Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Bolehkah berharap kematian?

 

Oleh Ahmad Zaid Cilacap Takhasus

 

Kematian memang sebuah ketetapan yang tak terelakkan. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Demikian Allah Ta’ala tegaskan dalam firman-Nya,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran: 185)

Realita yang ada juga membuktikan ketetapan Allah pada manusia ini. Islam sebagai agama yang sempurna telah menjelaskan secara detail konsep mu’amalah muslim dalam menghadapi kematian.

 

Larangan mengharap kematian

Di dalam agama islam seseorang dilarang untuk meminta dan mengharapkan kematian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ

”Janganlah sekali-kali seseorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Yang demikian ini tiada lain dengan mengharap kematian karena ketidaksabarannya menghadapi musibah mengandung sekian banyak kerugian dan marabahaya. Padahal setiap insan dihasung untuk selalu bersabar dalam menghadapi musibah.

 

Sikap tepat dalam menghadapi musibah

Semestinya seorang hamba ketika menghadapi suatu musibah menjaga lisannya dari hal yang terlarang, bertaubat, dan beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangkali musibah itu terjadi sebagai sebuah peringatan atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

Salah satu sikap yang harus dilakukan oleh penyabar adalah mengucapkan kalimat istirja “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah, dan hanya kepada-Nya lah kami kembali). Apabila kalimat istirja tersebut dihayati maknanya, maka akan mendukung kesabaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengharap kematian bertolak belakang dengan sifat sabar.

 

Dampak negatif mengharapkan kematian

Mengharapkan kematian hanya akan melemahkan jiwa dan memunculkan keputusasaan, padahal hamba dituntut untuk selalu bersemangat menjalani hidup ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Dengan demikian akan datang dua anugerah Allah Ta’ala, yaitu pertolongan dan kelembutan-Nya kepada hamba yang telah menempuh sebab-sebab yang diperintahkan, serta usaha bermanfaat yang mendorong hamba itu untuk memiliki sifat raja’ (berharap) yang baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Akhir kata

Dengan demikian seorang  hamba wajib menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan hanya bertawakkal kepadanya. Karena hanya Allah Ta’ala lah yang mengetahui segala sesuatu dan mengetahui kesudahan yang baik ataupun buruk pada semua urusan hamba-hambanya. Wallahu a’lam.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.