Nikmat kesempataan untuk bisa belajar menuntut rasa syukur

 

Oleh Muhammad Shobron Jamil 3A Takhasus

 

Tulisan ini merupakan pengalaman kami saat melakukan tugas dari Ma’had Minhajul Atsar saat menjalankan program PKL Tarbiyah. Pembaca, thalabul ilmi (menuntut ilmu) merupakan kewajiban atas setiap muslim. Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam bersabda,

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Thalabul ilmi adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh as-Syaikh al-Albani)

Thalabul ilmi merupakan identitas diri bagi seorang santri. Ibadah, menghafal, muroja’ah (mengulang pelajaran), belajar dan berta’awun (saling tolong menolong) memenuhi warna-warni kehidupan para santri, tak terkecuali santri kelas 2 Takhassus di pondok pesantren Minhajul Atsar Jember.

Pada tahun 2019, di penghujung bulan november. Pihak pondok mengadakan kegiatan PKL bagi santri kelas 2 Takhassus setelah ujian semester genap. PKL saya dan beberapa teman kali ini bertempat di daerah Mujur, Kroya, Cilacap, Jawa tengah. Dengan beranggotakan lima orang, saya dan teman-teman bertolak dari pondok pesantren menuju stasiun, kemudian dengan menaiki kereta api kurang lebih selama 15 jam menuju stasiun Kroya, Cilacap. Setelah sampai di stasiun, kami disambut oleh seorang ustadz yang mengajar di pondok tersebut. kami pun dihantar oleh beliau menuju pondok pesantren Tahfizhul Quran al-Manshuroh. Di sinilah kegiatan PKL akan di laksanakan.

Dua hari pertama di pondok tersebut kami hanya melihat keadaan sekeliling pondok, memang  saat itu santri sedang liburan dan baru akan menerima laporan nilai ujian setelah libur tersebut. Hari pertama KBM berjalan, kami diminta untuk memperkenalkan diri kepada seluruh santri yang ada di pondok. Setelah acara pengenalan selesai, ustadz memberikan agenda-agenda yang akan dijalani esok hari.

Dengan adanya kegiatan PKL ini, kita dituntut untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama ini. Di pondok pesantren, kita telah mempelajari bahwasannya syari’at memerintahkan kita untuk saling berta’awun. Allah Ta’ala mengatakan,

}وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ{

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) amal kebajikan dan takwa. Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah ta’ala memiliki siksaan yang amat berat.” (al-Maidah: 2)

Rasullullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah ta’ala akan meolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudara nya” (HR. Muslim).

Di tempat PKL kita mengadakan berbagai tugas, seperti kerja bakti mengangkut kayu bekas ke mobil truck, memangkas semak belukar di belakang asrama, mengecat meja masjid, membersihkan kipas masjid, dan lain-lain.

Kegiatan PKL juga akan melatih para santri untuk terjun dalam medan tarbiyah (pendidikan)  dan dakwah, seperti ditugasi mentasmi’ (menyimak) hafalan al-Quran santri di sebuah halaqah (kelompok), bermusyawarah dengan santri asrama setiap akhir pekan, mengecek serta memperbaiki tata cara wudhu dan salat bagi anak-anak MTP (setingkat SD), membantu para ustadz dalam lembaga TA (setingkat TK) untuk mendidik serta bersabar dalam menghadapinya, sampai mengisi muhadharah dan khutbah di daerah luar pondok.

Ada suatu pengalaman yang belum pernah saya alami sebelum ini, yaitu ketika saya dan satu orang teman saya ditugasi untuk membantu lembaga TA. Banyak sekali kisah di sana. Di antaranya, ketika saya menyuruh salah satu anak untuk tenang, dia malah melawan, dan mengatakan kepada saya sambil menunjuk ke saya, ”iiih,ustadz nya bau….”. Menghadapi anak kecil seperti ini harus membutuhkan perjuangan dan kesabaran, tidak terburu-buru mengambil sikap yang menyebabkan anak tersebut malah semakin jauh.

Ketika jam istirahat datang, waktunya bermain dan snack di bagikan kepada anak-anak. Jam istirahat selama tiga puluh menit, lima belas menit pertama waktu bermain bagi anak-anak TA kelas A di halaman, sedangkan kelas B makan snack di dalam kelas, kemudian lima belas menit terakhir maka sebaliknya. Ketika anak-anak kelas B keluar bermain ke halaman, mereka langsung berdesakan dengan anak-anak kelas A yang belum sempat masuk ke dalam kelas. Serta merta anak-anak kelas A bubar lari ke kami sambil teriak, ”Ustaaadz, fulan nakal….”. Kami yang melihat ini menegur anak-anak kelas B “Ayo..yang rukun sama adik kelas nya…”.

Menjalani semua kegiatan PKL di pondok tersebut, harus membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Tak jarang letih dan lelah datang menghampiri, namun rasa itu terhilangkan ketika salah seorang ustadz mengajak kami rihlah ke desa Ujung alang, Kampung Laut.

Beliau mengajak kami untuk menemani nya, sekalian menggatikan jadwal taklim beliau di Kampung  Laut. Maka pada jum’at pagi, 13 Desember 2019. Kami yang beranggotakan 6 orang bertolak dari ponpes al-Manshuroh menuju pelabuhan Sleko, Cilacap. Yang menempuh waktu perjalanan sekitar satu jam.

