Di Pesantren ini, aku banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman

Oleh Abu Muhammad Afifudin Jogja

 

Sambil menunggu mata ini terpejam kurang lebih pukul 23:27, tiba – tiba muncul keinginan untuk menggoreskan tinta hitam diatas putih, menulis? Ya menulis, menulis sekilas tentang pengalaman yang pernah ku alami dari secuplik kisah perjalananku dalam menuntut ilmu.

Dalam kurun waktu kurang lebih 16 th aku telah menjalani proses menuntut ilmu di pondok pesantren, 16 th adalah waktu yang begitu singkat, belum ada apa – apanya jika dibandingkan dengan rihlahnya para ulama terdahulu. Namun, walaupun singkat alhamdulillah Allah subhanahu wa ta’ala memberiku kesempatan untuk bisa mencicipi manis pahitnya menuntut ilmu, dari sinilah aku mendapatkan berbagai pengalaman berharga, walhamdulillah.

Dalam kurun waktu yang singkat ini pula aku telah menjelajahi kurang lebih 5 pondok pesantren yang ada di pulau jawa ini, dari kelima pondok tersebut masing-masingnya memiliki kisah tersendiri, namun pada kesempatan kali ini aku hanya ingin menceritakan secuplik pengalaman yang ku dapat dari pondok terakhirku ini.

Sebuah pengalaman berharga dalam misi yang mulia, sebuah pengalaman dan pelajaran yang akan menjadi bekal untuk menempuh perjalanan dakwah dan tarbiyah, sebuah pengalaman yang belum pernah ku dapatkan dan ku alami sebelumnya, sebuah pengalaman yang merupakan pegangan bagi setiap penyeru kebenaran.

Walaupun tak seberapa besar pengalaman tersebut, tidak begitu ‘wah..’ dimata orang, namun menurutku penglaman tetaplah pengalaman, kalau kata orang ‘pengalaman adalah guru terbaik’  mungkin karena dari pengalaman itulah kita bisa mengambil segudang pelajaran berharga.

Bermula dari sebuah program yang diselenggarakan oleh pondok pada setiap liburan semester ganjil, yaitu, program PKL. Yang mana dari program inilah akan nampak bakat – bakat santri yang terpendam, akan menghilangkan isu – isu negatif ‘santri itu kaku’ ‘santri itu lugu’ dan lain sebagainya, juga akan melatih para santri untuk menjadi pribadi yang mudah bergaul, bermasyarakat, peka, peduli terhadap sesama, peduli terhadap lingkungan, dan memang itulah santri yang sebenarnya.

Sebelumnya mungkin perlu diketahui, bahwa program PKL kemasyarakat ketika itu adalah sebuah program yang diadakan untuk kelas 2 jenjang i’dady (setingkat SMA), namun dengan berjalannya waktu program tersebut digeser menjadi program yang diadakan untuk kelas 3 i’dady sekaligus sebagai pembekalan bagi mereka sebelum lanjut ke jenjang berikutnya.

Nah, waktu itu aku dan teman-teman ku menjalani program tersebut pada tahun ke-2 bertepatan pada tahun 2017 bulan Januari. PKL kami ketika itu bertemakan PKL PD2M ‘Praktek Kerja Lapangan Program Dakwah Di Masyarakat’ yang berlokasi di 6 titik daerah plosok, 4 titik berada di daerah Kampung Laut dan 2  titik berada di pinggiran kota Banyuwangi. Kami pun juga dibagi menjadi 6 kelompok dan masing-masing kelompok ditempatkan pada titik – titik daerah yang telah ditentukan. Walhamdulillah kelompok kami ditugaskan di salah satu titik yang berada di daerah Kampung Laut yang disebut dusun Muara Dua.

DUSUN MUARA DUA

Adalah sebuah dusun yang dipenuhi dengan rawa-rawa, hanya diramaikan dengan belasan bangunan rumah saja. Jarak 1 rumah dengan rumah yang lain sekitar 20 sampai 100 M. Hampir setiap rumahnya dikelilingi dengan air dan rerumputan subur. Disana terdapat 2 masjid, 1 musholla dan 1 gereja Aktif.

