyah yang tercela.

 

Penutup

Sebagai penutup, marilah kita perhatikan ucapan sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

لا يكن أحدكم إمعة يقول أنا مع الناس ليوطن أحدكم على أن يؤمن ولو كفر الناس

“Janganlah seorang dari kalian bersikap sembarangan dengan mengatakan: ‘Aku bergabung dengan arus manusia saja.’ Hendaknya ia melatih diri untuk beriman, walaupun orang-orang telah kafir.” (Madarijus Salikin)

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita agar mengikuti kebenaran, walaupun sedikit penganutnya dan memberikan taufik-Nya agar kita tidak tersilaukan dengan mayoritas. Amin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.