Belajar Sabar Menghadapi Gangguan Orang Lain (bag. 2)

Keempat, Meyakini bahwa kalau dia mau memaafkan dan tetap berbuat baik, maka hal ini akan melahirkan sifat terpuji berikutnya yaitu hatinya selamat dan bersih dari dendam, dengki, dan niatan untuk balas dendam dan berbuat jelek terhadap saudaranya. Ia pun akan merasakan manisnya sifat pemaaf yang dengan itu ia akan mendapatkan manfaat yang  jauh lebih baik dan berlipat daripada manfaat yang diperoleh kalau ia berupaya untuk membalas dendam. Ia termasuk ke dalam firman Allah ta’ala,

والله يُحِبُّ اَلْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran: 134)

Sehingga ia pun dicintai oleh Allah. Keadaan dia seperti seorang yang diambil hartanya satu dirham, kemudian mendapatkan ganti beribu-ribu dinar. Ketika itulah ia bergembira dengan pemberian Allah kepadanya.

Kelima, Mengetahui bahwasanya tidaklah seseorang berupaya membalas dendam kecuali hal itu akan menyebabkan kerendahan pada dirinya sendiri. Jika dia mau memaafkan, Allah ta’ala akan muliakan dia. Inilah yang dikabarkan oleh Nabi ash-shadiqul mashduq dalam sabdanya,

ما زاد الله عبدًا بعَفْوٍ إلاّ عزًّا

“Tidaklah Allah menambahkan untuk seorang hamba dengan sebab pemberiaan maaf dia kepada orang lain kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Kemuliaan yang didapatkan karena sikap pemaaf lebih disenangi dan lebih bermanfaat untuknya daripada kemuliaan yang didapatkan karena balas dendam, karena ini adalah kemuliaan yang bersifat lahiriah saja, namun pada batiniahnya justru melahirkan kehinaan dan kerendahan. Adapun pemberian maaf itu secara batiniah rendah dan hina, namun justru akan melahirkan kemuliaan lahir dan batin.

Keenam, mengetahui dan meyakini bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amalannya, dia sendiri merasa bahwa dirinya zhalim dan banyak dosa. Barangsiapa yang mau memaafkan orang lain, maka Allah pun akan memberikan maaf kepadanya. Barangsiapa yang mau memberikan ampun kepada manusia, maka Allah pun akan memberikan ampunan kepadanya.

Jika dia telah mengetahui bahwa pemberiaan maaf, toleransi, dan kebaikan dia kepada orang lain ketika orang lain tersebut berbuat kejelekan padanya merupakan sebab diperolehnya balasan (ganjaran) yang setimpal dari Allah, maka ia pun akan mudah untuk memberi maaf, toleransi, dan tetap berbuat baik walaupun orang lain berbuat salah padanya. Cukuplah hal ini sebagai nasehat dan faedah bagi orang yang berakal.

Bersambung Insya Allah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.