Geliat Santri Saat Muhadharah Telekonferensi di Ma’had Minhajul Atsar

 

Oleh Tim Reportase Santri

 

Selasa 8 Jumadil Akhirah kemarin, walhamdulillah kembali terselenggara muhadharah telekonferensi bersama ulama ahlus sunnah di Ma’had Minhajul Atsar Jember. Ini bukan kali pertama ma’had mengadakan telekonferensi muhadharah bersama para ulama. Sebelumnya telah berlalu pula muhadharah telekonferensi bersama masyaikh lainnya.

Yang melatar belakangi diadakannya muhadharah-muhadharah tersebut adalah, keinginan para asatidz, pengurus, dan juga para santri untuk selalu terhubung dengan ulama. Ya, karena mereka adalah pelita umat, mereka adalah pengemban dakwah para Nabi. Di bawah bimbingan merekalah terletak keselamatan akidah dan manhaj umat ini. Merekalah yang mengarahkan umat untuk mengikuti kitab suci dan petunjuk Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Mendengarkan suara para ulama yang menyampaikan ilmu, menjadi kenikmatan tersendiri bagi para santri. Ber-talaqqi langsung dengan mereka -walaupun melalui media telekomunikasi-, merupakan kesenangan tiada tara yang membuat iri para raja. Pantaslah jika seorang ulama mengatakan:

لَوْ عَلِمَ ‌الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ ‌الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ مِنَ النَّعِيمِ لَجَالَدُونَا ‌بِالسُّيُوفِ

“Sekiranya para raja dan pangeran-pangerannya mengetahui kenikmatan yang kita rasakan, niscaya mereka akan mencambuk kita dengan pedang.” (al-Bidayah wan Nihayah 13/501)

Telekonferensi Syaikh Yahya di Ma'had Minhajul Atsar

Poster Muhadharah Buatan Santri (Takhasus Desain)

Muhadaharah telekonferensi kali ini bertemakan:

وَقَفَات مَعَ قَولِ اللهِ تَعَالَى: {وَلاَ تَلْبِسُوا الحَقَّ بِالبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الحَقَّ وَأَنْتُم تَعْلَمُون}

Dengan pemateri asy-Syaikh Yahya bin Ali an-Nahari hafizhahullahu Ta’ala.

 

Geliat Santri Menjelang Muhadharah Telekonferensi di Ma’had Minhajul Atsar

Meski baru mulai bakda magrib, namun geliat santri yang menyiapkan muhadharah ini sudah tampak sejak siang harinya. Teriknya matahari siang plus gerahnya cuaca ketika itu, tak menghalangi para santri (Tim Tasjilat misalnya) untuk mempersiapkan perekaman, siaran, maupun media penghubung dengan Syaikh secara totalitas dan penuh antusias.

Begitu pula Tim Sarpen, mereka tak ketinggalan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana prasarana muhadharah telah mereka siapkan sejak siang itu juga. Genset -untuk antisipasi listrik padam ketika muhadharah- telah mereka letakkan di serambi depan masjid. Begitu pula lentera dan penerangan di dalam masjid yang akan menemani para santri ketika mereka menggoreskan pena, tak luput dari pengecekan Tim Sarpen.


Baca Juga: Muhadharah Santri, Momen Berbagi Faedah di Masa Pandemi


Sore hari pun tiba, pancaran sinar mentari mulai terlihat pudar di angkasa sana. Namun Tim Tasjilat masih terus semangat bekerja, demi mematangkan persiapan muhadharah sampai sempurna.

Lihatlah, ternyata Tim Tamu juga ikut serta. Sifat terpuji tak mau kalah dalam hal kebaikan mendorong mereka untuk tidak mau kalah dengan tim-tim lainnya. Bagian mereka adalah untuk mempersiapkan tisu, hand sanitizer, segelas air putih, sekotak masker, dan perlengkapan muhadharah lainnya yang harus dipastikan telah siap di tempatnya sebelum salat magrib. Mengingat, tak ada lagi waktu bagi mereka untuk mempersiapkannya setelah salat.

Walhamdulillah, sebelum azan berkumandang semua persiapan muhadharah telah selesai dilakukan.