MASYARAKAT DUSUN MUARA DUA

Latar belakang masyarakat di dusun Muara Dua adalah masyarakat yang minim ekonomi dan miris agama, karena itulah mereka sempat menjadi korban kristenisasi, namun, alhamdulillah sekarang mayoritas mereka telah kembali kepada agama Islam, hanya  tinggal kurang lebih 2 KK saja yang masih memeluk agama nasrani. Dan yang sangat disayangkan adalah kondisi agama mereka yang sangat memprihatinkan, salah satu contohnya adalah ‘jum’atan harus diSMS dulu’ itupun gak semuanya datang, bahkan sampai pun sudah diSMS masih saja ada yang ‘jum’atan dengerin ceramah diatas pohon kelapa sambil nderes’ (kata salah seorang warga yang memiliki kebun didekat masjid)  Allahul musta’an.

Nah, di tempat inilah kami menggali pengalaman sebanyak-banyaknya. Tetapi, minimalnya ada 2 pengalaman yang paling kami ingat dan selalu teringat, karena kami menjadikan 2 pengalaman tersebut sebagai bekal saat kami terjun di medan tarbiyah dan dakwah. Berikut 2 pengalaman berharga yang kami dapat dari dusun muara dua dalam program PKL PD2M:

BERDAKWAH ITU HARUS DENGAN CARA YANG BENAR

Kesimpulan ini kami ambil dari sebuah peristiwa yang terjadi pada suatu sore selepas shalat ashar, kami langsung berpencar. Ya, memang kebiasan kami setiap selepas Ashar adalah jalan-jalan mencari ‘sasaran’ untuk kami bersilaturrahmi kepadanya, atau juga mencari ‘sasaran’ siapa saja yang membutuhkan bantuan kami. Nah, sore itu sebagian kami melewati sebuah rumah yang belum pernah kami kunjungi, padahal ada penghuninya, tapi mungkin karena malu-malu atau takut gimana gitu… Ternyata rumah tersebut adalah rumah seorang warga yang masih menganut agama nasrani sebut saja namanya pak Slamet dan bu Jasiyem.

Singkat cerita, sore itu ada yang berbeda, yang biasanya kalau lewat rumah tersebut malu-malu atau takut, kini kami mencoba memberanikan diri untuk berkunjung, dan ternyata  kami disambut dengan hangat oleh pemilik rumah, padahal ketika itu pemilik rumah sedang sibuk membersihkan kece (kerang sungai). Namun, kesibukan mereka tidak menjadikan suasana menjadi ‘garing’. Kami pun saling bertanya kabar, keadaan, kondisi keluarga dan ekonomi mereka, ditambah dengan basa-basi tentunya. Namun, karena sore itu waktunya mepet atau singkat, maka kami memutus perbincangan dengan memesan kerang sungai kepada keluarga tersebut dan janjian besok pagi mau berkunjung lagi.

Pagi hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, setelah kami menyelesaikan tugas pagi (piket) di posko, kami pun berangkat menuju rumah bu Jasiyem. Sesampainya disana, ternyata kerang yang kemarin kami pesan belum selesai dibersihkan, melihat hal itu kami tidak tinggal diam, bergegas kami membantu membersihkannya, sembari menunggu rekan-rekan kami yang belum datang. Kami mencoba membuka obrolan; “Bu, ini perahu milik siapa?” setelah melihat ada sebuah perahu yang bersandar di tepi rawa yang ada di samping rumahnya. “Oo itu milik kami, itu pemberian  dari ***** (sebuah organisasi nashara). Biasa kami gunakan untuk mencari penghasilan setiap hari.” Kata ibu tersebut. Mendengar jawaban si ibu itu, hati ini terasa panas, cemburu dan ingin merencanakan niat kurang baik dalam bisikan hati ini, karena kami khawatir jangan-jangan dengan sebab pemberian tersebut keluarga bu Jasiyem sulit untuk meninggalkan agama nasraninya.

