Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Mengutus Para Pendakwah
PKL SPN 2026
Rabu, 30 Muharram 1448 H – 15 Juli 2026
Malam itu, udara di sekitar Masjid Al-Ikhlas terasa begitu sejuk. Jarum jam menunjukkan pukul 19.50 WIB. Para peserta Program PKL-SPN duduk dengan rapi, mempersiapkan diri untuk menyimak arahan pembimbing. Suasana hening, namun sorot mata mereka memancarkan rasa ingin tahu. Sebentar lagi, salah seorang Ustadz akan menyampaikan arahan mengenai medan dakwah yang akan mereka tuju.
Arahan itu bukan sekadar pemaparan lokasi. Tetapi juga tentang pentingnya mengenal masyarakat. Kemudian beliau memulainya dengan sebuah teladan agung dari Rasulullah ﷺ.
Ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- ke negeri Yaman, Rasulullah ﷺ terlebih dahulu menggambarkan kondisi masyarakat yang akan beliau hadapi. Beliau bersabda,
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْماً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab.”
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini mengandung pelajaran besar bagi setiap pendidik dan pembimbing dakwah. Sebelum mengutus seorang da’i, hendaknya ia memberikan gambaran tentang kondisi masyarakat yang akan menjadi medan dakwahnya. Dengan mengenali keadaan mereka, seorang pendakwah akan lebih siap menyampaikan risalah Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan.
Berangkat dari teladan itulah, para peserta PKL-SPN diajak mengenal lebih dekat lokasi yang insya Allah, akan menjadi tempat mereka mengabdi.

Survei Medan Dakwah di PTPN Gunung Gambir
Alhamdulillah, pada hari Selasa, 07 Juli 2026 M, bertepatan dengan pelaksanaan ujian Hifzhul-Qur’an bagi para santri Tahfizh, tim survei PKL-SPN yang terdiri atas beberapa Mudarris, pengurus, dan ikhwan berangkat menuju PTPN Gunung Gambir, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Tim yang terdiri dari Ustadz Arif, Ustadz Abu Abdillah Wates, Ustadz Tamam, Pak Aris, dan Dokter Jamil –hafizhahumullah- memulai perjalanan sejak pukul empat dini hari. Dengan sebuah mobil Panther berwarna hitam, mereka meninggalkan Ma’had menuju lokasi survei.
Perjalanan yang ditempuh memakan waktu sekitar enam jam. Bukan semata karena jaraknya yang jauh, tetapi juga karena kondisi jalan yang cukup menantang serta beberapa kali berhenti untuk beristirahat sebelum akhirnya tiba sekitar pukul sepuluh pagi.
Sesampainya di lokasi, suasana yang mereka jumpai begitu berbeda dengan hiruk-pikuk perkotaan. Perkampungan tampak lengang. Rumah-rumah berdiri tenang seolah tanpa penghuni. Namun ternyata, hampir seluruh masyarakat telah berangkat menuju perkebunan teh sejak pagi hari untuk bekerja.
Tim kemudian bersilaturahmi dengan pihak pengelola perkebunan. Setelah bertemu dengan Manajer PTPN, Bapak Ihsan, serta Kepala Tata Usaha, Bapak Hari, berlangsung diskusi mengenai rencana pelaksanaan Program PKL-SPN di wilayah tersebut.
Di luar dugaan, pihak perkebunan telah lebih dahulu mengetahui rencana kedatangan para santri. Rupanya, informasi mengenai perizinan dari pihak Ma’had Minhajul Atsar telah disampaikan sebelumnya oleh kantor pusat PTPN di Surabaya.
Alhamdulillah, permohonan pelaksanaan program mendapat sambutan yang baik. Selanjutnya, proses administrasi diteruskan ke kantor pusat PTPN di Surabaya sambil menunggu surat balasan resmi sebagai tahapan berikutnya sebelum pelaksanaan program.
Setelah izin resmi diterima, berbagai koordinasi lanjutan akan dilakukan bersama instansi terkait, mulai dari pemerintah kecamatan, kepolisian, puskesmas, hingga berbagai pihak yang akan mendukung kelancaran pelaksanaan PKL-SPN. Selain itu, Insya Allah akan diterjunkan kembali perwakilan santri dari kelas 3 Takhassus untuk melakukan survei lanjutan sebagai bagian dari perencanaan dan mitigasi lapangan.
Potret Masyarakat dan Tantangan Lapangan
Dari hasil survei tersebut, diperoleh gambaran mengenai kondisi medan dakwah yang akan dihadapi. Kawasan ini berada pada ketinggian lebih dari 900 meter di atas permukaan laut sehingga memiliki udara yang cukup dingin.
Sekitar enam puluh kepala keluarga bermukim di wilayah tersebut. Mayoritas masyarakat merupakan warga Madura yang bekerja sebagai pemetik teh. Berangkat sejak pukul lima pagi hingga sekitar tengah hari, dengan penghasilan berkisar empat puluh hingga lima puluh ribu rupiah per hari.
Di tengah kawasan perkebunan berdiri sebuah masjid besar, disertai beberapa musala yang tersebar di lingkungan masyarakat. Tempat-tempat inilah yang Insya Allah, akan menjadi pusat berbagai aktivitas dakwah bagi para peserta PKL-SPN.
Melangkah dengan Ilmu dan Hikmah
Namun, bekal seorang pendakwah tidak cukup hanya dengan mengenal kondisi wilayah. Dalam arahannya, Ustadz juga mengingatkan bahwa keberhasilan dakwah sangat ditentukan oleh akhlak para Da’i ketika hidup bersama masyarakat.
Beliau menghasung para peserta agar senantiasa menjaga ukhuwah. Menghormati setiap warga, menjaga tutur kata, ringan membantu, serta menjadi teladan dalam adab dan muamalah. Sebab, banyak pintu dakwah yang terbuka bukan karena indahnya retorika, tetapi karena mulianya akhlak.
Malam itu, arahan yang disampaikan bukan sekadar penjelasan tentang sebuah lokasi. Arahan tersebut menjadi bekal awal bagi para calon pendakwah untuk memahami bahwa dakwah selalu diawali dengan ilmu, perencanaan, dan pengenalan terhadap masyarakat yang akan dilayani.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ mempersiapkan Mu’adz bin Jabal sebelum diutus ke Yaman, demikian pula para peserta PKL-SPN dipersiapkan agar melangkah ke tengah masyarakat dengan bekal ilmu, hikmah, dan akhlak yang mulia.
Semoga Allah ﷻ memudahkan setiap langkah dakwah ini, memberkahi para pembimbing dan peserta PKL-SPN, serta menjadikan setiap upaya yang dilakukan sebagai sebab tersebarnya hidayah di tengah masyarakat. Aamiin Yaa Mujiibas saailiin.



