Syubhat Seputar Perayaan Maulid Nabi dan Jawabannya

 

Terjemahan fatwa oleh Mu’ammar Purwandi Makassar, Takhasus

 

Pertanyaan

Sebagian orang yang merayakan Maulid Nabi dan Peringatan Isra’ Mi’raj, mereka beralasan bahwa tujuan kami hanyalah untuk zikir dan berselawat kepada Rasul. Mereka juga berdalih bahwa para ulama tidak mengingkari perayaan upacara-upacara kenegaraan dan acara-acara semisalnya. Lalu bagaimana kita membantahnya?

 

Jawaban

Katakan kepada orang-orang itu: Sesungguhnya Rasul dan para sahabatnya lebih semangat dan lebih senang melakukan kebaikan daripada kalian. Mereka juga merupakan orang yang terdepan dalam melakukan amalan-amalan mulia.

Kalau saja Peringatan Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj itu adalah sesuatu yang syar’i dan merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah, tentu mereka akan lebih cepat, lebih bersegera, dan lebih dahulu mengamalkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama).” Beliau melanjutkan, Sejelek-jelek perkara (agama) adalah yang diada-adakan. Dan semua kebidahan adalah sesat.”

Manusia tidak boleh mengada-adakan ibadah apapun berdasarkan akal-akal mereka.

 

Kalau orang-orang itu mengatakan perkataan di atas, maka orang lain juga bisa mengatakan:

“Kami hendak menambah salat menjadi 6 waktu dalam sehari, tidak ada yang kami inginkan kecuali kebaikan serta dalam rangka mengingat Allah. Akan kami jadikan salat duha sebagai salat wajib yang keenam, kami akan mengajak orang lain untuk mengerjakannya sebanyak empat atau dua rakaat rakaat secara berjemaah sebagai salat wajib yang keenam, dalam rangka menambah amal kebaikan dan keutamaan.”

Yang lain lagi akan mengatakan:

“Kami akan membuat ibadah baru, yaitu berhaji sebanyak 2 kali dalam setahun. Karena jika hanya sekali, itu tidak cukup. Maka kami akan berhaji dua kali untuk sebagai tambahan keutamaan, tambahan zikir, amal ketaatan, dan ibadah tawaf kepada Allah.”

 

Yang lain lagi akan berkata:

“Kami akan mengadakan dua kali azan setiap hendak salat. Karena jika hanya sekali, itu tidak cukup. Padahal azan adalah zikir dan amal ketaatan kepada Allah. Maka setiap masjid harus azan dua kali sebagai tambahan zikir.”

Atau yang lainnya akan menambah ikamah menjadi dua atau tiga kali. Azan menjadi empat atau sepuluh kali. (Dengan anggapan) bahwa ini semua adalah tambahan zikir dan amal ketaatan kepada Allah.

Ini berarti, yang melandasi agama adalah hawa nafsu, permainan akal dan buatan manusia, serta pemikiran mereka yang rusak. Akhirnya perkaranya menjadi bebas tanpa batas. Dan inilah yang terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani, sehingga mereka bisa mempermainkan agamanya dan menganggap baik sesuatu yang tidak pernah Allah syariatkan bagi mereka.

 

Adapun perayaan upacara kenegaraan, maka itu bukan termasuk ibadah. Namun hanya sebuah upacara yang diadakan untuk urusan politik, bukan dalam rangka ibadah. Walaupun, hal itu tetap terlarang dari sisi karena ia menyerupai upacara dan perayaan-perayaan yang dicetuskan oleh Yahudi dan Nasrani.

Maka terlarangnya dari sisi politik dan keserupaannya terhadap upacara dan hari raya kenegaraan yang dicetuskan oleh orang-orang musyrik. Bukan dari sisi ibadah, tapi dari sisi politik yang diadakan oleh sebagian orang dengan meniru dan menyerupai orang-orang kafir yang merayakannya.

Sehingga upacara dan perayaan itu juga terlarang dan wajib dicegah karena ia menyerupai perbuatan musuh-musuh Allah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.