Kami pun melanjutkan perbincangan ringan dengan ibu tersebut, sambil menyelesaikan pembersihan  pesanan kerang tadi. Akhirnya, rekan-rekan kami yang ketinggalan bersama ustadz pembimbing kami datang. Suasana pun menjadi semakin meriah, si ibu langsung berganti menyiapkan jamuan hidangan untuk kami. Mungkin ada yang bertanya “kenapa sih kok dari tadi yang sibuk ibunya bukan bapak nya?” karena, bapaknya (pak slamet) sudah sangat tua, sakit – sakitan dan kondisinya lemah, karena itulah sedari tadi yang sibuk, yang kerja dan yang menyambut tamu adalah ibunya.

Setelah kedatangan ustadz kami dan rekan yang lain, perbincangan mulia lebih memanas, kenapa? Karena, kini ustadz kami mulai membahas masalah agama, mendakwahi dan mengajak kepada agama yang benar. Bahkan suasana semakin sunyi, terharu? Ya terharu, melihat ibu tersebut menangis ketika didakwahi, sampai ketika ustadz kami bertanya,

“sekiranya ibu mau kembali kepada ajaran yang benar…” Begitu juga disisipkan kata-kata harapan untuk kembali.

“ya insya Allah nanti . . . tapi sulit rasanya.” Kata ibu itu sambil menangis.

“Loh kenapa kok sulit bu?” tanya ustadz kami.

“ karena. . . pertama, saya ini sudah diberi perahu oleh **** (salah satu organisasi nashara) yang mana perahu tersebut sangat membantu kami untuk mencari penghasilan bagi keluarga kami . .” Jawab si ibu.

Mendengar alasan tersebut hati ini kembali ingin merencanakan niat, namun karena kondisi yang tidak memungkinkan maka kami mengurungkannya. Kemudian si ibu melanjutkan,

“. . (alasan) kedua, dulu pernah ada orang seperti kalian ini kerumah saya mendakwahi saya dan orang – orang lain, Tapi saya tidak suka dengan caranya, mereka sombong-sombong, sok suci dsb…” lanjut si ibu.

“Pernah suatu hari mereka datang ke rumah kami, ditengah-tengah obrolan, mereka ngomong “bu, nonton TV itu tidak boleh, haram hukumnya..” tuturnya.

“Pernah juga ketika saya kasih suguhan atau makanan, mereka tidak mau makan. Sebagian mereka beralasan “ Gak mau karena najis..” -Astaghfirullah..- saya pun marah dan sakit hati, padahal ketika itu saya sudah ingin sebenarnya kembali kepada agama islam, tetapi karena mendengar ucapan orang-orang tadi akhirnya saya gak jadi . .” curhat beliau.

Mendengar curhatan tersebut hati ini terenyuh, merasa bersalah, tertunduk malu, dan bingung ingin mengatakan apa. namun, walhamdulillah Allah subhanahu wa ta’ala membimbing ustadz kami untuk menenangkan hati si ibu serta berusaha untuk merubah suasana dan meyakinkan bahwa kami tidak seperti mereka, hingga ibu tersebut menyampaikan,

“ Ya, insya Allah nanti kami kembali lagi . . alhamdulillah, saya masih menyimpan al Quran.. terkadang kalau malam-malam saya ingat nabi Muhammad dan ingat Allah, saya baca Quran. Kalau lagi gak inget, ya ingetnya ke tuhan (Y***S) . . .”

Setelah berlalu perbincangan hangat, ibu tersebut langsung menyiapkan suguhan dan menatanya di meja tamu serta meminta kami untuk segera duduk di ruang tamu yang masih terpampang padanya berhala salib. Kami pun menyantap hidangan tersebut sembari diselingi obrolan-obrolan ringan dan singkat.

“Dihabiskan makanannya ya.. ibu sudah capek-capek masakin loh..” kata bu Jasiyem. Suasana semakin rame ketika tiba-tiba ibu Jasiyem meluapkan isi hatinya “ini siapa namanya?” sambil mengisyaratkan ke salah satu dari kami.

“J**** bu” jawab kami.

“Kok mirip sama cucu saya, nanti tinggal di sini aja ya nemeni saya…” sontak kami langsung tertawa dan mengiyakan permintaan ibu tersebut –walhamdulillah- suasana semakin semarak dan seru.