 

Berlomba dalam Kebaikan

Tepat pukul 18.10 di bagian depan masjid, dua meja telah siap dengan balutan kain hijau yang membingkainya. Meja untuk Ustadz Luqman Baabduh sebagai muqaddim telah siap dengan mikrofon yang terhubung kepada Syaikh Yahya an-Nahari melalui media telepon. Begitu pula meja al-Ustadz Ruwaifi’ sebagai penerjemah, telah siap dengan lembaran kertas dan beberapa pucuk pena, hafizhahumullahu jami’an.

Para santri juga telah menggenggam pena, bersiap mengabadikan mutiara-mutiara faedah yang akan disampaikan oleh asy-Syaikh Yahya hafizhahullah. Santri-santri belia dari lembaga Tahfizh, mereka berlomba mendekat ke arah meja. Membuat kakak-kakak kelasnya dari lembaga Takmili dan Takhasus turut bersemangat mencari-cari celah di barisan terdepan. Masya Allah, suasana perlombaan yang hakiki mengejar kemuliaan ilmu agama.

 

Sedikit Gangguan Sinyal

Setelah al-Ustadz Luqman Baabduh menyampaikan kata pembuka, beliau pun mempersilahkan asy-Syaikh Yahya untuk memulai muhadharah. Rentetan faedah dan hikmah segera meluncur dari lisan beliau. Di antara yang beliau sebutkan adalah, wajibnya menjelaskan al-Haq dan memisahkannya dari kebatilan.

Beliau juga menyampaikan faedah-faedah lainnya seputar ayat yang menjadi tema muhadharah ini. Andai kiranya kaum muslimin (terkhusus salafiyyin) mendengarkan faedah-faedah tersebut lalu mengamalkannya, niscaya akan tercipta lingkungan yang nyaman dan damai.

Telekonferensi di Ma'had Minhajul Atsar

Termasuk tugas Tim Tamu, menyiapkan snack dan konsumsi untuk panitia

Tepat pukul 18.50, asy-Syaikh telah selesai memberikan muhadharah. Selepas itu, salat isya ditegakkan dengan durasi yang lebih singkat dari biasanya, hal ini bertujuan agar sesi terjemah bisa mulai tepat pada pukul 19.45 WIB.

Walhamdulillah, secara umum kajian ini berjalan lancar. Walaupun, sempat terjadi gangguan sinyal ketika sesi muhadharah, yang menyebabkan beberapa kalimat tak terdengar jelas. Namun materi kajian tetap bisa terpahami dengan baik.

 

Generasi Penerus Bangsa

Waktu telah menunjukkan pukul 21.30 ketika sesi terjemah selesai. Angin malam mulai berhembus, masjid yang semula ramai, berangsur sunyi seiring berputarnya jarum jam. Menyisakan beberapa santri yang masih berjuang untuk merapikan dan membersihkan masjid pasca muhadharah.

Mereka itulah Tim Masjid, keheningan malam tak menghalangi mereka untuk tetap bertugas. Seusai muhadharah, setelah semua hadirin bubar, mereka berjuang merapikan meja-meja setelah sebelumya mereka berjuang menahan kelopak mata agar tetap terbuka selama muhadharah berlangsung.

 

Demikianlah sekilas gambaran semangat para santri dalam menyambut muhadharah telekonferensi semacam ini di Ma’had Minhajul Atsar Jember. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi orang-orang berjiwa besar. Mudah-mudahan Allah memberkahi usia muda mereka.

Muhadharah-muhadharah seperti ini, harapannya dapat menyatukan dan mengokohkan ukhuwah salafiyyin di negeri ini. Semoga dengannya Allah menanamkan di hati-hati semua salafiyyin keinginan untuk bersatu dan ber-ta’awun di atas al-Haq. Sehingga kita bisa bersama-sama menghadapi musuh-musuh dakwah yang semakin banyak jumlah dan kekuatannya.

Amin ya Rabbal Alamin.

 

Penulis: Abdullah al-Atsari Jogja, Takhasus.


Artikel Kami: Hukum Musik dan Fatwa Ulama Tentangnya


Untuk Mengunduh Audio Kajian, Klik Link Berikut: Menuju Link Download Audio Muhadharah Telekonferensi Syaikh Yahya an-Nahari dan Terjemahannya


 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.