Tips Hidup Bahagia (Seri-1)

Oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah

 

Segala puji bagi Allah l Dzat yang berhak atas segala pujian. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya beraksi bahwa Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat Allah dan salam-Nya semoga selalu tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba’du :

Sesungguhnya ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan hati adalah dambaan semua insan. Sama halnya pula ketika hilang darinya kegundahan dan kegelisahan, hal ini pun merupakan dambaan semua orang. Dengan dua hal ini akan tercapailah sebuah kehidupan yang baik, bahagia, dan senang.

Oleh karena itu, sebab-sebab diniyyah, tobi’iyyah, dan amaliyah tidak dapat terkumpul kecuali pada orang yang beriman. Adapun selain mereka, apabila sudah mendapatkan kebahagiaaan dari satu sisi dengan usaha keras para cendekiawannya, akan terluputlah hal yang lebih bermanfaat, lebih langgeng, dan lebih baik dari sisi yang lain pada waktu itu dan mendatang.

Di dalam tulisan ini saya akan menyebutkan sebab-sebab untuk mendapatkan cita-cita tinggi yang selalu diimpikan oleh semua orang sebatas yang terlintas dibenak saya.

Di antara manusia ada yang selalu mendapatkan kebahagiaan, sehingga dia pun berada di atas kehidupan yang baik dan senang. Dan di antara mereka ada yang gagal dalam mendapatkan kebahagiaan, maka dia pun hidup di atas kesengsaraan dan kecelakaan. Namun di antara mereka ada juga yang mendapatkan kedua-duanya. Semua orang telah diukur dalam mendapatkan itu semua dengan kadar diri mereka masing-masing. Hanya Allah lah Dzat yang mengaruniai taufik-Nya dan hanya Dia lah Yang dimintai pertolongan dalam meraih kebaikan dan menghilangkan kejelekan.

PASAL KE-1

      Sebab terbesar, sekaligus pokok dan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan adalah iman dan amal saleh. Allah l berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa mengerjakan suatu kebajikan baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kehidupan yang baik dan akan Kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Di dalam ayat ini Allahl mengabarkan sekaligus menjanjikan kepada orang yang telah menggabungkan antara iman dan amal saleh dengan janji kehidupan yang baik di alam dunia dan janji adanya pahala yang lebih baik (dari yang ia kerjakan) di dunia dan akherat.

Alasannya jelas, karena orang-orang yang beriman dengan keimanan yang benar yang membuahkan amal saleh, dapat memperbaiki hati, akhlak, dunia, dan akheratnya, bersama mereka ada pokok dan dasar yang dengannya mereka sambut segala yang datang kepada mereka berupa penyebab kebahagiaan dan kesenagan demikian juga penyebab kegelisahan dan kesedihan.

Mereka sambut kebahagiaan dan kesenangan degan menerimanya, bersyukur, dan menggunakannya pada hal yang bermanfaat. Apabila mereka menggunakannya pada sisi ini, muncullah kebahagiaan pada diri mereka dan keinginan agar selalu menetap dan terus berbarokah. Di samping itu semua, dia berharap akan pahala orang-orang yang bersyukur. Maka dia pun mendapatkaan berbagai hal besar lainnya yang lebih membahagiakannya berupa kebaikan yang berbentuk keberkahan. Semua itu adalah hasil yang didapatkannya.

Dari sisi lain, mereka hadapi hal yang tidak disukai, yang membahayakan, lagi menyedihkannya dengan berusaha melawannya dan meminimalisirnya semaksimal yang mereka bisa, diiringi degan kesabaran indah yang sudah menjadi keharusan bagi mereka. Dengan sebab itu, mereka raih kebahagiaan besar dengan lenyapnya sesuatu yang yang tidak disukainya dari perlawanannya yang bermanfaat, pengalaman, kekuatan, kesabaran, dan harapannya terhadap pahala atas semua itu. Pada akhirnya, kebahagiaan, harapan indah, dan hasrat akan keutamaan Allah dan pahala-Nya yang menggantikan kesedihannya itu.

Semua kondisi di atas sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi n dalam hadis sahih. Beliaun bersabda,

«عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير، إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن» [رواه مسلم] .

