Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Amar ma’ruf nahi mungkar, salah satu sebab keselamatan umat

 

Oleh Shobri Pekanbaru Takhasus

 

Sesungguhnya kewajiban yang paling penting dalam agama Islam adalah yang dapat menghasilkan kebaikan sebuah generasi, keselamatannya, serta keberhasilannya di dunia dan akhirat. Di antara sebab terbesar yang dapat mengantarkan kepada gerbang kesuksesan bagi bangsa adalah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.

 

Inilah jalan keselematan

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mempermisalkan dengan sebuah cerita, sebagaimana yang telah tsabit (shohih) dalam Shahih Bukhori, dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Permisalan seorang yang menjalankan hukum Allah dan yang tidak menegakkannya seperti kaum yang berada  di atas kapal. Maka mereka yang menaiki kapal, ada yang di atas dan ada juga yang berada di bagian bawah kapal. Ketika orang-orang yang di bawah meminta air, mereka memerintahkan orang-orang yang di atas untuk mengambil, diantara mereka ada yang mengatakan, ‘Seandainya kita melobangi kapal dan tidak merepoti orang-orang yang berada di atas kita’, Berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; “Apabila mereka (semua yang berada di kapal) membiarkan apa yang direncanakan orang yang berada di bagian bawah, mereka akan binasa semuanya. Namun apabila mereka mencegahnya, niscaya mereka yang di bawah akan selamat, bahkan seluruh yang di kapal akan selamat semuanya.” (HR. Al-Bukhori)

Maka perhatikanlah wahai sauadaraku seislam! Permisalan yang agung ini berasal dari pimpinan bani Adam, utusannya Rabb semesta alam, makhluk yang paling faham tentang kondisi sebuah bangsa serta sebab-sebab kebaikan dan kerusakannya. Maka engkau akan menemui dari permisalan tersebut petunjuk yang jelas tentang agungnya urusan al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar,

 

Ketahuilah, al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar adalah jalan keberhasilan, jalan kebaikan sebuah bangsa. Maka wajib bagi kaum muslimin untuk menegakkannya, dikarenakan ia adalah perantara yang mengantarkan kepada keselamatan dari sebab-sebab kebinasaan. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak mengulang-ulang di dalam kitab-Nya yang mulia tentang pentingnya al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar.

 

Bersanding dengan sifat mulia

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga sering menyebutkan di dalam al-Qur’an, bahwasannya ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik ummat dikarenakan pada mereka ada sifat-sifat yang terpuji dan mulia yaitu senantiasa menegakkan al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

 

Dengannya Allah memulai perintahnya

Perhatikanlah wahai saudara semuslim. Yang mengedepankan agamanya dan mengiginkan kebaikan bagi bangsanya, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai di dalam ayat ini dengan menyebutkan al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar sebelum penyebutan iman. Bersamaan itu keberadaan iman merupakan syarat sahnya seluruh ibadah, hal ini akan memperjelas betapa agungnya ibadah yang wajib ini, dan bahwasannya Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah mengedepankan penyebutannya dikarenakan apa yang terhasilkan darinya berupa kebaikan yang luas.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Kaum mukmin yang laki-laki dan yang perempuan sebagian menjadi penolong terhadap sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,  menegakkan shalat dan menunaikan zakat, serta ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, merekalah orang-orang yang Allah rahmati, sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Perhatikanlah wahai saudaraku! Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai di dalam ayat ini dengan menyebutkan al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar sebelum menyebutkan shalat dan zakat. Ketahuilah, ia merupakan perkara yang agung, dan luas manfaatnya, serta dampak yang positif pada sebuah bangsa. Dalam ayat ini menunjukkan bahwasannya al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar merupakan akhlak dan sifat yang dikhususkan bagi kaum mukmin laki-laki dan perempuan, dan ini merupakan sifat-sifat mereka yang wajib serta tidak boleh kosong darinya atau menyepelekannya.

 

Celaan Allah bagi yang meninggalkan sifat yang agung ini

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang-orang yang meniggalkan kewajiban ini dari kalangan kuffar (orang-orang kafir) Bani Isroil, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela mereka disebabkan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya al-Mubiin (yang sangat gamblang) tepatnya dalam surat al-Maidah:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ  كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari kalangan bani Isroil melalui lisannya Dawud dan Isa bin Maryam, yang demikian itu disebabkan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Mereka dahulu tidak mencegah dari  kemungkaran, mereka pun melakukannya. Sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 77-78)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhabarkan kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya sebab terlaknatnya kuffar dari kalangan bani Isroil disebabkan kemaksiatan dan sikap melampaui batas. Diantaranya juga, tidak adanya yang mencegah dari kemungkaran yang terjadi di tengah-tengah mereka.

 

Demikianlah Allah menceritakan sifat mereka yang buruk dengan tujuan agar ummat ini lebih berhati-hati dari jalan yang mereka tempuh, dan menjauhi akhlak yang tercela ini. Dan lebih jelas dari itu semua bahwasannya kapan saja ummat ini berakhlak dengan akhlak kuffar dari kalangan Bani Isroil yang tercela, maka berhak bagi dia untuk mendapatkan sebagaimana yang didapati oleh mereka, berupa celaan dan laknat, karena tidak hubungan antara hamba dengan Rabbnya kecuali dengan ibadah dan taat kepada Nya.

