Semangat salaf dalam thalabul ilmi

 

Oleh Mujahid Aceh 3A Takhasus

 

Thalabul ilmi adalah ciri khas yang melekat di setiap dinding semangat kaum muda pada masa salaf. Dahulu, setiap pemuda baligh, pasti akan mengarungi rihlah suci, rihlah thalabul ilmi. Thalabul ilmi adalah sebuah ungkapan tentang semangat membara dan cita-cita mulia untuk mengumpulkan ilmu-ilmu syariat yang bertabur bak intan di berbagai majelis ilmu.

 

Saudaraku…

Kita termasuk dari kaum muda. Dahulu, para salaf yang seusia kita telah menghabiskan waktu-waktu mereka dalam thalabul ilmi. Hingga, jasa agung mereka tetap berjaya sampai kita hidup. Tidakkah kita mengenal Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad? Pernahkah kita melihat Shahih Bukhari atau Shahih Muslim? Jawabannya pasti pernah. Ini semua biidznillah dapat kita saksikan disebabkan perjuangan berat mereka dalam menjalani thalabul ilmi. Sungguh, mereka telah mewarnai setiap masa. Dan telah mengukir sejarah indah di kehidupan manusia.

 

Saudaraku…

Ibnu Abil Khanajir pernah berkisah: “Kami saat itu sedang berada di majelis Yazid bin Harun. Dalam keadaan  ribuan penuntut ilmu telah berkumpul dan memenuhi majelis beliau. Lalu Amirul mukminin lewat melintas. Beliaupun menoleh ke arah rombongan penggiringnya seraya berkata: “Inilah kerajaan yang sesungguhnya.”

 

Ibnul Jauzy selama menuntut ilmu telah membaca kitab lebih dari 20.000 jilid.

Al-Khathib al-Baghdadi membaca Shahih al-Bukhari di hadapan Ismail bin Ahmad adh-Dharir dan menyelesaikannya hanya dalam tempo tiga kali pertemuan.

Imam al-Bukhari dalam satu malam bisa terbangun sebanyak delapan belas kali. Hanya, untuk mencatat sesuatu yang melintas di benaknya.

Abu Dawud berkata: “Ishaq bin Rahawaih pernah menyampaikan 11.000 hadits dari hafalannya. Setelah itu, beliau mengulanginya lagi dengan membaca. Ternyata, beliau tidak menambah, juga tidak mengurangi walaupun satu huruf.”

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah mutqin dalam ilmu tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, sejarah, paham kesesatan ahlul bid’ah dan ahlul kitab di usia muda. Bahkan, beliau menguasai bahasa arab hanya dalam tempo beberapa hari. Beliau menguasai kitab Sibawaih hanya dalam beberapa hari. Beliau mulai berfatwa dan berkarya di usia 17 tahun.

 

Allahu Akbar…

Subhanallah...

Memang mereka manusia-manusia ajaib. Hidup mereka penuh makna. Raga mereka senantiasa bergairah demi ilmu. Waktu mereka penuh antara mencari dan menyampaikan ilmu. Zaman kenal dengan mereka. Do’a  ‘rahimuhulah’ senantiasa menghias bibir setiap insan yang menyebut nama mereka.

Maka, marilah kita bersama mengobarkan kembali api semangat. Selama kesempatan, waktu, umur, biaya masih ada. Santri sejati berarti santri yang bisa meneladani kisah hidup mereka. Ayo semangat, mari berjuang, ikutilah jejak mereka, dan jangan pernah putus asa. Semoga Allah memudahkan kita semua. Amin.

 

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِين

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69) Semoga bermanfaat.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Tsabit berkata:

    Smoga Alloh sll mnjaga dan mberi istiqomah dlm mnjalankan tholabul ilmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.