Spirit Thalabul Ilmi

 

Oleh Muhammad Althaf Dalimunthe, Takmili

 

Sepantasnya bagi para penuntut ilmu untuk mencurahkan semangatnya dalam meraih ilmu, bersabar ketika menuntutnya, dan menjaga ilmu itu setelah mendapatkannya. Karena, ilmu tidak dapat diraih dengan jasad yang santai.

Sepantasnya bagi para pencari ilmu untuk menempuh berbagai upaya yang dapat mengantarkannya kepada ilmu, karena dia akan mendapat pahala atas upayanya tersebut. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Ahmad no. 8316)

 

Maka bagi para penuntut ilmu untuk tetap bersabar, bersungguh-sungguh, dan mencurahkan waktu malamnya untuk menuntut ilmu serta meninggalkan setiap perkara yang memalingkan dan menyibukkan dari urusan mencari ilmu.

 

Contoh Nyata Para Salaf

Salafus saleh, mereka memiliki kisah-kisah terkenal tentang kesungguhan mereka dalam mencari ilmu. Sampai-sampai kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ketika ada yang bertanya, “Dengan apa engkau memperoleh ilmu?” Beliau menjawab, “Dengan lisan yang sering bertanya, hati yang khusyu’, dan badan yang tak kenal lesu.”

 

Kisah Kesabaran Ibnu Abbas dalam Mencari Ilmu

Beliau berkisah, “Aku pernah mencari hadis dari salah seorang sahabat. Aku datangi rumahnya, tapi dia sedang istirahat siang. Maka aku hamparkan pakaianku di depan pintunya sebagai alas sambil menunggu.

Angin padang pasir membuat debu-debu beterbangan ke arahku. Ketika sahabat itu keluar, ia berkata, ‘Wahai sepupu Rasulullah, apa gerangan yang membuatmu datang? Mengapa engkau tidak mengutus seorang agar aku saja yang datang kepadamu?’

‘Aku lebih berhak untuk mendatangimu.’ Jawabku, lalu aku pun bertanya kepadanya tentang hadis tersebut.”

 

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau sangat tawadhu’ (rendah hati) dalam mencari ilmu, akhirnya Allah mengangkat derajat beliau. Maka sepantasnya bagi para penuntut ilmu untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu dengan semangat yang membara.

 

Begadang Tuk Membahas Ilmu

Sebuah riwayat datang dari Imam asy-Syafi’i rahimahullah, bahwa pada suatu malam beliau pernah bertamu ke rumah Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu Imam asy-Syafi’i rahimahullah makan malam dan menghabiskan semua jamuan Imam Ahmad. Tak lama, keduanya pun berpisah ke tempat tidurnya masing-masing. Tapi Imam asy-Syafi’i tidak tidur, beliau justru berfikir untuk menyimpulkan hukum-hukum yang dapat diambil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?” (HR. Ahmad no. 12137)

Hadis tentang Abu Umair dan seekor burung kecil miliknya yang bernama Nughair. Suatu ketika, burung itu mati, maka sedihlah anak kecil tersebut hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencandai untuk menghiburnya.

 

Setelah malam yang panjang itu semakin larut, Imam asy-Syafi’i rahimahullah berhasil menyimpulkan 1000 faedah dari hadis di atas, subhanallah! Imam asy-Syafi’i juga menyebutkan faedah hadis itu dengan sempurna.

Tatkala azan subuh telah berkumandang, Imam asy-Syafi’i bangkit tanpa berwudu, beliau langsung beranjak pulang ke rumahnya.

Ketika Imam Ahmad memuji Imam asy-Syafi’i di hadapan keluarganya, mereka terheran dan bertanya-tanya, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), mengapa engkau memuji lelaki yang banyak makan dan minum kemudian salat tanpa wudu?”

 

Imam Ahmad pun bertanya kepada Imam asy-Syafi’i tentang apa yang beliau kerjakan semalam, beliau menjawab, “Adapun mengapa aku makan hingga kenyang adalah karena aku tidak pernah menemukan makanan yang lebih lezat dan bersih dari syubhat daripada makanan yang ada pada jamuan Imam Ahmad, maka aku ingin memenuhi perutku dengannya.

Sedangkan alasanku tidak bangkit untuk salat malam adalah karena ilmu lebih utama daripada salat malam, aku memikirkan hadis ini.

Terkahir, mengapa aku tidak wudu untuk salat subuh adalah karena aku masih memiliki wudu salat Isya’, dan aku tidak ingin merepotkan dengan meminta air wudu.”

 

Introspeksi Diri Kita

Kesungguhan dalam menuntut ilmu termasuk perkara yang penting. Maka mari kita lihat keadaan kita, apakah termasuk yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu atau tidak?

 

Kisah Seorang Imam Ahli Nahwu

Syaikh kami, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah pernah bercerita tentang kisah Imam al-Kisai, Imamya ahli nahwu di Kufah. Bahwa dahulu Imam al-Kisai berusaha mempelajari ilmu nahwu, akan tetapi beliau tidak kunjung paham.

Pada suatu hari, beliau mendapati seekor semut yang membawa makanan sedang berusaha memanjat dinding. Setiap kali dia memanjat pasti dia terjatuh, akan tetapi karena kesungguhan dan kesabarannyanya, semut itu akhirnya berhasil memanjat dinding sambil membawa makanannya ke atas dinding.

 

Imam al-Kisai pun bergumam, “Semut ini terus-menerus berusaha, akhirnya ia berhasil mencapai tujuan.”

Setalah kejadian tersebut, Imam al-Kisai pun bersungguh-sungguh sampai beliau menjadi pemuka ahli nahwu.

Oleh karena itu, sepantasnya bagi para pejuang ilmu untuk bersungguh-sunguh dalam menuntut ilmu dan tidak berputus asa. Karena sikap berputus asa itu akan menutup pintu kebaikan. Sepantasnya pula bagi kita untuk tidak bersikap pesimis, justru yang harus kita miliki adalah sikap optimis dan mengharap kebaikan.

 

Akhir Kata

Demikian dari saya, semoga Allah membalas apa yang saya tulis ini dengan kebaikan yang melimpah. Jika ada kebenaran di dalamnya, itu semata-mata dari Allah. Jika ada salahnya, maka murni dari diri saya dan dari setan. Wallahu a’lam.

 

Sumber: Kitab al-Ilmu karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dengan beberapa perubahan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.