Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Tobatnya sang perampok jalanan

 

Oleh Abdurrahim Lumaela Ambon Takhasus

 

Suatu ketika, di saat manusia tengah ramai mengiringi jenazah, tiba-tiba terdengar sebuah tangisan keras, menjeritkan betapa sedihnya ia di hari itu.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa ia merupakan salah satu dari keluarga si mayit, namun ternyata tidak. Ia menangis karena hanyut dalam kekhusyukan dan kekhawatiran, “Kalau saja ia yang menghadapi kematian pada hari itu, apakah ia sudah siap?”

Ketika manusia usai mengantarkan jenazah dan menmpatkannya pada liang kubur, ia masih saja duduk menagis di sana. Benar–benar suasana yang mengharukan, ia masih saja terus bersedih sampaipun manusia sudah kembali dari pemakaman.

 

Ketika kerasnya jiwa menjadi lembut

Tenyata sebagian besar atau boleh dikatakan hampir seluruh pengiring jenazah sudah mengenalinya. Benar!  ia adalah mantan preman, bahkan mantan perampok yang sangat terkenal. Siapa saja yang tengah melakukan safar pada malam hari, akan berhenti sejenak dan menunggu hari esok bila ingin melewati kawasan orang ini. Namun siapa kira dan sangka, jiwa yang dahulunya begitu keras dan kasar dapat menjadi sangat halus dan lembut.

Bahkan tidak sampai di situ saja, ia pun menjadi imam besar di masanya, menjadi  sosok panutan di zamannya, dan menjadi sang kepercayaan bagi temannya.

Yang merekomendasinya bukan orang yang dahulu satu profesi dengannya (perampok jalanan), yang merekomendasi beliau adalah mereka yang tergolong ulama besar, baik dari para guru maupun teman belajarnya.

 

Di antara ulama yang memuji beliau

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: قَالَ ابْنُ مَهْدِيٍّ: هو رَجُلٌ صَالِحٌ

  1. Al-Imam Abu Ubaid:

“Berkata Ibnu Mahdi: ‘Beliau adalah seorang yang shalih’.”

وَقَالَ العِجْلِيُّ: كُوْفِيٌّ، ثِقَةٌ، مُتَعَبِّدٌ، رَجُلٌ صَالِحٌ..

  1. Al-Imam al-‘Ijli:

“Beliau adalah orang Kufah yang sangat terpercaya, rajin beribadah, shalih…”

وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: ثِقَةٌ.

  1. Al-Imam ad-Daruquthni:

“Beliau adalah seorang yang sangat terpercaya.”

قَالَ مُحَمَّدُ بنُ سَعْدٍ: وَكَانَ ثِقَةً، نَبِيْلاً، فَاضِلاً، عَابِداً، وَرِعاً، كَثِيْرَ الحَدِيْثِ

  1. Al-Imam Muhammad bin Sa’ad:

“Beliau sangat terpercaya, cerdas, memiliki keutamaan, rajin beribadah, memiliki sifat wara’ (takut berbuat dosa), dan banyak meriwayatkan hadis.”

وَقَالَ أَبُو وَهْبٍ مُحَمَّدُ بنُ مُزَاحِمٍ: سَمِعْتُ ابْنَ المُبَارَكِ يَقُوْلُ:

رَأَيْتُ أَعَبْدَ النَّاسِ عَبْدَ العَزِيْز بنَ أَبِي رَوَّادٍ، وَأَورَعَ النَّاسِ ………،

  1. Al-Imam Abu Wahb Muhammad bin Muzahim:

“Aku mendengar al-Imam Ibnul Mubarak berkata: ‘Saya melihat orang yang paling rajin beribadah adalah Abdul ‘Aziz bin Abi Rawad, dan orang yang paling takut terhadap dosa adalah…(beliau)’.”

وَرَوَى: إِبْرَاهِيْمُ بنُ شَمَّاسٍ، عَنِ ابْنِ المُبَارَكِ، قَالَ: مَا بَقِيَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ عِنْدِي أَفْضَلُ مِنَ

 

  1. Al-Imam Ibrahim bin Syammas meriwayatkan dari al-Imam Ibnul Mubarak, beliau berkata: “Tidak tersisa di bumi ini menurutku yang lebih mulia dari beliau ini.”

 

قَالَ النَّضْرُ بنُ شُمَيْلٍ: سَمِعْتُ الرَّشِيْدَ يَقُوْلُ: مَا رَأَيْتُ فِي العُلَمَاءِ أَهْيَبَ مِنْ مَالِكٍ، وَلاَ أَورَعَ مِنَ

  1. Al-Imam an-Nadhr bin Syumail:

“Aku mendengar ar-Rasyid mengatakan: ‘ Tidaklah aku melihat diantara para ulama yang lebih berwibawa dari Imam Malik, dan yang lebih takut terhadap dosa dari…(beliau)’.”

 

وَرَوَى: أَحْمَدُ بنُ أَبِي الحَوَارِيِّ، عَنِ الهَيْثَمِ بنِ جَمِيْلٍ، سَمِعْتُ شَرِيْكاً يَقُوْلُ: لَمْ يَزَلْ لِكُلِّ قَوْمٍ حُجَّةٌ فِي أَهْلِ زَمَانِهِم، وَإِنَّ ………حُجَّةٌ لأَهْلِ زَمَانِه.

  1. Al-Imam Ahmad bin Abil Hawari meriwayatkan dari al-Imam al-Haitsam bin Jamil, beliau mengatakan:

“Aku mendengar Imam Syarik mengatakan: ‘Akan senantiasa ada pada setiap kaum orang yang dijadikan sebagai hujjah (diambil perkataanya) di zamannya, (beliau) adalah hujjah bagi orang-orang di zamannya’.”

Siapakah beliau? Apakah yang mendasari taubatnya?

Nantikan kelajutan kisahnya –Insya Allah- pada artikel berikutnya.

 

Renungan

Seorang Mukmin tidak boleh merasa aman hanya karena banyaknya amalan saja dan memandang  orang lain sebelah mata. Terlebih lagi berani mengatakan atau memvonis seorang yang telah jatuh ke dalam dosa besar dan menyatakan “tak mungkin lagi terbuka baginya pintu taubat”, atau yang semisalnya.

Ucapan  ini bisa menyebabkan sang pengucap jatuh ke dalam dosa yang lebih besar lagi, yaitu syirik kepada Allah Ta’ala dan merasa lebih mengetahui dibandingkan Allah Ta’ala yang mengatur takdir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘sesungguhnya Rabbku hanyalah mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, serta mengharamkan perbuatan dosa, dan melanggar hak orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, juga (mengharamkan) dari menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) dari mengatakan atas Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui” (QS. Al-A’raf: 33)

 

Akhir kata

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari sifat–sifat yang jelek lagi rendah tersebut, dan semoga Allah Jalla fi ‘Ula senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat–sifat yang terpuji. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada kita Taufiknya dan keselamatan. Amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.