Indahnya Rihlah Thalabul Ilmi
Semarang, Ahad 01 Rajab 1447 H / 21 Desember 2025 M
Perjalanan panjang selama kurang lebih empat belas jam, penuh dengan lika-liku dan rasa letih, akhirnya mengantarkan kami pada tujuan yang telah lama dinanti. Apa yang menjadi tujuan perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menghadiri sebuah majelis ilmu dalam rangka Daurah Islam Ilmiyah Ahlus-Sunnah Wal Jamaah.
Di mana perjalanan itu berakhir? Di Masjid Al-Iman PUSDIK BINMAS LANDIKLAT POLRI Banyu Biru, Semarang. Sebuah tempat yang pagi itu menjadi saksi berkumpulnya para pencari ilmu. Setibanya di sana, rasa lelah seakan luruh seketika. Sambutan hangat dari para ikhwah, senyum yang tulus, serta ucapan selamat datang menjadi obat penenang setelah panjangnya perjalanan.
Para santri yang datang dengan satu tujuan: menuntut ilmu. Mereka diarahkan menuju sisi timur masjid untuk meletakkan barang bawaan, lalu beristirahat sejenak di halaman masjid. Hidangan pagi pun tersaji—ayam goreng renyah dan sambal geprek pedas—menjadi pengisi tenaga sebelum menapaki perjalanan ilmu yang sesungguhnya.
Waktu terus bergulir. Jarum jam menunjukkan pukul 07.45. Kapan majelis ilmu itu akan dimulai semakin dekat. Para santri pun bergegas menunaikan hajat masing-masing, membersihkan diri, menyiapkan hati dan catatan. Tepat pukul 08.00, acara Daurah Islam Ilmiyah Ahlus-Sunnah Wal Jamaah resmi dimulai. Sang MC membuka acara dengan penuh semangat, menyampaikan susunan acara yang telah dipersiapkan dengan rapi.
Sesi demi sesi pun berjalan dengan tertib ….
Pada sesi pertama (08.30–10.00), Fadhilatul Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullahu Ta’ala menyampaikan tema tentang bagaimana membantah sikap ekstrem dan terorisme, membuka wawasan serta meluruskan pemahaman. Setelah jeda singkat, sesi kedua (10.15–11.30) diisi oleh Fadhilatul Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullahu Ta’ala dengan tema “Nabi Muhammad ﷺ dalam Perspektif Al-Qur’an,” mengajak para santri menatap sosok Rasulullah ﷺ dengan pandangan wahyu.
Usai ISOMA (Istirahat Sholat Makan), majelis kembali dilanjutkan. Sesi ketiga (13.00–14.45) menghadirkan telekonferensi bersama Fadhilatus Syaikh Abdul Ghani bin Hasan ‘Aussat, yang diterjemahkan oleh Ustadz Abu Jundi hafizhahullahu Ta’ala, dengan tema “Bagusnya Hati.” Sebuah penutup yang menyejukkan, mengajak setiap hadirin menata batin sebelum melangkah pulang.
Mengapa rihlah ini begitu bermakna? Karena ilmu tidak hanya didengar, tetapi dicari dengan kesungguhan, ditempuh dengan pengorbanan, dan dijaga dengan catatan. Para santri tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga berusaha fokus mendengarkan dan mencatat faedah demi faedah yang disampaikan. Sebab mereka memahami betul pesan para ulama,
قَيِّدوا العلم بالكتابة
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Bagaimana rihlah ini meninggalkan bekas? Ia tertanam dalam hati dan catatan, menjadi bekal saat kembali ke Ma’had tercinta. Bukan oleh oleh berupa benda, melainkan ilmu yang hidup dan siap diamalkan.
Rihlah thalabul ilmi ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu kota ke kota lain. Ia adalah perjalanan hati menuju cahaya ilmu. Lelah di jalan menjadi saksi kesungguhan, sementara hangatnya kebersamaan menjadi penguat langkah. Setiap majelis yang diikuti adalah batu bata yang menyusun bangunan iman dan pemahaman.
Ilmu yang dicatat akan terus hidup—bukan hanya di lembaran kertas, tetapi dalam amal nyata. Inilah indahnya rihlah thalabul ilmi: perjalanan menuju kedekatan dengan Allah, perjalanan yang meninggalkan jejak kebaikan bagi diri dan umat.