Kurang lebih sudah 3 jam kami berteduh di rumah bu Jasiyem, Akhirnya kamipun pamit undur diri pulang ke posko, sekaligus pamitan hendak pulang ke pondok beberapa hari mendatang, nampak sedih dari raut muka bu Jasiyem mendengar ‘cucu’nya mau pulang, hehe.

“Baru mampir sekali sudah mau pulang” komentarnya, terlihat keberatan melepas kami.

Namun, tetap kami lanjutkan saja izin pamit kami dan tak lupa memberi sedikit bingkisan untuk ibu Jasiyem dan pak Slamet..

Semoga dakwah yang kami sampaikan ini mengena di hati mereka berdua secara khusus dan seluruh masyarakat secara umum, kami hanya menyandarkan segala urusan kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.. aamiin

Di hari-hari terakhir kami di dusun Muara Dua, tepat sehari sebelum kembali ke pondok, sore hari ketika adzan maghrib berkumandang, tiba-tiba nampak dari kejauhan sosok bu Jasiyem berjalan dengan membawa sesuatu menuju masjid dengan mengenakan kerudug kecil. Ternyata beliau datang untuk mengantarkan bekal, tangan kanan membawa 1 keranjang nasi, tangan kiri membawa 1 baskom sayur disertai lauk pauknya, Masya Allah Walhamdulillah.

“Ini bekal untuk pulang besok, seadanya ya.. insya Allah nanti suatu saat kami sekeluarga akan kembali..” kata bu jasiyem ketika mengucapkan kata-kata perpisahan sambil mengusap air matanya dengan kerudungnya.

Dari sini kami masih berharap, semoga Allah memberi hidayah kepada keluarganya, dan kami yakin hidayah itu semata – mata di tangan Allah ‘azza wa jalla. Bila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki baik maka pasti Allah akan tunjukkan jalan kebenaran, bila tidak maka semua pasti ada hikmahnya.

إنك لا تهدي من أحببت و لكن الله يهدي من يشاء

Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang kau cintai, akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (al Qashash: 56)

 

MENDAKWAHKAN KEBENARAN MESTI ADA RINTANGAN

Kesimpulan kedua ini, kami ambil dari sebuah peristiwa di pertengahan atau 2 minggu terakhir kami bertugas di dusun Muara Dua.

Berawal pada suatu siang seusai kami makan siang di rumah ustadz kami dan sedang berbincang – bincang hasil misi yang kita jalankan sejak pagi tadi, tiba – tiba sebuah motor mio berwarna merah berhenti di depan rumah ustadz. Seketika itu, orang asing tersebut turun dari motor dan langsung masuk ke rumah ustadz sampai ke ruangan belakang –walhamdulillah- keluarga ustadz sedang berada di dalam kamar. Orang tadi masuk tanpa izin, tanpa bicara sedikitpun, setelah itu dia keluar dan langsung pergi tanpa pamit. Curiga? Ya, spontan kami semua curiga dan saling bertanya “eh siapa tadi?” “gak tau ana” kami semua tidak ada yang mengenalnya.

Setelah itu kamipun langsung kembali ke posko, dan qaddarullah kami semua melupakan kejadian yang baru terjadi siang itu. Tidak terfikirkan sedikitpun oleh kami bahwa kejadian siang itu adalah tanda akan terjadinya sebuah peristiwa. Namun, kondisi kami berbeda dengan kondisi ustadz kami, karena sebagai seorang ustadz beliau telah memiliki pengalaman yang banyak terkait masalah-masalah seperti ini. betul, sejak siang itu ustadz sudah merasakan ada ganjalan dengan kedatangan orang tak dikenal tadi.

Muncul rasa khawatir pada diri ustadz kami, kekhawatiran beliau bertambah dan berlanjut hingga hari mulai petang. Adzan maghrib mulai berkumandang, serasa suasana semakin mencekam ketika beliau hendak berangkat ke masjid. Namun, berbekal taqwa dan tawakkal beliau memantapkan hatinya untuk tetap berangkat kemasjid, dalam keadaan jarak antara rumah beliau dengan masjid kurang lebih 80 – 100 M, ditambah lagi rumah beliau yang terletak sendirian, kanan, kiri dan belakangnya dipenuhi air rawa – rawa dan pepohonan kelapa.

