💡Malam yang Terang, Bersama Warga Gondang
Suasana malam di posko PKL-SPN 2025 terasa berbeda dari biasanya. Lampu gantung yang panjang menjuntai lembut, seakan menari di tengah gelapnya malam. Dari kejauhan, cahaya itu bak mercusuar kecil yang menjadi penanda adanya sebuah kebersamaan yang sedang tumbuh. Malam itu, para santri PKL-SPN menggelar acara ramah tamah bersama warga Desa Gondang Atas, Jember, Jawa Timur.
Acara sederhana tersebut berlangsung penuh kehangatan. Hidangan nasi kuning, telur krispi, tempe goreng, dan sambal teri tersaji. Meski menu sederhana, namun justru di situlah letak kenikmatannya—karena disantap dalam suasana penuh persaudaraan. Beberapa warga bahkan berseloroh ingin menambah porsi, “Nasinya kurang,” ujar Pak Halli, salah satu sepuh, sambil tersenyum lebar.
Acara dibuka oleh salah satu santri asal Medan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan nasehat dari Ustadz Uri, tokoh agama yang dihormati masyarakat setempat. Beliau berpesan dengan penuh kelembutan, “Kalau biasa senyum di depan cermin, jangan sungkan untuk menebar senyum di masyarakat, sebab itu adalah sedekah.” Pesan singkat namun mengena, mengingatkan bahwa kebaikan kecil bisa menjadi pintu besar menuju pahala.
Ramah tamah malam itu semakin semarak ketika seorang anak desa melantunkan pantun berbahasa Madura:
Are’ Gondang mole ka kebun,
Nyadap karet pas waktu subuh.
Tamèh santri taretan nyambung,
Ramah tamah pole tambah guyub.
Pantun itu pun diterjemahkan ke bahasa Indonesia, yang intinya mengikat santri dan warga dalam jalinan keakraban. Hadirin tersenyum, sebagian tertawa kecil—pantun sederhana itu berhasil mencairkan suasana.
Namun kebersamaan tidak berhenti pada tawa dan makan bersama. Seorang sepuh mengeluhkan batuk yang sering kambuh di malam hari. Tanpa ragu, salah seorang santri menawarkan pijatan ringan. Suasana hening sejenak, lalu berubah jadi haru saat bapak sepuh itu merasa nyaman hingga hampir terlelap di posko. Dari sini terlihat, bahwa kehadiran santri bukan sekadar untuk belajar dan praktik, melainkan juga untuk memberi manfaat nyata, sekecil apa pun bentuknya.
Kebersamaan malam itu adalah mercusuar persaudaraan. Senyum yang sederhana berubah menjadi jembatan hati antara santri dan masyarakat. Apa yang awalnya sekadar agenda ramah tamah, menjelma menjadi ikatan ukhuwah yang hangat. Lelah para santri bukan lagi sekadar peluh, melainkan ladang pahala. Inilah hakikat praktik kerja lapangan: hadir untuk memberi manfaat di mana pun berada, meski hanya lewat seulas senyum, sepiring nasi kuning, atau pijatan ringan yang menenangkan.
Allah ﷻ berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Māidah: 2)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani).
Maka, ramah tamah ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga pelajaran berharga: bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat membawa dampak besar, jika dilakukan dengan tulus dan ikhlas.


