Delay 15 Menit, Kajian Seputar Nataru Tetap Berjalan Lancar

 

Oleh Tim Reportase Santri

 

Kajian Seputar Nataru

Memang benar apa yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan di dalam hadisnya. Bahwa ketenangan akan Allah turunkan kepada orang-orang yang mengingat-Nya dan mau mengkaji Al-Qurán maupun As-Sunnah di dalam salah satu dari rumah-rumah-Nya.

Begitulah rasanya suasana di malam hari ketika itu, seusai hujan turun sore harinya. Hawa segar selepas hujan masih terasa. Sejuknya aroma khas yang dapat tercium. Membuat hati ini nyaman dan tentram. Apalagi ditambah dengan sejuknya hati ini dengan belajar ilmu agama. Benar-benar membuat pikiran dan sekujur tubuh ini tenang dan tentram.

 

Sabtu malam atau malam Ahad kemarin, 21 Jumadil Ula 1443 Hijriah yang bertepatan dengan 25 Desember 2021 Masehi. Kajian sesi-2 yang mengangkat tema seputar Nataru itu diselenggarakan. Judul Kajiannya ‘Jangan Kau Pertaruhkan Akidahmu untuk Nataru (Natal dan Tahun Baru)’. Kajian tersebut bertempat di masjid Ali bin Abi Thalib Ma’had Minhajul Atsar Jember.

Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh hafizhahullah sebagai pematerinya. Kajian ini juga disiarkan melalui radio-radio, sebagai media dakwah yang sangat efektif di masa-masa pandemi Covid-19. Semoga Allah Taala segera mengangkatnya dari negeri-negeri kaum muslimin. Amiin..

Di antara alasan penyelenggaraan kajian ini adalah untuk menjaga keutuhan akidah kaum muslimin. Menyelamatkan serta menyadarkan mereka agar tidak ikut berpartisipasi di dalam Nataru. Membentengi komunitas muslim beserta anak keturunan mereka dari kesesatan dan kebidáhan orang-orang yang berusaha menanamkan berbagai syubhat dalam hal ini.

 

Delay Muhadharah

Muazin langsung mengumandangkan iqamat seusai azan isya berkumandang. Imam pun mempersingkat bacaan salat. Dengan membagi akhir dari surat Abasa menjadi dua bagian, untuk rakaat pertama dan kedua. Meja pembicara telah siap di tempatnya jauh sebelum salat ditegakan lengkap dengan kursinya. Para santri -yang semoga Allah Taala membarakahi ilmu-ilmu mereka- menyiapkannya dengan cekatan beserta microphone, tisu dan segelas air hangat yang tertata rapi di atas meja.

Saat semua hadirin bersiap mendengarkan kajian, salah satu ustadz mengumumkan kepada para santri dan ikhwah yang ikut mendengarkan kajian ini untuk menunggu sejenak. Waktu kajian di-delay sebentar karena adanya permintaan dari sebagian Ikhwan di Jawa Tengah dan daerah barat Indonesia. Dengan tujuan agar mereka bisa menyelesaikan salat isya terlebih dahulu sebelum mulainya kajian. Karena waktu isya di daerah-daerah itu lebih mundur dari waktu shalat di tempat kami.

 

Akhirnya yang seharusnya kajian ini mulai pukul 19.30, tertunda menjadi pukul 19.45 atas permintaan mereka. Ustaz itu juga mengarahkan para santri dan Ikhwan untuk memanfaatkan waktu senggang yang ada dengan berdoa, membaca Al-Qurán, dan sebagainya.

Setelah waktu menunjukan tepat pukul 19.45, salah seorang santri anggota Tim Tasjilat mendekat kepada sang pemateri yang telah duduk menunggu sedari tadi, lalu menyampaikan, ‘Tafadhal ustaz, kajian bisa kita mulai’. Beliau pun membuka kajiannya, hingga berakhir pada pukul 21.10 WIB.


Baca Juga: Muhadharah Menjelang Tahun Baru


Syubhat Seputar Perayaan Natal

Di antara faidah yang dapat kita petik dari kajian yang membahas seputar Nataru ini adalah, bantahan terhadap pihak-pihak yang mereka merupakan ‘toko-tokoh’ Islam di Indonesia ini, ketika mereka menyusupkan syubhat-syubhat terkait perayaan Natal. Di antara syubhat yang mereka lontarkan adalah:

Sebenarnya boleh mengucapkan natal menurut pandangan Al-Qur’an. Karena Nabi Isa lah yang pertama kali mengucapkannya, sebagaimana dalam ayat:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga terlimpahkan kepadaku pada hari aku lahir, pada hari aku meninggal dan pada hari aku bangkit hidup kembali.” (QS. Maryam: 33)

 

Mereka juga menyatakan dalam syubhatnya: “Bahwa tidak mengapa mengucapkan selamat natal (dalam bentuk apapun) selama akidah kita terjaga.”

Mereka juga mengatakan, “Ucapan selamat natal merupakan ucapan yang baik dan dianjurkan, demi kerukunan beragama.”

Lalu bagaimana membantah syubhat-syubhat tersebut? Silahkan dengar jawabannya di audio kajian di bawah ini.

 


Link Download Kajian ‘Jangan Kau Pertaruhkan Akidahmu Untuk Nataru (Natal dan Tahun Baru)’ Sesi-1 (durasi 1.24.51): 24 kbps


Audio Kajian ‘Jangan Kau Pertaruhkan Akidahmu Untuk Nataru (Natal dan Tahun Baru)’ Sesi-2 (16 kbps, durasi 1.23.32):


Audio Kajian ‘Jangan Kau Pertaruhkan Akidahmu Untuk Nataru (Natal dan Tahun Baru)’ Sesi-2 (24 kbps,durasi 1.23.32)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.