Santap Sahur Bersama, di Hari Puasa Asyura

 

Oleh Tim Reportase Santri

 

Langit masih terlihat gelap pekat ketika seorang santri mendengar sayup-sayup di kedua telinganya, “Bangun, sahur sahur!!” Sepasang mata yang sebelumnya terpejam akhirnya sedikit demi sedikit mulai melihat dunia. Ia terbangun dari tidurnya yang lelap.

“Allahu akbar.. Allahu Akbar.” Pekikan seorang muazin terdengar memecah keheningan subuh buta. Tepat pukul 04.00 WIB, ia kumandangkan azan pertama dengan lantunan suara yang tegas dan lugas. Suaranya terdengar keras layaknya seorang yang sedang memanggil dari kejauhan.

 

Santri tadi segera mengguyurkan air di kedua tangannya, untuk kemudian ia tunaikan hajatnya. Tak lama setelah ia selesai buang hajat, ia mengambil satu centong nasi dan sesendok sambal. Ikan goreng yang menjadi menu lauk pun tak ketinggalan ia letakkan di atas piringnya.

Ia begitu lahap menyantap hidangan sahur ala dapur ma’had itu. Setelah satu-dua suap, dengan langkah gesit ia membangunkan teman-temannya yang masih berada di alam mimpi. Ia sangat berharap sekali teman-temannya juga merasakan nikmat yang ia dapatkan dengan melakukan sahur. Walaupun hanya beberapa teguk air, itu tetap nikmat karena memang sahur mengandung berkah.

 

Suasana Sahur di Hari Asyura

Pagi tadi, para santri di ma’had ini sedang melakukan santap sahur sebelum menjalani puasa sunnah tanggal 10 Muharram. Setelah kemarin mereka juga melakukan sahur untuk puasa tasu’a pada tanggal 9 Muharram.

Suara denting sendok yang beradu dengan piring terdengar merdu di tengah suara dengkuran beberapa santri yang masih terlelap tidur. Perlahan, suara dengkuran tadi berangsur sirna ketika para santri yang lebih dahulu bangun membangunkan temannya yang masih tidur. Mereka semua begitu antusias menjalankan sunnah puasa di hari yang mulia ini, demi mendapat keutamaan yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ، صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah, puasa pada bulan Allah bulan Muharram.” (HR. Muslim)

 

Tak Hanya Berpuasa

“Hmmm, nikmatnya.” Ujar salah seorang santri setelah menikmati hidangan sahur. Jujur saja, ia memang sedang lapar, sehingga menu sahur pagi tadi terasa begitu lezat di lidahnya. Ketika kumandang azan subuh kedua mulai terdengar, santri tadi malah meraih selimut yang berada di dekatnya sambil merebahkan badannya di atas kasur yang empuk. Ia merasa belum puas dengan tidur malamnya.

Namun sejenak setelah berakhirnya lantunan azan, seorang temannya dengan sigap menarik selimutnya dengan kuat untuk membangunkannya. “Eh, sobek nanti selimutnya.” Ia malah menyanggah dan berusaha mencari alasan.

“Ayolah bangun, salat sunnah dulu.” Temannya tak putus asa mengajaknya bangun.

 

Mendengar ajakan tersebut, ia segera bangkit. Mereka pun akhirnya mulai mengayunkan kedua kakinya menuju masjid. Di sana, para santri telah ramai memakmurkan rumah Allah yang mulia itu, baik santri dari lembaga Tahfizh maupun Takhasus.

Selain melakukan puasa sunnah, mereka juga bersemangat untuk melakukan salat sunnah. Terlebih salat sunnah sebelum fajar yang mana keutamaannya lebih baik dari dunia seisinya. Mereka juga tak lupa mengajak dan mengingatkan temannya melakukan amal ibadah yang mulia itu.

 

Semoga Allah memberi mereka taufik untuk bisa selalu istikamah di atas al-Haq, dan menjadikan mereka sebagai penerus dakwah sunnah ini, amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Qurbani Minhajul Atsar