Akhirnya berangkatlah beliau ke masjid, dalam keadaan kami belum ada yang tahu apa yang sedang ustadz rasakan sekarang. Shalat maghrib pun ditegakkan dengan tenang hingga salam. Begitu selesai shalat, ustadz kami langsung keluar masjid dan berlari menuju rumah beliau.

Kejadian ini membuat kami penasaran dan khawatir “apa yang sedang terjadi?” “kok seperti ada sesuatu?” namun, kami mencoba menenangkan diri dan tetap melanjutkan kegiatan rutin kami, sebagian kami ada yang shalat di mushalla pak kayyim dan sebagian yang lain tetap di masjid, hingga adzan isya’ berkumandang. Shalat isya’ pun ditegakkan. Seusai shalat isya’, kami segera menuju ke rumah ustadz untuk makan malam. sesampainya disana ustadz pun bertanya,

“mana yang lain?”

“Oo sebagian masih di mushalla ustadz..” jawab kami.

Kamipun menunggu kedatangan teman-teman kami yang lain. Tak lama kemudian teman – teman kami datang dan langsung menuju rumah ustadz, setelah semuanya lengkap kami pun dipersilahkan menyantap makan malam. Seusai makan, ustadz kami mulai berbicara “emm, malam ini ana minta sebagian antum untuk tidur di rumah ini, 3 orang saja..”

Sebagian kami langsung menyahut “Na’am ustadz, emang ada apa ustadz?”

Ustadz kamipun mulai bercerita,

“Jadi kejadiannya seperti ini, tadi pas shalat maghrib, sebenarnya ana berangkat ke masjid sudah ada firasat-firasat gak enak, khawatir banget. Ketika sedang shalat seakan ana mendengar suara orang teriak, karena itu ana selesai shalat langsung lari pulang. Ternyata benar, begitu nyampe depan rumah sudah terdengar suara tangisan anak ana. Ketika ana masuk, keluarga (istri) ana sudah berada di pojokan rumah sambil ketakutan dan memeluk erat anak ana, dalam keadaan sangat takut, sampai jilbab yang digunakannya terbalik dan walhamdulillah ana bisa menenangkan suasana..”

“Ana tanya keluarga ana, ada apa sebenarnya?.”

Dengan nada tersengal-sengal keluarga menjawab,

“Tadi pas ditinggal shalat maghrib, tiba-tiba ada orang teriak-teriak di belakang rumah, “Woi keluar!!! . . . keluaaar!.. keluaaar cepaaat!!! . .” sambil mendobrak pintu belakang dengan keras sampai gawang pintunya hampir roboh..”

Padahal setelah kami cek pintunya, ternyata hanya dikunci dengan seikat rafia yang dicantolkan ke sebatang paku reng. Perkiraan kami, seakan tidak mungkin kalau pintunya tidak terbuka, karena kuncinya sangat rapuh. Tetapi memang Allahlah yang Maha tahu, Allahlah yang Maha Adil, Allahlah yang Maha menolong hamba-hamba-Nya yang menolong agama-Nya.

إن تنصروا الله ينصركم و يثبت أقدامكم

Apabila kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kaki kalian.(Muhammad: 7)

Singkat cerita beliau melanjutkan,

“… dalam kondisi darurat seperti ini, anak ana menangis keras karena takut, keluarga ana juga demikian ketakutan dan kebingungan (shok), lari kesana kemari mencari tempat berlindung, tapi tidak ada. Akhirnya pasrah diam dipojokan, mengambil jilbab yang penting bisa untuk menutupi diri, tinggal pasrah dan tawakkal saja.. beberapa menit kemudian baru ana datang, setelah ana Tanya, ada apa? Keluarga bilang ada orang dibelakang, ana langsung ke belakang, ana buka pintu belakang, ana cari dengan senter di rawa – rawa dan di pohon-pohon kelapa, tapi ndak ketemu.. qaddarullah wes.. orangnya sudah kabur duluan berhasil melarikan diri atau bersembunyi wallahu a’lam.”