Dari pelabuhan Sleko menuju dermaga Ujung Alang di atas compreng (nama kapal yang menghubungkan antara Sleko dan Ujung Alang) membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Waktu yang sangat lama untuk mencapai yang diinginkan, saat itu kami sarapan di atas compreng. Di dalam perjalanan tersebut, kami melewati penjara untuk kasus kelas kakap, seperti teroris, narkoba, pembunuhan, dan lain-lain, yang dikenal dengan Lapas Nusa kambangan.

Tibalah kami di dermaga Ujung Alang, seseorang datang menyambut tali dari kapal untuk di tambat, lalu kami pun menuju masjid yang akan menjadi basecamp kami nantinya, masjid nya berhadapan dengan gereja. Kami disambut hangat oleh salah satu ikhwan di Kampung Laut tersebut. Pisang goreng dan es cappuccino seakan-akan membuang kepenatan yang mengikat. Saat itu sekitaran jam 9 pagi.

Menjelang salat jum’at, kami menuju masjid terbesar di kampung tersebut. Yang menjadi khatib ialah salah satu teman kami, dan yang maju memberikan tausiyah selepas salat jum’at juga salah satu dari teman kita.

Pada malam hari, yang menjadi target untuk diisi muhadhoroh bainal maghrib wal ‘isya ada 3 masjid. Alhamdulillah, semuanya terselesaikan dengan baik dan lancar.

Sabtu pagi, kami pergi menuju pantai Selok Jero menggunakan perahu salah seorang ikhwan. Sampai  pada akhir-akhir perjalanan, kami berjumpa dengan ikhwah yang mengatakan, ”nanti di masjid Selok Jero jumpa sama rombongan ikhwah Cikokol”. Saat itu kami belum mengerti siapa ikhwah Cikokol ini. Kami pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di dermaga Selok jero, kami menuju masjid yang di katakan oleh ikhwah tadi. Tak disangka, ternyata rombongan tersebut ialah teman-teman kami dari ma’had as-Salafy yang PKL di Ciamis, yang juga sedang melakukan rihlah ke pantai selok jero. Setelah cipika-cipiki dan ngobrol sesaat, kami langsung menuju pantai Selok Jero karena mengingat waktu yang mepet dan perjalanan yang jauh.

Menuju pantai selok jero harus melewati rintangan yang begitu sulit. Mendaki bukit yang terjal dan menuruni jalan yang curam harus di lewati, nafas tersengal- sengal, keringat bercucuran tidak membuat semangat pupus untuk meraih indahnya alam pantai Selok Jero, semua itu dirasakan dengan penuh semangat. Ketika hampir sampai tujuan, terdengarlah suara hentakan ombak pantai yang semakin membuat terbakar nya semangat ini.

Saat rasa susah dan letih mengikat, tergantikan dengan eloknya pantai. Masyaallah, air laut nya yang jernih, pasir nya yang putih, serta bersih dari sampah. Begitu indah nya ciptaan Allah Ta’ala. Setelah sarapan di pinggir pantai, menyusullah rombongan tim PKL Ciamis bersama santri-santri nya serta sebagian ustadz yang ikut meramaikan rihlah di pantai Selok Jero.

Air laut yang jernih menggoda siapa saja untuk nyemplung ke dalamnya. ketika sedang asyik berenang, tiba-tiba salah seorang ikhwah dari Cikokol memanggil kami untuk ke pinggir, beliau memberi tahu kepada kami bahwa di sekitaran pantai ini ada palung, untuk kehati-hatian maka sebaiknya tidak berenang di sini, dan kalau mau berenang  maka bisa di muara sungai.

Jadi, muara sungai ini akan menyatu dengan pantai apabila sedang pasang, kalau sedang surut, maka sungai tidak menyatu, sehingga menyisakan seperti jalan yang cekung dari muara sungai menuju pantai. Di sinilah semua santri Cikokol berenang dan bermain.

Setelah dirasa puas, kami kembali ke basecamp dan persiapan menuju ponpes al-Manshuroh Mujur. Setiba di pondok, kegiatan berjalan seperti biasa sampai pada waktu terakhir  dalam kegiatan PKL.

Kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah pemberian hadiah kepada para pemenang kuis cerdas cermat. Kuis ini kami adakan di tengah-tengah kegiatan PKL, yang bertempat di masjid pondok tersebut. Kemudian nasehat dari ustadz, yang dilanjutkan dengan pemberian plakat tim PKL kepada pondok, dan di akhiri dengan acara wedangan. Inilah kegiatan terakhir PKL kami.

Ucapan “Jazaakumullahukhairan” teruntuk kepada para asatidzah, ikhwah, dan seluruh pengurus pondok yang telah membantu kami dan membimbing kami, sehingga terselesaikannya kegiatan PKL kali ini. Kemudian teman-teman saya yang berada di asrama, yang mau menerima kami. Walaupun hanya berkumpul bersama dan tidur di asrama.

Pengalaman-pengalaman yang saya alami di dalam kegiatan PKL ini sangat lah berharga bagi saya, karena manfaat yang begitu besar bagi diri sendiri. Dengan ada nya kegiatan PKL ini, kita bisa lebih semangat lagi untuk belajar, mengingat bayak nya tempat-tempat yang membutuhkan ilmu di luar sana. Di antara faidah yang lain adalah kegiatan PKL akan menambah wawasan santri tentang tarbiyah, dakwah, dan problem-problem yang terdapat pada keduanya. Begitu juga akan menambah kedewasaan, serta membentuk karakter sebagai santri yang inspirtif, sportif, dan aktif.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.