Urgensi Niat

 

Oleh Ikhwan Faqih Cirebon, Takhasus

 

Ada sebuah hadis yang para ulama sepakat atas kesahihannya, bahkan mereka sepakat untuk menerimanya, juga merupakan salah satu hadis yang perkara agama berporos dan kembali kepadanya. Itulah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah, dari sahabat Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, beliau mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنمَّاَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amalan itu tergantung dengan niatnya, dan seorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun Alaihi)

 

Dari hadis di atas kita dapat menyimpulkan, bahwa seorang yang berwudu dalam rangka beribadah kepada Allah sudah barang pasti berbeda dengan seorang yang melaksanakannya hanya sebatas rutinitas membasuh kedua tangan dan kepala semata. Juga seorang yang melaksanakan salat dengan penuh penghambaan tentu berbeda dengan seorang yang melakukaknya hanya sebatas kebiasaan saja.

 

Pelajari Niat!

Umar bin Khattab berkata, “Tidak teranggap amalan seorang yang tidak menyertakan niat saat melakukannya. Dan tidak ada pahala bagi yang tidak berharap wajah Allah dari amalannya.”

Karenanya, ulama sekelas Yahya bin Abi Katsir sampai berkata, “Pelajari (tekuni) oleh kalian permasalahan niat. Karena niat itu lebih penting daripada amalan itu sendiri.”

 

Pengaruh Niat Terhadap Hasil

Tidak kita pungkiri, bahwa permasalahan niat ini, meluruskan dan membenahinya adalah permasalahan yang amat sulit. Jangankan kita, ulama sekaliber Sufyan ats-Tsauri pun sampai berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku obati (benahi) dibanding niatku sendiri. Karena dia selalu berubah-ubah.”

Namun, karena sulitnya permasalahan niat inilah yang menjadikan dia menjadi permasalahan yang sangat penting dan urgen. Bahkan menjadi permasalahan yang menentukan diterima dan tidaknya suatu amalan. Juga dapat menjadikan amalan yang kita anggap remeh menjadi besar dan sebaliknya.

Sebagaimana yang kata Ibnul Mubarak rahimahullah, “Terkadang amalan yang kecil itu menjadi besar karena sebab niat, dan terkadang pula amalan yang kita anggap besar justu menjadi ringan (di sisi Allah) juga karena niat.”

 

Akhir Kalam

Tujuan dari tulisan ini adalah agar kita sama-sama menginstropeksi diri kita. Berapa banyak amalan yang kita kerjakan hanya sebatas kebiasaan dan rutinitas semata, tanpa ada rasa penghambaan dan dorongan perintah syariat. Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi orang yang ikhlas, dan menjauhkan kita dari sifat riya hingga hari pembalasan, amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.