Bersyukur (ucapan terima kasih), akhlak yang mulai luntur

 

Oleh Ikhwan Faqih Cirebon

 

Pagi ini, Allah masih mengizinkan kita untuk menghirup udara segar. Membuka mata serta menunda ajal. Seandainya Allah mencabut nyawa kita, tentu kita akan berangan-angan agar dikembalikan ke dunia untuk beramal sholeh.

 

Keutamaan syukur

Maka dengan limpahan nikmat ini, merupakan “PR” bagi kita untuk mensyukurinya. Bagaimana seorang bisa lalai, padahal Allah memastikan adanya tambahan nikmat bagi orang yang mau bersyukur. Allah Ta’ala berkata,

 لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Allah juga tidak akan mengadzab orangyang mau bersyukur. Allah Ta’ala berkata,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 147)

 

Realita pada manusia

Namun kenyataan yang ada pada kebanyakan manusia tidak mau bersyukur. Alangkah benar ucapan Allah Ta’ala dalam kitab-Nya,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba: 37)

Maka ketahuilah! Manusia tidak mau bersyukur tak lain karena kebodohan dan kelalaian mereka. Tidak mungkin mereka berfikir untuk mensyukuri nikmat, jika tidak mengetahui nikmat itu sendiri.

Namun jika manusia telah mengetahui nikmat tersebut, kebanyakan mereka menyangka bahwa syukur itu sekadar ucapan lisan. Mereka tidak mengetahui bahwa arti syukur yang sebenarnya adalah menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan kepada-Nya. Baik mengucapan dengan lisan, bermal shaleh dengan anggota badan, dan menyakini dalam hatinya.

Bersyukur itu bentuknya bisa bersyukur kepada Allah dan bisa pula bersyukur kepada manusia dengan mengucapkan terima kasih kepadanya. Syukur dilakukan dengan taat kepada Allah maupun membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik kepadanya, minimal dengan doa atau tidak mencelanya.

 

Renungan

Dahulu ada kisah orang yang mengeluhkan kemiskinannya kepada orang yang berilmu. Dia menampakkan kesedihannya karena kemiskinan.

Orang yang berilmu tadi bertanya, ”Apakah kamu suka memiliki uang 10.000 dirham tapi menjadi buta?”

Dia menjawab: ”Tidak.”

“Apakah kamu suka menjadi bisu, tetapi memiliki uang 10.000 dirham?”

Dia menjawab: ”Tidak.”

“Apakah kamu suka jika kedua tangan dan kakimu putus tetapi kamu memiliki uang 20.000 dirham?”

Dia menjawab: ”Tidak.”

“Apakah kamu senang jiga dirimu gila tetapi memiliki uang 10.00 dirham?”

Dia menjawab: ”Tidak.”

Orang yang berilmu itu bertanya, ”Tidak malukah kamu, mengeluhkan yang memiliki sesuatu senilai 50.000 dirham pada dirimu?”

 

Kesimpulan

Maka dari itu perhatikanlah nikmat Allah kepada Anda, agar semakin bersyukur. Semua nikmat yang anda ketahui dan yang diketahui seluruh makhluk adalah berasal dari Allah semata. Namun nikmat Allah tidak ada yang bisa menghitungnya, sebagaimana firman-Nya:

 وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menggolongkan kami termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Amin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.