Memperbaiki Jalan Makadam, Sebuah Contoh Kepedulian Yang Tak Padam

Di sebuah jalan makadam menuju Desa Gondang, bebatuan berserak setelah diguyur hujan. Air yang turun deras membawa serta tanah penopang, meninggalkan jejak jalan yang tak lagi rata.

Sore itu, para santri PKL bersama Pak Haji Shadli bergerak. Cangkul di tangan, semak dibabat, tanah digali untuk membuat saluran air. Semua dilakukan demi satu tujuan: agar jalan tetap layak dilalui.

Namun di tengah kesibukan itu, sebuah pemandangan sederhana menorehkan makna mendalam. Kevin, bocah kelas tiga SD, berdiri menatap jalan. Tanpa diminta, ia memungut bebatuan, mengisi celah kosong di sela jalan yang rusak. Tangannya kecil, batunya berat. Tapi semangatnya jauh lebih besar.

Kami yang melihat pun tak kuasa menahan kagum. “Siap, Pak Mandor!” canda kami, disambut senyum malu-malu di wajahnya. Senyum yang tulus, sederhana, tapi penuh teladan.

Dari seorang anak kecil, kita belajar arti kepedulian. Bahwa membangun bukan hanya tugas orang dewasa. Bahwa menebar manfaat tidak menunggu waktu. Kebaikan bisa lahir dari siapa saja, kapan saja, di mana saja.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَن نَفَّسَ عن مؤمن كُربةً من كُرَبِ الدنيا نَفَّسَ اللهُ عنه كُربةً من كُرَبِ يومِ القيامة”

“Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan dari kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses