Berguru Secara Intensif dalam Menuntut Ilmu

 

Oleh Nashr Makassar, Takhasus

 

Ilmu itu diambil dari lisannya para ulama, bukan dari ahlul bidah, orang-orang majhul (yang tidak dikenal), atau orang-orang jahil (yang tidak tahu ilmu agama). Agar seseorang kokoh dalam menuntut ilmu, hendaknya ia berada di atas dasar-dasar yang benar. Seperti: bermajelis dengan para ulama dan mengambil ilmu langsung dari lisan mereka.

Sehingga ia bisa menuntut ilmu di atas kaedah-kaedah yang benar, dan mampu mengucapkan dalil-dalil al-Qur’an serta hadis dengan pelafalan yang sahih tanpa ada kesalahan dan kekeliruan. Ia juga dapat memahami ilmu dengan pemahaman yang benar sesuai maksud yang Allah dan Rasul-Nya inginkan. Lebih dari itu, ia bisa mendapatkan faedah dari seorang alim berupa adab, akhlak, dan sikap wara’.

 

Hendaknya bagi penuntut ilmu untuk tidak menjadikan kitab sebagai guru utamanya. Karena barangsiapa yang menjadikan kitab sebagai guru utamanya, niscaya akan banyak keliru dan jarang benar.

Ini sudah menjadi kenyataan sejak dahulu sampai sekarang. Bahwa tidaklah ada seorang pun yang menonjol dalam bidang keilmuan, melainkan pasti ia pernah berada di bawah bimbingan dan didikan seorang alim.

 

Intensifitas dalam Menuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu juga jangan sampai menyangka bahwa menuntut ilmu itu hanya butuh sehari atau dua hari, sepekan atau dua pekan, sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun. Justru sesungguhnya menuntut ilmu itu membutuhkan kesabaran bertahun-tahun.

 

Imam al-Qadhi Iyadh rahimahullah suatu ketika pernah ditanya:

“Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?”

“Sampai ia meninggal dan tempat tintanya ikut tertuang ke liang kubur.”

 

Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Aku duduk belajar membahas tentang haid selama sembilan tahun sampai aku benar-benar memahaminya.”

Terus-menerus para penuntut ilmu yang cerdik bermajelis dengan para ulama. Ada di antara mereka yang menghabiskan sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan ada di antara mereka yang menghabiskan umurnya hanya untuk menuntut ilmu bersama para ulama sampai Allah Taala mewafatkan mereka.

 

Penutup

Oleh karena itu wahai saudaraku -para penuntut ilmu-, bersabarlah dan bersungguh-sungguhlah di dalam menuntut ilmu, disertai dengan keikhlasan dan banyak berdoa kepada Allah Taala. Semoga Ia memberikan ilmu yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.