 “Sungguh menakjubkan urusannya orang yang beriman, semua urusannya baik. Bilamana kebaikan datang menghampirinya, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan ketika datang musibah menerpanya, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. Tidaklah sifat ini ada kecuali pada orang yang beriman.” (HR. Muslim)

Di dalam hadis di atas, Nabin mengabarkan bahwa seorang mukmin bertingkat-tingkat kemanfaatannya, kebaikan, dan perbuatannya pada setiap kebahagiaan dan ketidaksukaan yang dijalaninya.

Oleh karena itu, akan engkau dapati dua orang yang menjalani salah satu wujud kebahagiaan atau  kejelekan sangat berbeda dalam menghadapinya. Hal itu tergantung pada tingkat iman dan amal salehnya.

Orang yang bersifat dengan sifat pertama yang telah disebutkan menyambut berbagai kebaikan dan kesukaran dengan sifat syukur, sabar, dan berbagai hal yang menyertainya. Sehingga dengan hal tersebut muncullah rasa bahagia dan senang, hilanglah rasa kesah, resah, gelisah, kesempitan dada, dan kesengsaraan hidup. Kemudian kesempurnaan hidup di alam dunia ini pun ia raih.

Adapun orang yang disifati dengan sifat  kedua menyambut hal yang disukainya dengan cara yang tidak bagus, sombong, dan melampoi batas, dengan itu perilakunya menjadi menyimpang. Dia sambut kebahagiaan layaknya binatang, yaitu dengan cara rakus dan tamak. Di samping itu, dirinya bukanlah orang yang tenang hatinya. Bahkan keadaannya kacau dari berbagai sisi.

Keadaanya kacau tatkala ia takut akan kehilangan sesuatu yang ia cintai. Dalam dirinya ia dapati berbagai kekontradiksian secara umum. Dari sisi yang lain, keadaannya kacau tatkala dirinya tidak dapat berhenti pada suatu batasan tertentu, sehingga ia selau melihat pada hal-hal lainnya yang terkadang bisa ia dapatkan hasilnya dan terkadang ia tidak mampu mendapatkannya. Tatkala hal tersebut ia dapatkan hasilnya, itu pun masih berada di atas sangkaan dan dugaan. Dari sini dia pun mendapatkan ketidaktenangan dari berbagai sisi yang telah tersebut.

Dan tatkala datang sesuatu yang dibencinya, dirinya risau, gundah, takut, dan gelisah, maka jangan engkau tanyakan kesengsaraan hidup yang terjadi padanya berupa penyakit pikiran dan ketegangan urat syaraf yang muncul. Dan juga muncul rasa takut yang terkadang membawa dirinya pada keadaan yang paling buruk dan menakutkan.

Hal di atas terjadi karena kosongnya dia dari mengharapkan pahala terhadap musibahnya itu, diperparah lagi tatkala tidak ada kesabaran yang dapat menghibur dan meringankan bebannya.

Semua kedaan ini dapat disaksikan dari pengalaman. Satu contoh dari jenis ini, apabila anda cermati dan terapkan pada keadaan manusia, anda akan dapati perbedaan besar antara seorang mukmin yang beramal dengan konsekuensi imannya dan yang tidak, hal itu adalah bahwa agama ini sangat menghasung untuk bersikap qona’ah (merasa cukup) dengan rizki dan karunia yang Allah berikan terhadap hamba-hamba-Nya berupa keutamaan dan kemuliaan yang beraneka ragam.

Seorang mukmin bilamana menimpanya sakit, kemiskinan, ataupun yang lainnya berupa rintangan dalam hidup yang menghalanginya, maka dengan sebab keimanan, qona’ah, dan rida terhadap apa yang Allah berikan untuknya, engkau akan mendapatinya dalam keadaan bahagia, hatinya tidak meminta sesuatu di luar kemampuannya, selalu melihat kepada orang yang di bawahnya dan tidak memandang orang yang berada di atasnya.

Terkadang kebahagiaan dan ketentraman yang dimiliki orang mukmin melebihi kebahagiaan orang yang selalu mendapatkan keinginannya namun tidak dikaruniai sikap qona’ah.

Sebagaimana halnya engkau mendapati orang yang tidak memiliki amalan terhadap konsekuensi imannya, apabila menimpanya musibah berupa sedikit saja dari kefakiran atau tidak tercapainya hasrat dunia, keadaanya sangat sengsara dan mengenaskan.

