Tak Lelah Melangkah. Menuju Rumah Allah
Sebuah pemandangan menggetarkan hati tampak di Masjid Darul Arqam, Desa Gondang. Sosok tua yang tubuhnya telah renta tetap berjuang untuk hadir di setiap waktu shalat berjamaah. Pak Busad, salah satu jamaah setia yang hampir tak pernah absen menapaki jalan menuju rumah Allahﷻ, meski langkahnya kini bertumpu pada tongkat.
Beliau adalah Pak Busad, seorang mantan mandor di perkebunan di Bengkulu. Di usianya yang telah senja, dengan wajah yang mulai keriput dan pendengaran yang melemah, semangatnya justru tidak ikut menua. Matanya masih memancarkan tekad kuat, seakan berkata bahwa usia bukan alasan untuk berhenti beribadah.
Setiap waktu azan berkumandang—subuh yang sepi, zuhur di tengah terik, hingga isya yang hening—beliau selalu menjadi yang pertama tiba di masjid. Tidak pernah menunggu dipanggil, tidak pernah menunggu ditemani. Seolah waktu shalat adalah janji suci yang tak boleh ditunda walau sesaat.
Masjid Darul Arqam, Gondang, menjadi saksi perjalanan penuh makna itu. Di tempat sujud yang sama, di sajadah yang sederhana, beliau selalu duduk di saf depan. Tongkatnya bersandar di tiang masjid, seakan menjadi saksi bisu atas keistikamahan seorang hamba yang mencintai Rabbnya.
Semangat beliau bukan karena ingin dipuji -insyaallah-, bukan pula karena sekadar rutinitas. Ia sadar, setiap langkah menuju masjid adalah pahala yang dicatat malaikat. Setiap detik yang ia lalui dalam kelemahan tubuhnya menjadi saksi kecintaan kepada Allahﷻ.
Kisah Pak Busad ini mengingatkan kita pada seorang laki-laki dari kaum Anshar di masa Rasulullah ﷺ. Dikisahkan, tidak ada seorang pun yang rumahnya lebih jauh dari masjid selain dia, namun ia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah.
Seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak membeli seekor keledai agar bisa engkau tunggangi saat gelap dan saat panas?”
Ia menjawab dengan penuh keikhlasan, “Aku tidak ingin rumahku dekat dengan masjid. Aku ingin agar setiap langkahku menuju masjid dan langkahku saat kembali kepada keluargaku dicatat sebagai pahala.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah telah mengumpulkan semuanya untukmu.”
(HR. Muslim)
Kembali ke Pak Busad, meski jarak dan usia menjadi ujian, beliau memilih untuk terus melangkah. Setiap tapak langkahnya menuju masjid Darul Arqam adalah bukti nyata bahwa cinta kepada Allah lebih kuat daripada lelah dan usia.
Dengan tongkat di tangan kanan dan tekad di dada, beliau melangkah pelan namun pasti. Kadang harus berhenti sejenak untuk mengatur napas, tapi tidak pernah berpaling. Saat tak lagi mampu berdiri, beliau tetap bersujud dengan duduk. Tidak ada alasan untuk berhenti, sebab cinta kepada Allah tidak butuh kaki yang kuat—cukup hati yang teguh.
Kisah Pak Busad bukan sekadar kisah seorang jamaah tua, tetapi potret dari keteguhan hati seorang hamba yang mencintai rumah Allah. Ia meneladani semangat kaum Anshar yang tidak ingin kehilangan satu langkah pun dari pahala menuju masjid.
Semoga Allahﷻ menjaga Pak Busad dan menanamkan semangat yang sama dalam diri kita—semangat untuk terus melangkah menuju rumah-Nya, walau dunia mencoba menahan langkah kita. Sebab, setiap langkah kecil menuju masjid, bisa jadi langkah besar menuju surga.


