Tunaikan hak persaudaraan

 

Oleh Moch. Shobron Jamil 3A Takhasus

 

Para pembaca rahimakumullah, dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallhu’alahiwasallam bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lainnya ada enam:

  1. Apabila engkau menjumpainya, maka ucapkanlah salam padanya,
  2. Apabila ia mengundangmu, maka penuhilah,
  3. Apabila meminta nasihat darimu, maka nasihatilah,
  4. Apabila bersin kemudian memuji Allah Ta’ala (mengucapkan: Alhamdulillah), maka Tasymitkanlah dia (ucapkan kepadanya: Yarhamukallah),
  5. Apabila sakit maka jenguklah,
  6. Apabila ia meninggal maka iringilah jenazahnya.’” (HR. Muslim)

 

Hak seorang muslim terhadap saudaranya tidak terbatas pada enam perkara di atas. Terkadang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menyebutkan suatu perkara dan membataskannya, namun di waktu lain Beliau menambahkan dari yang telah disebutkan. Dengan demikian kita tidak mencukupkan hanya pada sabda pertama saja.

 

Hak pertama

Mengucapkan salam kepada saudara sesama muslim jika bertemu, “Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh”. Boleh dengan mencukupkan “Assalamu ‘alaikum”.

 

Pertanyaan:

  1. Apa hukum mengucapkan salam, wajib atau sunnah?

 

Hukum memulai salam adalah sunnah, dikarenakan Nabi shallallahu ’alahi wa sallam memberikan rukhsah (membolehkan) kepada orang yang memboikot saudaranya (tidak lebih dari tiga hari) untuk tidak meberikan salam kepadanya. Berdasarkan hadits ini, memulai mengucapkan salam hukumnya tidaklah wajib, namun menjawabnya adalah wajib kifayah.

 

  1. Apakah boleh bagi kita untuk mengucapkan salam kepada orang kafir?

 

Tidak, dikarenakan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Akan tetapi apabila mereka yang memulai terlebih dahulu, maka wajib bagi kita untuk menjawabnya.

Yang tampak dari hadits di atas adalah sepantasnya bagi kita untuk memulai salam kepada saudara kita, baik ia lebih tua atau lebih muda, baik dalam rombongan maupun sendirian. Hak ia yang harus kita tunaikan adalah dengan kita memulai salam, walaupun ia memiliki kedudukan yang lebih rendah dari kita. Karena seandainya ia tidak mengucapkan salam, tentu telah melalaikan hak kita yang harus ia tunaikan. Maka janganlah kita acuh jika berjumpa dengannya.

Adapun yang lebih afdhal (lebih baik) adalah yang muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, rombongan yang sedikit kepada yang banyak, pengendara kepada yang berjalan, dan yang berjalan kepada yang duduk.

 

Hak kedua

Ialah memenuhi undangannya apabila ia mengundang kita. Hal ini tidaklah bermakna mengundang dalam segala perkara. Terkadang ia mengajak kita ke tempat nongkrong, warnet, bioskop, dan tempat-tempat lain yang tidak ada manfaatnya, bahkan tempat maksiat. Maka bukanlah ini yang diinginkan.

Pertanyaan:

Apakah memenuhi undangan hukumnya wajib?

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukumnya tidaklah wajib, kecuali pada walimatul ‘urs (pernikahan) yang pertama kali. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib.

Apabila dalam undangan walimah tersebut ada kemungkaran, maka tidak boleh bagi kita untuk memenuhinya. Apabila kita mampu untuk menghilangkan kemungkaran tersebut, maka wajib bagi kita untuk memenuhinya dikarenakan dua sebab, yaitu memenuhi undangan tersebut dan menghilangkan kemungkaran padanya.

Jadi, yang wajib hanyalah menghadiri pernikahan saudara kita yang pertama kali, adapun selainnya maka tidak wajib. Apabila diundang untuk kemaksiatan, maka tidak boleh menghadirinya.

 

Hak Ketiga

Memberinya nasihat apabila ia meminta nasihat dari kita. Jika ia memintanya pada suatu perkumpulan atau di luar perkumpulan, maka wajib bagi kita untuk menasihatinya. Kita nasihati dengan nasihat yang baik baginya.

 

Hak Keempat

Mentasymitnya apabila ia bersin dan telah memuji Allah Ta’ala.

Pertanyaan:

Apakah Tasymit itu?

Yaitu apabila seseorang bersin kemudian mengucapkan “Alhamdulillah” (Segala puji hanya milik Allah), maka kita balas dengan mengucapkan “Yarhamukallah” (Semoga Allah merahmatimu).

Bagaimana jika ia tidak mengucapkan “Alhamdulillah”, apakah kita tegur agar ia mengucapkan “Alhamdulillah”, atau bagaimana?

Orang seperti ini tidak lepas dari dua kemungkinan. Yang pertama, mungkin ia tidak tahu tentang hukumnya, maka ia diberitahu tentangnya. yang kedua, ia tahu tapi tidak mengucapkannya, maka orang seperti ini tidak ditegur dan tidak diTasymit, berdasarkan yang nampak dari hadits.

 

Hak Kelima

Menjenguk saudara yang sakit. Yaitu sakit yang menghalanginya untuk keluar dari rumah. Apabila sakitnya tidak menghalangi ia untuk keluar dari rumah, maka bukan itu yang dimaukan.

Pertanyaan:

Apa hukum menjenguk orang sakit?

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah, namun yang lebih tepat adalah fardu kifayahWallahu a’lam-. Yaitu apabila sebagian orang telah menjalankannya, maka tidak ada kewajiban lagi bagi yang lainnya. Sepantasnya bagi kaum muslimin untuk menjenguk saudaranya serta tidak meninggalkannya, karena ini merupakan bentuk pemutusan tali persaudaraan.

 

Hak Keenam

Mengringi prosesi pemakamannya apabila ia meninggal.

Hukum mengiringi jenazah adalah  fardu kifayah. Mengikuti jenazah memiliki pahala yang besar, yaitu mendapatkan dua qirath (pahala seukuran dua gunung besar) bagi yang mengikuti prosesinya dari awal sampai akhir.

Apabila pada proses pemakaman tersebut terdapat kemungkaran, maka tidak wajib bagi kita untuk menghadiri pemakaman tersebut, kecuali jika kita mampu untuk menghilangkan kemungkarannya.

 

Penutup

Hendaknya seorang muslim memiliki perhatian penuh terhadap saudaranya. Yaitu dengan memenuhi hak-haknya yang baru saja disebutkan. Terlebih dari itu adalah memerhatikan hak kepada Allah Ta’ala, dengan menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian hak kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, kemudian kepada orang tua, anak, istri, dan lainnya yang harus ditunaikan.

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu ’alam.

 

 

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.