Belajar Untuk Jujur Selalu, dari Kisah-Kisah Terdahulu

 

Oleh Muhammad Hamzah, Takmili

 

Kehidupan seseorang tentu tidak akan terlepas dari takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga, tidak akan terlepas dari dosa, baik yang ia sengaja maupun yang tidak. Namun, seorang hamba harus senantiasa berusaha dan berupaya untuk menjauhi dosa dan kesalahan.

Dusta adalah salah satu dari sekian macam dosa. Lawan dari dusta adalah jujur, siapa saja yang jujur pasti akan selamat. Sebaliknya, siapa yang dusta, pasti dia akan celaka.

 

Pada zaman Jahiliah, perbuatan dusta adalah kehinaan. Berbeda dengan zaman sekarang, zaman yang kita berada padanya, kedustaan tersebar di mana-mana. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ ‌زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي ‌بَعْدَهُ ‌شَرٌّ مِنْهُ

“Tidaklah datang suatu zaman kecuali zaman setelahnya akan lebih jelek dari yang sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis di atas menghasung kita untuk selalu memohon kepada Allah agar Dia menjaga kita dan menjadikan kita senantiasa istikamah di atas al-Haq. Terlebih pada zaman yang semakin memburuk ini.

 

Belajar Jujur dari Kisah Seorang Budak

Salaf adalah sebaik-baik teladan dalam segala hal, termasuk dalam kejujuran. Supaya bisa meniru mereka, mari sejenak kita membaca kisah mereka.

Dahulu, tatkala Umar radhiyallahu Taala ‘anhu menjabat sebagai khalifah, beliau pernah patroli di kota Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar seorang perempuan berkata kepada budaknya:

“Kenapa kamu tidak mencampur susunya dengan air? Amirul mukminin kan tidak mengetahui hal ini?”

Sang budak pun menjawab, “Sesungguhnya Amirul mukminin tidak mengetahuinya, akan tetapi Allah Maha Mengetahui.”

Setelah itu, Umar kembali ke rumahnya kemudian memerintahkan anaknya untuk menikahi budak tersebut. Nah, dari keturunan merekalah lahir seorang yang mulia; Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.

 

Tidak Butuh Emas

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga pernah berkisah:

Ada seorang lelaki yang membeli sebidang tanah, ternyata di dalam tanah tersebut terdapat sekarung emas. Maka sang pembeli berkata kepada pemilik tanah tersebut, “Ambilah emasmu, aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata, “Aku menjual kepadamu tanah beserta isinya.”

Akhirnya keduanya menemui seseorang yang untuk berhakim kepadanya. Hakim itu berkata, Apakah kalian berdua memiliki anak?”

Salah satu dari mereka menjawab, “Saya memiliki anak laki-laki.”

Yang lain berkata, “Saya memiliki anak perempuan.”

Sang hakim pun berkata, “Nikahkanlah mereka berdua, lalu nafkahi mereka dengan harta ini, dan bersedekahlah kalian! “ (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Faedah Berharga Dari 2 Kisah di Atas

Kisah di atas menunjukkan tingginya kejujuran mereka, tidak mengaku-ngaku sesuatu yang bukan haknya. Juga menunjukkan sikap wara’ mereka terhadap dunia serta tidak berambisi untuk mendapatkannya.

Kisah di atas juga memberikan faedah kepada kita, betapa mereka selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh aktivitasnya. Itulah sifat yang harus dimiliki seorang mukmin. Dengannya ia akan dapat menggunakan seluruh gerak-geriknya untuk ibadah dan melakukan hal-hal yang Allah cintai.

