π¦ Bersama di Sungai, Bersatu dalam Bahasa, Bertaut dalam Ukhuwah
Seiring berjalannya waktu, pondasi jembatan tua mulai terkikis. Rasa khawatir pun menghantui siapa saja yang melintas di atasnya. Tanpa menunggu lama, pihak PTPN Zeelandia segera mengambil langkah untuk memperbaikinya, dan para santri pun ikut andil dalam pekerjaan mulia tersebut. Keterlibatan ini tidak hanya tentang membangun fisik jembatan, tetapi juga tentang menanamkan semangat kebersamaan.
Pagi itu udara begitu dingin. Seusai apel pagi, pembagian tugas segera dilakukan: ada yang mendapat tugas menyadap, ada yang membersihkan lahan, ada yang memelihara bibit pohon, dan ada pula yang ditugaskan mencari bebatuan di Sungai Gondang yang deras dan menusuk tulang, guna memperkokoh jembatan kuno penghubung antara Desa Gondang dengan Sumber Bulus. Tugas-tugas tersebut dijalani penuh kesungguhan, karena kami sadar bahwa di baliknya ada manfaat besar untuk masyarakat.
Dipimpin langsung oleh Pak Iskandar, kami bekerja dengan semangat membara. Deras dan dinginnya arus sungai tak mampu memadamkan tekad kami. Dari sana terjalin ukhuwah, tumbuh rasa mahabbah, dan semakin erat hubungan antara para santri dan masyarakat. Kebersamaan inilah yang kemudian membawa kami pada pelajaran lain yang tak kalah penting.
Di sela-sela pekerjaan, kami menyisihkan waktu untuk belajar bahasa mayoritas masyarakat PTPN Zeelandia. Bagi yang baru mendengarnya, bahasa itu terasa asing dan cukup rumit. Namun, demi tujuan yang mulia, para santri bersemangat mempelajarinya, mempraktikkannya, serta menghafalnya. Sebagaimana firman Allah taβala,
ΩΩΩ ΩΨ§Ω Ψ£ΩΨ±ΩΨ³ΩΩΩΩΩΨ§ Ω ΩΩ Ψ±ΩΩΨ³ΩΩΩΩ Ψ₯ΩΩΩΩΨ§ Ψ¨ΩΩΩΨ³ΩΨ§ΩΩ ΩΩΩΩΩ ΩΩΩΫ¦ ΩΩΩΩΨ¨ΩΩΩΩΩΩ ΩΩΩΩΩ Ω
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4).
Tujuan kami bukanlah untuk berpidato dengan bahasa mereka, apalagi mengajarkan tata cara ibadah. Cukuplah dengan memiliki sedikit bekal untuk berkomunikasi, memahami percakapan, dan mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar. Bekal sederhana ini kelak menjadi pintu pembuka untuk menumbuhkan kedekatan dan kepercayaan.
Setelah jam kerja usai, banyak pelajaran yang kami petik. Beberapa kosakata bahasa Madura pun mulai kami hafal, di antaranya:
β’ Matur sakalangkong: Terima kasih
β’ Anapah?: Kenapa?
β’ Lastareh Adeβer?: Sudah makan?
β’ Mon nak kanak ngodeh tak kenal lesoh: Anak-anak muda tidak kenal lelah.
Dari kerja yang sederhana ini, lahirlah pelajaran berharga: membangun jembatan bukan sekadar menyatukan dua desa, melainkan juga menyatukan dua hati, dua bahasa, dan dua jiwa dalam ikatan mahabah.