Dan contoh lain, apabila terjadi hal yang menakutkan dan menggelisahkan lalu membuat seseorang merasakan kesakitan, engkau akan mendapati orang yang benar keimanannya tetap kokoh hatinya, tenteram jiwanya, bisa mentadaburi keadaan, menjalani musibah yang menimpanya dengan keluasan berfikir, berucap, dan berbuat, dan dirinya pun sudah siap dalam menghadapi kegelisahan  ini. Maka sungguh ini semua justru dapat membuatnya terhibur dan semakin mengokohkan hatinya.

Kemudian engkau bandingkan dengan orang yang tidak memiliki keimanan, keadaannya sangat bertolak belakang dengan yang sebelumnya. Apabila terjadi padanya hal yang membutanya khawatir, hatinya cemas, urat syarfnya mengeras, pikirannya menjadi kacau, merasukinya rasa takut, dan terkumpul padanya rasa takut dari arah luar dan dalam, lebih dari itu, kondisinya tidak dapat dibayangkan lagi.

Ini semua menimpa jenis manusia yang tidak dapat menggapai berbagai sebab tobi’iyyah yang membutuhkan banyak latihan, dengan itu ia akan menjadi loyo kekuatannya dan mengeras urat syarafnya. Terjadinya ini semua adalah karena tiadanya keimanan yang dapat membawanya pada kesabaran terkhusus pada keadaan yang sempit, menyedihkan, lagi menggelisahkan.

Orang baik dan orang jahat, mukmin dan kafir, semuanya dapat meraih sifat keberanian yang diusahakannya. Dan secara otomatis keberanian yang dimilikinya dapat menguraangi rasa takutnya. Akan tetapi seorang yang beriman sangat berbeda dengan sebab keimanannya yang kuat, kesabarannya yang kokoh, tawakkalnya kepada Allah, penyandarannya hanya kepada-Nya, dan harapan pahala hanya kepada-Nya yang menambah kebariannya, menguarangi rasa takutnya, dan meringankan kesulitan yang dihadapinya. Allah l mengatakan di dalam ayat-Nya,

إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

“Jika kalian merasakan sakit maka mereka (kaum musyrikin) juga merasakan sakit. Namun kalian berharap kepada Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (an-Nisa’: 104)

Dan tercapailah bagi kaum mukminin pertolongan Allah dan bantuan-Nya yang khusus bagi mereka, yang dengan sebab itu hilanglah rasa takut dari diri mereka. Allahl juga mengatakan,

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (al-Anfal :46)

Di antara sebab yang dapat menghilangkan kesedihan, kegelisahan, dan keresahan adalah berbuat baik kepada orang lain dengan ucapan, perbuatan, ataupan dengan cara lainnya dari berbagai macam kebaikan. Itu semua adalah kebaikan yang dengannya Allah akan menghilagkan kesedihan dari orang baik dan jahat sebatas kebaikan yang dicurahkannya. Hanya saja bagian yang didapat oleh orang mukmin lebih sempurna.

Dia lebih sempurna bagiannya karena kebaikannya muncul dari ketulusan dan mengharap pahala hanya kepada Allah semata. Maka dari itu, Allahl mudahkan dirinya untuk mencurahkan kebaikan dengan sebab dia mengharapkan pahala. Dan Allahl menghilangkan darinya sesuatu yang tidak disukainya dengan sebab ketulusannya dan harapannya terhadap pahala pula. Allah l juga mengatakan di dalam ayat-Nya,

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang-orang yang menyururuh untuk bersedekah, berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (an-Nisa’: 114)

Allah mengabarkan di dalam ayat ini bahwa semua amalan akan menjadi baik jika muncul dari dari keikhlasan. Dan kebaikan akan memunculkan kebaikan yang berikutnya dan akan menghilangkan kejelekan. Seorang mukmin yang mengharapkan pahala akan mendapatkannya, di antaranya adalah dengan lenyapnya segala kesedihan, kegundahan, dan lain sebagainya.

 

Diterjemahkan dari Kitab al-Wasail al-Mufudah lil Hayatis-Sa’idah Syaikh as-Sa’di oleh Hanan Majid Purwokerto 3A Takhasus

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.