Semangat berkarya semakin menggelora

 

Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Setiap tetesnya saling berpacu mencapai tanah yang sebelumnya terlihat gersang. Butiran aroma hujan begitu khas kala pertama kali turun. sunnguh sejuk bagi yang menciumnya.

Sesekali terlihat di luar sana, beberapa santri melintas dengan membawa payung terkembang di atasnya. Sebagiannya baru pulang dari masjid, setelah menyelesaikan murajaah al-Quran selama kurang lebih 30 menit. Sebagiannya malah sedang berangkat ke masjid, membawa tumpukan kitab yang hendak dimurajaahnya di sana. Bahkan ada pula yang sedang berlari menerobos rintik hujan, tangannya ia letakkan di atas kepala, sambil menjinjing jubahnya ke atas, agar tidak terkena cipratan dari genangan air di sekitarnya, ia tidak membawa payung.

Dan di sini, di dalam ruangan kecil berukuran tak lebih dari 14 meter persegi, lima orang santri sedang duduk serius di atas kursi plastik, menatap tajam monitor LCD di depannya. Tangan mereka bergerak menggeser-geser mouse atau menekan-nekan tuts mengirim perintah kepada mesin komputer, lalu dengan proses yang sangat rumit tapi cepat, perintah tadi ditransformasikan menjadi sebuah data yang dapat dilihat di layar monitor di depan mereka, berupa karakter-karakter huruf yang terangkai menjadi sebuah faidah ilmiyyah yang sangat berharga.

Sesekali pakaian mereka melambai terkena hembusan angin lembut dari kipas dinding yang ada di belakang mereka. Kipas itu sebenarnya telah rusak, ia sudah tidak bisa menyala lagi, panel dan tombol pengatur kecepatannya sudah tidak berfungsi. tapi entah siapa santri yang berhasil memperbaikinya dengan cara ‘mencangkokkan’ tombol pengatur kecepatan dari kipas berdiri yang sudah tidak terpakai beserta gagangnya, hingga akhirnya kipas itu dapat berputar kembali.

Beberapa kali tercium aroma terang bulan atau masakan lain, yang sedang dimasak berdampingan dengan ruangan mereka. Untuk kemudian, aroma masakan berganti menjadi aroma wangi, dari pengharum ruangan yang otomatis akan menyemprotkan stella setiap 20 menit sekali.

Sore ini, suasananya sedikit dingin. Kita mungkin agak malas untuk beraktivitas, lebih memilih duduk santai, ditemani secangkir teh hangat sambil mengobrol ringan. Ya memang, hiruk pikuk kehidupan pondok tidak begitu nampak di saat seperti ini.

Tapi lain cerita dengan suasana di ruangan kecil ini. Ruangan multimedia tempat para santri berkarya. Bahkan sejak sebelum hujan turun tadi, lima kursi yang disediakan di dalamnya tak pernah kosong. Sunyi, lengang, tapi sebenarnya ruangan ini sangat hidup. Yang terdengar memang hanya suara ctak-ctok keyboard dan mouse yang saling bersahutan. Tapi yang mereka kerjakan di sini, yang mereka tulis di sini, adalah bentuk perjuangan para santri yang tak pernah henti, dalam menyebarkan ilmu agama ini seluas-luasnya.

Membaca, menulis, dan berkarya adalah simbol mereka, keseharian mereka, dan suplemen mereka yang senantiasa mereka kerjakan tanpa bosan. Mereka bukan orang yang sudah terbiasa menulis sejak dini. Mereka bukan orang yang pernah sekolah jurnalistik atau belajar tata bahasa dan sastra yang baik. Tapi karena mereka berani mencoba, memulai menorehkan sepatah dua patah kata, biidznillah kini karya-karya mereka patut dibandingkan dengan karya penulis-penulis senior yang pernah ada sebelumnya.

Yang lebih menarik lagi, adalah karena ini di masa Covid melanda, namun perjuangan mereka tak pernah mereda. Ya, bahkan lebih melonjak dari sebelumnya. Sejak pertama kali dibuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menulis untuk menulis, para santri semakin giat menggoreskan karya-karya mereka, berbagi ilmu dan faidah kepada siapa saja yang ingin membacanya.

Dan ruangan mungil ini menjadi saksinya, saksi atas kerja keras tak kenal lelah, dari para santri yang padahal mereka belum merasakan liburan sejak setahun terakhir bahkan lebih. Ya, karena Covid yang melanda dunia ini, mereka belum bisa berjumpa dengan keluarga, ayah ibu tercinta, maupun kakak adik yang amat merindukan mereka.

Di ruangan inilah para santri itu mengeluarkan buah tangan mereka, sepanjang pagi, siang sampai malam. Teknologi informasi yang terus berkembang hingga kini, memudahkan mereka untuk bisa saling berbagi faidah dan bertukar informasi dengan sangat cepat. Dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Cukup dengan menekan satu tombol, karya yang tersusun dari ratusan huruf dan karakter itu bisa terunggah, untuk kemudian dapat di baca oleh setiap orang di belahan dunia. Biarlah orang membacanya dengan tujuan masing-masing, tapi yang jelas bagi mereka faidah-faidah tersebut ditulis untuk diambil manfaat darinya.