Maka siapa saja yang berdiri di atas peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan merealisasikan perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya, berhak baginya mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai keutamaan dan kebaikan dari-Nya, dan dia menang dengan sanjungan yang baik dan hasil akhir yang terpuji.

 

Barang siapa yang keluar dari jalan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang haq, maka berhak untuk mendapatkan celaan dan laknat dan kembali dengan kegagalan serta kerugian, dan telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwsannya beliau bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, apabila ia tidak mampu maka dengan lisannya, apabila ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

 

Dan Imam Muslim meriwayatkan juga, dari sahabat ibnu Mas’ud radhiyaallahu anhu, beliau berkata: Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ، وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ، وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ»

“Tidak ada seorang nabi pun yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus pada sebuah ummat sebelumku kecuali bagi nabi tersebut memiliki penolong setia, orang-orang yang mengambil sunnahnya dan menjalankan perintahnya, kemudian bergantilah generasi setelah mereka yang mengatakan apa yang mereka tidak kerjakan dan mengerjakan apa yang mereka tidak diperintahkan. Maka barang siapa yang memerangi mereka dengan tangannya maka dia mukmin, barang siapa yang memerangi mereka dengan lisannya maka dia mukmin, dan barang siapa yang memerangi meraka dengan hatinya maka dia mukmin, dan tidak ada di bawah itu iman walaupun seberat biji sawi.”

 

Teruslahlah dan jangan berhenti

Maka bertakwalah engkau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bersungguh-sungguh-lah engkau terhadap akhlak yang terpuji tersebut serta teruslah mengerjakannya, begitu juga ajaklah orang-orang yang berada dalam tanggunganmu seperti keluarga, keturunan dan selain mereka untuk selalu serius dalam mengerjakannya, dan perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan laranglah dari yang mungkar semampumu dalam segala keadaan, tempat dan waktu, sebagai bentuk amalan dalil-dalil syar’i yang barusan disebutkan,.

Berakhlaklah engkau dangan akhlaknya kaum mukminin, dan hati-hatilah dari akhlaknya kaum kafir dan mujrimin (yang penuh dengan kubangan dosa), bersemangatlah dan bersungguh-sungguhlah dengan sesuatu yang akan mengantarkan kepada keberhasilanmu dan keberhasilan keluargamu serta saudara-saudaramu dari kalangan kaum muslimin, sebagaiman yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat serta bersabarlah atasnya.” (QS. Thaha: 132)

 

Dan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka, yang mana bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, yang terdapat padanya malaikat  yang keras lagi bengis. Mereka tidak memaksiati Allah sedikitpun terhadap apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan semua apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

 

Diriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau menaiki mimbar, kemudian beliau memuji Allah serta menyanjung-Nya seraya mengatakan: “Sesungguhnya Allah mengatakan kepada kalian, ‘perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum datangnya waktu dimana kalian akan berdoa kepada Ku maka Aku tidak mendengar doa kalian, dan kalian meminta kepada Ku maka Aku tidak memberikannya kepada kalian, dan kalian meminta pertolongan kepada Ku maka Aku tidak lagi menolong kalian.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya, lafadz ini milik ibnu Hibban)

 

Pengertian kata ‘al-ma’ruf dan al-mungkar’

Al-ma’ruf wahai sauadarku, ialah segala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan, sedangkan al-mungkar ialah segala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya larang, dari pengertian ini masuk dalam kategori al-Ma’ruf seluruh ibadah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dan masuk dalam kategori al-mungkar ialah seluruh kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.

 

Sadarlah, semua memiliki tanggung jawab

Kemudian, -ketahuilah wahai saudaraku- setiap muslim adalah pemimpin bagi orang-orang yang berada di bawahnya dan akan dipertanggung jawabkan tentang kepimpinannya. Sebagaimana yang telah tsabit dalam shahih Bukhari dari ibnu ‘Umar radhiyaallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan itu semua dimintai pertanggung jawaban masing-masing, maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dipertanggung jawabkan tentang kepimpinannya, seorang suami adalah pemimipin bagi keluarganya dan akan dipertanggung jawabkan tentang kepimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan akan dipertanggung jawabkan tentang kepimpinannya, dan seorang budak pemimpin dalam hal harta tuannya, dan akan dipertanggung jawabkan tentang kepimpinannya. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggung jawabkan tentang kepimpinannya.” (HR. Al-Bukhori 2554)

 

Penutup

Maka bertakwalah engkau wahai hamba Allah kepada-Nya dan ulang-ulanglah jawaban terhadap pertanyaan ini sebelum turunnya keputusan Allah Ta’ala kepadamu yang engkau tidak akan mampu untuk menerimanya.

Alllah-lah tempat kita meminta agar Dia memberikan kepada kita semua petunjuk jalan-Nya yang lurus, dan semoga Allah memberikan kepada kita dan seluruh kaum muslimin taufik-Nya untuk menegakkan perintah-Nya, keteguhan di atas agama-Nya, dan kita saling memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar, serta saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran di atasnya dengan jujur dan ikhlas. Sesungguhnya Ialah yang Maha Penolong dan Maha Mampu atas segala sesuatu.

Washhallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa manihtada bihudaahu.

Sumber: Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah 3/264.

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.