Coretan Kuas Biru Putih, Agar Masjid Dilirik Hati
Suasana PKL tahun ini terasa berbeda dari sebelumnya. Kami, para santri yang berjumlah sekitar tiga puluh tiga orang, ditempatkan di Afdeling Gondang. Bukan hanya untuk belajar tentang masyarakat, tapi juga untuk menyalakan semangat menghidupkan masjid dan musalla yang ada di sekitar. Ada empat titik utama yang menjadi tempat kami beribadah — 3 musalla dan 1 masjid.
Kami sadar, kami bukanlah tukang cat profesional, bukan pula teknisi bangunan. Kami hanyalah santri yang membawa niat baik: ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat. Di setiap musalla dan masjid, kami berpencar menjadi tim-tim kecil. Ada yang bertugas di Musalla al-Mukim, ada yang di Baitul Amin, ada yang di al-Mustaqim, dan sebagian di Masjid Baitul Arqam. Warga sekitar pun turut membantu, memberi semangat, bahkan menyediakan makanan dan air di sela-sela kerja kami. Sungguh, ukhuwah itu tumbuh bukan hanya dari nasihat, tapi juga dari peluh yang sama.
Kini, genap dua pekan lebih kami tinggal di Gondang. Di minggu-minggu awal, kami banyak belajar menyesuaikan diri—dengan suasana, dengan warga, dan pekerjaan mereka. Namun di minggu ketiga, tibalah saatnya kami mulai berbuat nyata. Seperti mahasiswa KKN yang sudah mulai menjalankan program kerja mereka, kami pun menyiapkan proker yang bermanfaat: memperbaiki dan meremajakan rumah-rumah Allah di sekitar.
Empat rumah Allah menjadi saksi semangat itu.
Di Musalla al-Mukim, kami memperbaiki genteng dan mengecat masjid luar dalam. Rencana selanjutnya adalah membuat pagar, rak sandal, rak buku, dan mengganti pintu kamar mandi—semoga Allah mudahkan.
Di Musalla Baitul Amin, kami mengecat pagar, tembok, dan bak tempat wudu.
Di Musalla al-Mustaqim, cat biru putih mulai menghiasi dinding, menggantikan warna kusam yang lama.
Dan di Masjid Baitul Arqam, kami meremajakan taman agar jamaah merasa lebih nyaman saat datang ke masjid.
Kami ingin masjid dan musalla kembali hidup, terutama di waktu Zuhur dan Ashar yang kadang sepi jamaah. Sebab kami yakin, ketika rumah Allah dirawat, maka hati pun ikut dirawat. Saat cat baru menempel di dinding, semangat ibadah pun terasa ikut diperbarui. Semua ini bukan semata karena tugas PKL, tapi karena kami ingin sedikit membalas kebaikan warga yang telah menerima kami dengan tangan terbuka.
Dengan peralatan sederhana dan tenaga yang terbatas, kami bekerja bersama. Ada yang memanjat atap mengganti genteng, ada yang memegang kuas, ada pula yang membersihkan taman. Warna cat yang kami pilih adalah biru putih—palet warna khas logo PKL-SPN—sebagai tanda kebersamaan dan semangat kami. Meski hasilnya mungkin belum sempurna, tapi setiap tetes keringat itu adalah doa agar Allah menilai usaha kecil ini sebagai bagian dari dakwah dan amal kebaikan kami.
Dari genteng yang diperbaiki hingga taman yang dihijaukan ulang, kami belajar bahwa menghidupkan masjid bukan hanya tentang memperbaiki bangunannya, tapi juga meramaikan masjid tersebut dengan ibadah. Ibnu Katsir rahimahullah mengingatkan,
وليس المراد من عمارتها زخرفتها، وإقامة صورتها فقط؛ إنما عمارتها بذكر الله فيها، وإقامة شرعه فيها، ورفعها من الدنس والشرك.
“Bukanlah yang dimaksud dari memakmurkan masjid hanya sekadar menghiasinya dan membangun fisiknya saja. Hakikat sebenarnya dari memakmurkan masjid adalah dengan zikrullah, menegakkan syariat Allah padanya, dan membersihkannya dari kotoran dan kesyirikan.” (Tafsir Ibnu Katsir).


