Sudahkah Kita Bersyukur?

Oleh Ahmad Wahidin Bekasi 3A Takhasus

Jangan pernah bosan bergaul dengan orang-orang yang menyerukan dan mengingatkan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah. Karena sungguh tidaklah Allah pernah bosan mencurahkan nikmat dan karunia-Nya kepada para hamba-Nya. Allah berfirman

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Setiap nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Sampai-sampai Allah memvonis para hamba-Nya tak akan mampu mengalkulasi nikmat dan karunia-Nya.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kalian berusaha menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS. Ibrohim: 34)

Satu saja nikmat yang Allah berikan, menjadi sebuah karunia yang berlipat ganda dan menjadi besar sampai tak terhingga. Bersamaan dengan itu juga Allah menjanjikan para hamba-Nya yang bersyukur dengan tambahan. Sebagaimana firman Allah pada surat  Ibrahim ayat ke 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Jika kalian mensyukuri (nikmat-Ku) , niscaya Aku akan tambahkan (nikmat) kepada kalian.”

Hal ini menunjukkan begitu Agungnya dan Penyayangnya Sang Maha Pemberi kepada para makhlik-Nya. Oleh karenanya menjadi keharusan bagi kita untuk senantiasa bersyukur dan tidak bosan untuk mensyukuri nikmat Allah itu. Marilah kita mensyukurinya dengan hati, ucapan, dan perbuatan kita.

 

Diantara nikmat yang besar.

Sebuah karunia teramat besar bagi orang-orang yang mengharapkan masa depan nan berbahagia yaitu kesempatan menuntut ilmu syar’i ditengah gelombang fitnah yang saling bersusulan.  Seharusnya nikmat ini kita syukuri.

Alhamdulillah kita masih diberi taufik untuk menuntut ilmu syar’i mempelajari al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik), menghafal al-Quran, hadits-hadits Nabi, serta atsar para ulama. Kita bersyukur akan nikmat ini, dalam keadaan pada era teraakhir ini mayoritas remaja tersibukkan dengan gadget mereka, mereka lupa akan tujuan hidup di dunia yaitu untuk beribadah dan mencari keridhaan serta Jannah-Nya.

Perjuangan dalam mencari ilmu merupakan  jalan pintas menuju Jannah.

Menunut ilmu itu butuh perjuangan

Menuntut imu itu butuh kegigihan

Menuntut ilmu itu butuh kesabaran dan keistiqomahan

Pembaca rahimakumullah…

Karena menuntut ilmu syar’i itu adalah sebuah jalan yang mengantarkan seseorang menuju jannah  Allah, berarti jalannya tak mungkin mulus, pasti banyak rintangan dan lika-likunya. Sebagaimana sabda Nabi shallahi ‘alaihi wa sallam :

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka itu dikelilingi dengan hawa nafsu sedangkan jannah itu dikitarii dengan perkara yang menyelisihi hawa nafsu.” HR. Bukhari: 6487

Tidak asing lagi bagi kita sekian ayat dan hadits yang menguraikan tentang keutamaan ilmu , diantaranya adalah potongan sabda Nabi dari sahabat Abi Hurairah  beliau berkata, bahwa Nabi pernah bersabda :

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة

“Barang siapa menempuh sebuah perjalanan dalam rangka menuntut ilmu Allah akan mudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju jannah.” HR. An-Nasai: 223 dan disahihkan oleh Syaikh al-Albaniy.

 

Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,

الطَّرِيق الَّتِي يسلكها الى الْجنَّة جَزَاء على سلوكه فِي الدُّنْيَا طَرِيق الْعلم الموصلة الى رضَا ربه

“Kemudahan jalan yang ia tempuh di jannah sbagai balasan jalan talabul ilmi yang ia tempuh di dunia dalam meraih ridha Rabbnya.” Miftah Daris-Sa’adah

Setelah kita mengetahui bahwa jalan talabul ilmi ini penuh dengan rintangan, ujian, dan cobaan baik dari syubhat maupun syahwat. Kita termotivasi dengan janji Allah yang disampaikan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berupa kemudahan dalam menempuh jalan menuju jannah, menggugah hati kita untuk terus bersyukur, bersungguh-sungguh, dan bersabar dalam menuntut ilmu.

Sosok perjuangan dalam menuntut ilmu

Kalau kita mau melirik sedikit kesabaran dan kesungguhan para salaf dalam menimba ilmu, maka Abu Hurairah sosok sahabat yang penuh perjuangan dan kesabaran. Demi ilmu, beliau rela menahan lapar dan melawan dahaga. Tinggal di masjid Nabawi. Di Madinah beliau tidak memiliki keluarga maupun tempat tinggal. Luarbiasa perjuangan beliau.

Dengan hal ini kita teringat dengan firman Allah

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang berjuang (dalam mencari keridhoan kami), kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” QS. al-Ankabut: 69

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Kami jadikan diantara mereka imam-imam yang mengajak kepada urusan kami (agama) ketika mereka bersabar dan meyakini  ayat-ayat kami.”  QS. As-Sajadah: 24

Kita bisa melihat sendiri hasil kesuksesan beliau dalam meynebarkan sabda Nabi, sampai-sampai dikatakan oleh ahli ilmi “bahwa beliau telah meriwayatkan sekitar 5374 hadits.”

Oleh karena itu marilah kita mensyukuri akan segala nikmat, apapun yang kita dapatkan. Terkhusus nikmat hidayah ini, semoga Allah mengistikamahkan kita di atas jalan-Nya. Amiin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.