Abi Umi, kami bahagia di sini

 

Oleh Afiq Abqari Banjarnegara Takhasus 3B

 

Ujian semester telah berlalu -alhamdulillah-, meski kami belum tahu hasil akhirnya. Namun, sudahlah itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang kami ingin menuangkan dalam secarik kertas putih sedikit isi hati selama liburan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Sudah hampir dua tahun kami tidak melihat indahnya kampung halaman (walaupun di luar masa pandemi, sebagian teman kami yang dari luar Jawa sudah biasa 3 tahun atau 4 tahun di pesantren karena pilihan sendiri). Demikianlah, terkadang rasa ini muncul karena lemahnya iman kami. Berbeda dengan para ulama yang rela meninggalkan keluarga demi mecari ilmu syar’i. Bukan satu dua tahun, bahkan puluhan tahun.

Rindu? Itu pasti. Siapa yang tidak rindu dengan pelukan hangat sang umi? Tapi ini pandemi, ada hal-hal yang harus dihindari.

Kangen? Sudah jangan ditanya. Semua pasti merasakannya.

Namun semua itu hilang tatkala kami mendengar salah satu ustadz mengutarakan perasaannya bahwa mereka pun sama, punya orang tua. Mereka sama ingin bersua. Mereka juga ingin bercengkrama. Sebagian orang tua mereka bahkan sudah lanjut usia. Domisilinya pun di pelosok desa. Komunikasi sulit dan mau telpon saja susah, apalagi video call. Meski demikian, mereka tetap sabar mengalahkan ego mereka. Mereka lebih memilih untuk tetap di pondok, mengurusi kami dari pada melampiaskan kerinduan di dada.

Sejatinya kami kangen abi dan umi. Tapi kami malu, malu dengan asatidzah. Masa kita anak muda tidak mampu tegar sepeti mereka. Toh kita masih bisa telpon orang tua setiap minggu meski tak bertemu. Ya Allah karuniakanlah kepada kami kesabaran sebagaimana Engkau karuniakan kepada asatidzah kesabaran.

Abi…umi…

Kalian tidak perlu khawatir, kami di sini baik-baik saja. Kami tak pernah kekurangan, walhamdulillah. Sore ini saja bah..mi..kami bisa makan kentaki yang renyah dan gurih. Kemarin siang kami makan tongkol, sorenya risoles. Hampir setiap hari jum’at menu pondok kami nasgor, ada campuran ayamnya juga. Porsinya juga pas untuk santri, satu piring ful. Bahkan kadang berlebih, alhamdulillah.

Belum tambahan suplemen di pagi hari untuk santri. Cukup dengan bayar 1.000 rupiah, kami bisa minum suplemen hingga puas.  Suplemennya pun bermacam-macam. Kadang wedang jahe, susu secang, sesekali kunir asem, pernah juga jeruk nipis rasa pocari. Suplemen yang dibuat para santri ini cukup membantu menambahkan kekebalan tubuh, sehingga kami tetap sehat dan kuat dalam belajar dan menghafal al-Quran, biidznillah.

Abi…umi…

Liburan kali ini adalah liburan yang sangat spesial bagi kami. Meski tidak pulang, kami di sini tak pernah kesepian. Bagaimana bisa kesepian, sedangkan setiap hari kami pasti mendengar sorak gembira para santri yang sangat antusias mengikuti dan menonton berbagai kompetisi yang diadakan panitia ‘Liburan Ceria ASADI (Aku SukA Di sinI)’. Pagi, sore, dan malam, ada saja perlombaannya. Mulai dari  lomba lari estafet, outbond JASADI (JAdilah  SAntri SejatDI), lomba ketangkasan dan kecepatan SARI’U (SAntri berRanI maj’U), lomba masak , lomba bola, takraw, bulutangkis, pingpong, sampai lomba desain poster protokol covid pun ada di pondok kami.

Liburan akan berakhir, namun perlombaan masih tetap berlanjut. Tadi sore para santri asyik dengan bola voli. Ada yang jadi pemainnya, ada pula yang setia menjadi penonton di serambi masjid, maqshaf (koperesi) dan taman. Nanti malam insyaAllah akan ada lomba tebak kata KUTAIB (aKU Tebak katA ajaIB) antar kelompok di lapangan serbaguna pondok yang terletak persis di depan masjid. Perlombaan-perlombaan ini akan terus berlanjut sampai hari Ahad depan sebelum kami memulai kembali KBM di semester 2. Harapannya berbagai kegiatan ini bukan hanya sebagai hiburan untuk kami saja, namun juga sebagai suntikan  semangat baru dalam menuntut ilmu.

Ini semua baru dari segi materi, belum tinjauan dari sisi maknawi.  Kami sangat bersyukur, di pondok ini Allah Ta’ala tetap menjaga kami, melindungi iman kami. Kami tidak tahu apa jadinya jika kami habiskan masa liburan di rumah. Mungkin dua atau tiga hari kami bisa melampiaskan kerinduan, bisa berbakti kepada orang tua. Namun hari-hari berikutnya? Minggu setelahnya? Kami tidak yakin bisa selamat dari efek negatif ‘setan gepeng’ android. Kami juga tidak yakin apakah bisa tetap menghadiri majelis taklim sebagaimana di pondok –yang setiap harinya kami bisa menghadiri 6-8 pelajaran, alhamdulillah.

Kami tak sanggup jika harus berpisah dengan majelis ilmu. Sampai-sampai sebagian kami berujar bahwa majelis-mejelis ilmu adalah rumahku. Wajar saja terlontar ucapan ini darinya, karena dia tahu segudang keutamaannya. Majelis ilmu itu, sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah duduk suatu kaum dalam rangka mengingat Allah melainkan malaikat akan menunginya, rahmat Allah akan tercurah untuknya, ketenagan  akan turun padanya, dan Allah akan senantiasa menyebut-nyebut mereka di hadapan (malaikat) penguni langit.” (HR. Muslim no. 2700 di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhuma)

Seorang penuntut ilmu juga senantiasa dalam pengawasan dan perlindungan Allah sampai dia menyelelesaikan misinya.

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa yang keluar (dari rumahnya) demi menuntut ilmu, maka dia senantiasa di jalan Allah sampai dia kembali.” (HR. at-Tirmidzi no. 2647, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Bahkan menuntut ilmu merupakan sebab terbesar meraih rumah idaman,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surge.” (HR. Muslim di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhhu)

Dan masih banyak lagi keistimewaan ilmu dan majelis ilmu yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala menolong kita untuk meraih keutamaan ini.

Abi.. umi..

Sengaja kami goreskan tinta ini  merangkai kata, agar abi dan umi tenang di rumah. Jangan khawatirkan kami. Kami disini sangat bahagia. Abi dan umi tidak perlu cemas. Doakan saja anakmu ini, semoga Allah berkahi ilmunya dan menjadi anak yang berbakti. Kami di sini juga senantiasa mendoakan abi dan umi agar Allah Ta’ala senantiasa merahmati kalian, menjaga kalian, memberkahi usaha kalian, dan juga memberikan ketabahan bagi kalian.

Terimakasih abi dan umi..kalian sudah mengizinkan kami untuk melanjutkan misi suci, pencarian warisan para nabi. Jazakumullah khairan wa baarakallahu fiikum.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.