💦 Tangis Perpisahan Di Bumi Gondang
Tak terasa satu bulan sudah kami berada di desa yang ramah ini. Waktu terasa begitu cepat berlalu, seolah baru kemarin kami melangkah dengan ragu menyapa warga Gondang untuk pertama kalinya. Kini, saat langkah harus beranjak, hati kami terasa berat.
Sebab memang benar, di mana ada pertemuan, di situ pasti ada perpisahan.
Sore itu hujan mengguyur bumi Gondang. Langit seakan turut menangis, mengiringi perpisahan kami. Dari kejauhan tampak sebuah truk merah dan mobil Healin berhenti di depan posko kami. “Mau ngangkut siapa emang?”
Rupanya, itulah mobil yang akan mengantarkan kami pulang ke pondok pesantren—hadiah dari Pak Astan Gilang, seorang astan. Mobil jemputan gratis itu bukan sekadar bantuan, tapi tanda kasih dan penghargaan atas perjuangan kami selama PKL.
Menjelang keberangkatan, suasana di sekitar posko menjadi ramai. Para santri sibuk mengurus kepulangan, sementara para warga turut membantu, dari menyiapkan barang, mengemas perbekalan, hingga memastikan semua tertata dengan baik.
Kami benar-benar terharu—di awal kedatangan, kami disambut dengan hangat; di akhir keberangkatan, kami tetap dihantarkan dengan penuh cinta.
Di sela kesibukan itu, Bu Naideh, tetangga sebelah posko, menghadirkan kehangatan tersendiri. Ia membuatkan santapan perpisahan dengan tangannya sendiri. Namun di tengah suasana haru itu, kami dikejutkan oleh kabar duka: seorang ibu warga desa berpulang meninggal dunia.
Tanpa berpikir panjang, kami segera melaksanakan salat jenazah dan mengantarkannya ke pemakaman.
Langkah kaki terasa berat, bukan hanya karena kesedihan perpisahan, tapi juga karena pelajaran berharga yang Allah tunjukkan malam itu — bahwa ajal bisa datang kapan saja, tanpa aba-aba.
Usai salat Isya, seluruh warga Gondang keluar dari rumah mereka untuk mengantar kami pergi.
Tangis pecah di mana-mana. Anak-anak melambai, para ibu meneteskan air mata, dan bapak-bapak menepuk bahu kami dengan doa yang tak terucap.
Suasana malam itu bukan sekadar perpisahan, tapi puncak dari sebuah persaudaraan yang tumbuh karena dakwah, kerja, dan cinta.
Saat truk mulai berjalan meninggalkan desa, kami berdiri di atasnya dan melambaikan tangan sambil berteriak,
“Terima kasih, warga Gondang!”
Suara kami menggema di antara gelap dan haru. Entah mengapa, tak ada yang mampu menahan air mata. Karena kami tahu, yang pergi bukan hanya tubuh kami, tapi juga sepotong hati yang telah tertinggal di bumi Gondang.