Sebagian mereka bahkan sampai lupa makan, karena memang manisnya ilmu dan berkarya telah mereka rasakan. Atau bahkan mungkin berkarya dan menulis faedah itulah makanan mereka, yang dengannya hati mereka akan menjadi kuat. Teringat kisah yang diceritakan oleh Ibnul Qoyyim tentang gurunya, Ibnu Taimiyah rahimahullah:

وَحَضَرت شَيْخَ الإِسْلاَم ابْنَ تَيْمِيةَ مَرَّةً صَلَّى الفَجْرَ، ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى إِلَى قَرِيْبٍ مِنْ انْتِصَافِ النَّهَارِ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَقالَ: هَذِهِ غَدْوَتِي، وَلَوْ لََمْ أَتَغَدَّ  هَذَا الغَدَاءَ لَسَقَطَتْ قُوََّتِي. أَو كَلاَمًا قَرِيْبًا مِنْ هَذَا.

“Suatu hari aku menyaksikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melkakukan salat subuh, kemudian beliau duduk berdzikir kepada Allah sampai mendekati pertengahan siang. Lalu beliau berkata kepadaku: Ini adalah sarapanku, jika aku tidak melakukannya niscaya akan lemah kekuatanku. Atau ucapan yang mendekati.”

Di sela-sela kesibukan belajar mereka yang padat, juga tugas-tugas divisi yang tak pernah libur, mereka selalu menyempatkan untuk bisa menulis faidah yang telah mereka dapatkan, ilmu yang telah mereka pelajari, maupun maklumat yang telah mereka ketahui. Sebagiannya hanya sekedar berbagi pengalaman yang pernah ia lewati, warna-warni kehidupan yang telah dilalui, atau suka duka di jalan thalabul ilmi. Tapi siapa sangka, bahwa setelah karya-karya itu disebarkan melalui media-media yang ada, manfaatnya dapat dirasakan oleh para pembacanya.

Para santri setingkat tahfizh juga tak ketinggalan menyumbangkan karya-karyanya. Hati ini kadang terharu melihat santri-santri yang baru berumur sekitar 12 sampai 15 tahun, namun rasa-rasanya ia tak mau kalah dengan kaka-kakak kelasnya di takhassus untuk bisa berkarya. Mereka menuliskannya dengan menggunakan pena, menghabiskan satu atau dua carik kertas. Kemudian tulisan tangan itu akan diketikkan oleh kakak kelas dari takhassus yang memang ditugaskan untuk itu.

Di usia-usia labil seperti itu, mereka bisa mengendalikan gejolak jiwa, walau belum bisa pulang ke rumah, belum bisa berjumpa orang tua, selama Covid melanda.  Tapi  mereka mampu mengarahkan jiwanya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya atau bahkan umat manusia.

Semua pemandangan itu, perjuangan itu, hanyalah terjadi berkat taufik dari Allah semata. Kemudian usaha untuk saling memotivasi, dan saling menguatkan satu sama lain. Juga karena dukungan penuh dari para orang tua kepada buah hatinya yang tinggal di pondok selama pandemi, untuk terus berkarya tanpa henti. Dukungan melalui telefon, komentar yang ditulis di situs-situs yang memuat karya anak-anaknya, dan lain sebagainya.

Suatu hari, salah seorang teman menceritakan ucapan bapaknya ketika telefon Aku moco situs pondokmu, tak goleki ndi jenengmu kok ora ono… Nuliso, ben tak woco tulisanmu.” Kata bapaknya memberi semangat. Teman kita hanya bisa menjawab: Nulis opo bi, aku ora iso nulis.” Tapi sang bapak terus memberi semangat, dan memberi masukan, Terserahmu, nulis tentang rindu thalabul ilmu, opo seng liane lah… Tak nteni tulisanmu.” Sang teman pun begitu tergerak dengan motivasi dari bapaknya itu. Begitulah, dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan di masa-masa seperti ini.

Tulisan di atas hanyalah sebagai gambaran umum, tentang usaha dan perjuangan para santri menyebarkan ilmu yang telah mereka ketahui. Walaupun sebenarnya kerja keras mereka tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semoga dapat menjadi pemicu semangat para santri, untuk terus berkarya tanpa henti, walaupun di masa pandemi seperti ini. Semoga dapat menjadi renungan bagi para orang tua, untuk terus memberikan dukungan kepada putra-putrinya, yang sampai saat ini belum bisa pulang ke rumah mereka. Dukungan mental untuk bisa tetap bersabar menghadapi musibah yang menimpa, untuk bisa menjadi santri yang tabah dan tegar tak kenal putus asa. Atau dukungan melalui doa-doa yang dipanjatkan di setiap sujud dan salat mereka.

Semoga Allah memberikan keteguhan kepada kita semua, dalam menghadapi pandemi Covid ini.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. abu amzar berkata:

    bismillah.masukan dan saran terkit ebook PDf,adanya terjemahan fatwa fatwa ulama ahlusunnah terkait aqidah, fikih,muamalah dan terjemahan kitab syarah para ulama ahlusunnah sangat membantu sekali bagi yg memiliki keterbatasan penguasaan bahasa arab.jazakumullahu khoiron semoga Allah subhanahu wata’ala mudahkan segala urusan aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.