Meraup Berkah dengan Tetap Bersama Ulama Kibar

 

Oleh Muadz Buton, Takhasus

 

Sebuah perkara yang telah menjadi keyakinan ahlus sunnah salafi, bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Dengan sebab mereka, tongkat estafet dakwah para nabi dan rasul terus bergulir seiring dengan berjalannya waktu. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، َإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وإنما وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidaklah mewarisakan dinar ataupun dirham (harta -pent.), akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil  warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil keuntungan besar.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud)

 

Kedudukan Ulama Kibar di Tengah Umat  

Kehadiran mereka di tengah-tengah umat sungguh sangat dibutuhkan. Para ulama bagaikan pelita yang menyinari umat ini dalam kegelapan malam. Dengannya umat manusia dapat memilih jalan yang benar; yang akan mengantarkan pada tujuan mereka.

Mereka selalu tampil sebagai pembimbing, pembina, dan penasehat kebenaran ketika manusia terjebak dalam kebingungan. Mereka hadir untuk mengatasi syubhat yang muncul di masa-masa fitnah.

 

Rekomendasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ulama Kibar

Tak heran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rekomendasi kepada mereka, bahwa keberkahan itu dengan mengikuti bimbingan dan arahan ulama kibar. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

البَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Keberkahan itu bersama orang-orang senior di antara kalian.” (HR. At-Thabrani dan al-Hakim, serta disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)

 

Bahaya Menyelisihi Bimbingan Ulama Kibar

Sebaliknya, keberkahan suatu amalan tidak akan tercapai ketika seorang hamba tidak memerdulikan arahan dan bimbingan ulama kibar. Bahkan akan menjadi malapetaka yang membinasakan, jika bimbingan ulama diselisihi. Justru bimbingan orang-orang berusia muda dan sedikit ilmunya yang lebih diutamakan. Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوهُ عَنْ أَصَاغِرِهِمْ، وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا

“Umat manusia akan senantisa berada dalam kebaikan, selama mereka mengambil ilmu (mengikuti bimbingan, pent.)  dari ulama kibar. Apabila mereka mengambilnya dari orang-orang yang masih muda dan orang-orang yang jelek di antara mereka, mereka akan binasa.” (HR. Ibnu Abdil Barr dan al-Lalikai)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita sebagai seorang sunni salafi sejati, untuk terus meningkatkan dan menguatkan prinsip ‘Bersama Ulama Kibar’ yang kian pudar di zaman ini. Terlebih di masa merajalelanya fitnah syubhat dan syahwat yang telah banyak menyesatkan umat manusia dari jalan kebenaran.

 

Penutup

Semoga Allah subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari fitnah yang nampak maupun yang tidak nampak. Serta memudahkan kita semua, untuk menempuh sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita dari kebinasaan dan penyimpangan. Amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.