Dari hadis di atas pula, hendaknya bagi seorang mukmin untuk selalu jujur dalam amalannya. Dia niatkan amalannya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan mengharap pahala dari-Nya. Di samping itu, dia juga harus mengetahui bahayanya sebuah amalan yang diperuntukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Kisah Seorang Pria Melawan Setan

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Basri rahimahullahu Taala, beliau berkisah, “Dahulu ada sebuah pohon yang menjadi sesembahan selain Allah. Datanglah seorang pria kepada pohon tersebut dan berkata; ‘Aku benar-benar akan menebang pohon ini.’

Akhirnya dia pun benar-benar bertekad untuk menebang pohon tersebut, ia marah demi Rabbnya.

Tiba-tiba setan menemuinya dalam wujud manusia, “Apa yang kau inginkan?” Tanya setan tersebut.

“Aku ingin menebang pohon yang disembah selain Allah ini.”

Setan berkata, “Kalau engkau tidak mau menyembahnya (tanpa menebangnya), orang yang menyembahnya juga tidak tidak mencelamu.”

“Aku tetap akan menebangnya.” Bantah pria tersebut.

 

“Maukah engkau mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu? Jangan menebangnya! Dan engkau akan mendapatkan dua dinar di bawah bantalmu setiap engkau bangun pagi.” Bujuk setan itu.

“Siapa yang akan menjamin?” Tukasnya.

“Akulah yang akan menjaminnya untukmu.” Jawab setan tersebut.

 

Akhirnya pria tersebut pun pulang.

Keesokannya dia menemukan dua dinar di bawah bantalnya. Namun, pada hari berikutnya dia tidak lagi menemukan dua dinar, maka marahlah dia. Dengan penuh kemarahan, dia pun bangkit untuk menebang pohon itu.

Lagi-lagi setan menampakan dirinya dalam wujud manusia. ia bertanya, Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin menebang pohon yang disembah selain Allah itu!”

“Bohong, (engkau tidak ingin menebangnya karena ia disembah selain Allah -pent)!Kata si setan.Engkau tidak akan bisa menebang pohon itu!” Tambahnya.

 

Si pria tetap bergegas untuk menebang pohon itu, tetapi setan membantingnya ke tanah. Tidak cukup sampai di situ, ia mencekik pria tersebut sampai hampir mati.

“Tahukah engkau siapa aku ini?”

Setan pun memberitahukan siapa gerangan dirinya yang sesungguhnya, lalu berkata:

Engkau datang pertama kali karena engkau marah demi Rabbmu, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa kepadamu. Tapi, aku menipumu dengan dua dinar itu, lalu engkau mengurungkan niatmu. Namun, ketika tidak mendapatkan dua dinar itu, engkau marah karenanya, maka aku pun bisa mengalahkanmu.”

Kisah di atas mengajarkan kita untuk selalu jujur dalam niatan kita ketika melakukan sebuah amalan.

 

Ikhlas, Muara Kejujuran

Kejujuran niat itu kembalinya kepada keikhlasan. Seandainya amalan terkotori oleh kepentingan diri pribadi, akan menjadi sirnalah kejujuran niatnya. Sebagaimana kisah di atas, pada awalnya dia ikhlas, namun dia tertipu oleh kepentingan dunianya.

Pemilik niat yang tidak jujur bisa disebut sebagai pendusta. Hal ini sebagaimana dalam hadis tentang tiga orang yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat. Ya, mereka itu adalah seorang alim, qori’ (orang yang mahir membaca al-Qur’an), dan seorang yang mati di medan perang (mujahid).

Ketika si Qori‘ mengatakan, Aku membaca al-Qur’an karena-Mu…” Allah mendustakan niat dan tujuannya, karena sejatinya ia membaca Al-Qur’an adalah demi mendapat pujian, bukan karena Allah.

Allah tidak mendustakan pengakuannya bahwa ia membaca Al-Qur’an, tapi Allah mendustakan niatannya. Demikian pula halnya dengan si Alim dan si Mujahid.

 

Penutup

Mungkin hanya ini yang bisa kami sampaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang selalu jujur dalam setiap perbuatan, niat, dan segala kelakuannya. Amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.