Jangan Sia-Siakan Masa Mudamu Kawan!

 

Oleh Humam Reza at-Tamimi Tahfizh

 

Akhi fillah, barakallahu fiik.

Waktu akan tetap terus bergulir, terus berputar, mengikuti serta mengejar latar belakang kehidupan manusia. Ia tidak akan pernah berhenti atau terulang kembali. Semua yang telah berlalu hanya dapat kita kenang, menyenangkan ataupun menyedihkan.

Waktu layaknya harta yang tak dapat ditebus seberapa pun banyaknya nilai harta. Karena ia terlalu mulia untuk ditebus dengan itu semua. Oleh karenanya, jangan sampai ia berlalu begitu saja tanpa adanya kesan dan sesuatu yang berarti bagi kita di kemudian hari.

Masa muda kita kawan, adalah masa-masa produktif dan sikap idealis yang begitu tinggi untuk beribadah dan berkarya demi Islam dan kaum muslimin. Relakah kamu, wahai kawan, setelah masa muda kita berakhir, lalu mencoba kembali menerawang ke belakang untuk kita bertanya, “Apa yang telah kuperbuat di masa muda?” Ternyata jawabannya, “Tidak ada hal berarti yang pernah kulakukan.” Tentu, kau tak relakah kawan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ightanim khamsan qobla khomsin.”  “Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima lainnya:

  • Masa muda sebelum masa tua.
  • Masa sehat sebelum masa sakit.
  • Masa kecukupan sebelum masa kefakiran.
  • Masa senggang sebelum masa sibuk.
  • Hidupmu sebelum kematianmu.

Hadits ini dibawakan oleh sahabat muda nan mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib Wa Tarhib.

Akhi fillah….

Mencoba menengok sekejap saja ke dalam ruang luasnya para ulama; pasti kita dapati mata air berharga di dalam masa-masa muda mereka. Seakan-akan, masa muda mereka benar-benar tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk berlalu begitu saja tanpa thalabul ilmi.

Oleh karena itu, jangan lewatkan masa muda kita berlalu begitu saja! Bersemangatlah untuk berthalabul ilmi! Ana yakin kita akan sepakat jika ada yang menyatakan, “Betapa susah dan pahitnya menahan lapar dan haus dahaga.” Agar terlepas dari itu semua, pasti setiap orang akan berupaya semaksimal mungkin untuk bekerja dan bekerja demi mempertahankan hidup!

Bahkan tidaklah sedikit dari mereka yang tanpa malu menempuh cara-cara haram hanya untuk mengatasi lapar dan dahaga, bukankah demikian?

Namun, ternyata ada yang lebih penting dan lebih pantas untuk selalu dikejar dan dimiliki. Ya, itulah ilmu. Itulah perbendaharaan ‘harta’ yang diwariskan oleh baginda besar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa tenang dan damainya hidup bila dihiasi dan dibingkai dengan ilmu.

Al-Imam Ahmad rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab, makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari, sementara kebutuhan mereka terhadap ilmu dibutuhkan disetiap saat.”

Oleh karenanya, kawan, bersemangatlah didalam menuntut ilmu, tuntutlah ilmu selama hayat masih dikandung badan. Tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan, “Tiada hari tanpa thalabul ilmi.”

Bagiku, kawan, thalabul ilmi layaknya samudera tak bertepi. Ya thalabul ilmi, kalimat yang singkat lagi sederhana. Namun membutuhkan adanya usaha, semangat dan pengorbanan serta kesabaran di dalam menjalankan konsekwensinya.

Kututup tulisan ringan ini dengan sebuah syair karya al-Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala,

Sabarlah, menghadapi pahitnya sikap seorang guru.

Sungguh, kegagalan ilmu itu dimulai dari sikap lari darinya.

Barangsiapa tidak mau merasakan pahitnya thalabul ilmi meski sesaat.

Ia pasti akan merasakan pahitnya kebodohan di sepanjang hayatnya.

Barangsiapa di masa mudanya tidak dihabiskan untuk thalabul ilmi.

Maka bacakanlah takbir sebanyak empat kali untuknya karena ia telah mati.

Nilai seorang pemuda, Demi Allah, terletak pada ilmu dan takwa.

Tanpa ilmu dan takwa maka ia tidak memiliki harga diri.”

***

Lawan kerinduan yang diharapkan. Hadapi kerinduan yang tak terlupakan. Dengan tetap memupuk rasa kesabaran. Sabarlah, tidaklah waktu di dunia ini melainkan hari-hari yang bisa dihitung dengan jemari. Sabar sesaat untuk nikmat yang tidak tersirat. Itulah kehidupan akherat.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.