Itulah tragedi yang terjadi malam itu. Akhirnya malam itu juga 3 rekan kami tinggal di rumah sang ustadz. bergadang? Ya, bukan karena gak bisa tidur, tapi tegang rasanya. Kami berjaga jaga kalau ada yang mau buat onar. Jarum jam terus berputar, jam Sembilan.. sepuluh.. dua belas.. jam satu.. tiba-tiba kami dikejutkan dengan salah seorang teman yang sedang tertindih, hehe.. mungkin karena dia ngantuk sekali tapi dipaksa untuk melek. Akhirnya kami pun tertawa melihat kejadian itu dan berkurang rasa ngantuknya.

Waktu terus berjalan, tiba – tiba suasana menjadi tegang, membuat kami semua berdiri. Terdengar suara langkah kaki di perairan rawa – rawa  samping rumah, “cpak, cpok, cpak, cpok..” kami menunggu bayangan yang mendekat ke pintu, sekilas bayangan itu lewat. Ternyata benar-benar kucing. Hhh… Tapi suara langkah masih terdengar, terus kami memperhatikan pintu. Tiba – tiba suaranya menghilang, kami pun mencoba untuk mengintip namun tidak nampak. Akhirnya, kami memberanikan diri untuk membuka pintu, ternyata terlihat ada sosok dengan kaki melingkar di pohon kelapa, ya orang tersebut sedang menderes. Alhamdulillah.. bukan orang yang kami tunggu-tunggu.

Pagi hari pun tiba, namun hati masih dirundung rasa penasaran “siapa sih pelakunya?” , kami terus bermusyawarah, sampai kami sepakat curiga kepada salah seorang warga yang kami kenal prilakunya kurang baik kepada kami. Tidak pernah menyapa, kalau lewat memalingkan muka, terkadang meludah ketika berpapasan dengan kami. Setelah musyawarah demi musyawarah akhirnya kami sepakat untuk berkunjung ke rumahnya, bukan karena ingin menebak atau menuduh, tetapi untuk mengambil hatinya..

Pada hari yang telah ditentukan, kami pun berangkat ke rumahnya dan bertemu dengan orang yang kami maksud, kami berbincang – bincang dingin dengannya, kemudian seusai berkunjung kami memberinya hadiah berupa pakaian, sari kurma dan herbal.

Dan masya Allah, setelah kami kunjungi dan kami beri hadiah seadanya, hati orang tersebut pun mulai berubah yang dulunya membenci, kini semakin akrab dan simpati. Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تهادوا تحابوا.

“ Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencinta.” (Adabul Mufrad, dishahihkan oleh al imam al Albani di dalam al Irwa’)

Hal ini terbukti, ketika tiba hari jum’at beliau adalah salah satu dari segelintir orang yang mau hadir shalat jum’at di masjid, bahkan sangat antusias; berangkat paling awal, hingga sebagian jama’ah lain heran dengan perubahan ini. Karena memang, beliau di dusun tersebut terkenal dengan raut wajahnya yang ngeri, dianggap sebagai orang pintar (paranormal) karena banyak dikunjungi orang dari daerah lain. Beliau kini telah berubah menjadi lebih ramah. Setiap selesai melaksanakan shalat jum’at, beliau menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang sebentar dengan kami sebelum pulang ke rumah. Pada kesempatan itu, kami sempat menanyakan pemberian kemarin apakah sudah digunakan atau belum, atau bahkan sudah habis. Ternyata ada beberapa yang sudah habis, maka kami beri lagi jika masih ada.

Demikian pula ketika lewat atau berpapasan, beliau kini yang mengawali sapaan dengan menganggukkan kepala dan badannya agak miring sedikit, seperti adat orang jawa kalau memuliakan orang lain. Itulah bukti hati beliau berubah dengan sebab izin Allah subhanahu wa ta’ala pastinya, kemudian usaha kita untuk mendekatinya Walhamdulillah.

Akhir kata…

Inilah 2 pengalaman berharga…

Yang kami dapatkan dari sebuah perjalanan mulia…

Yaitu, untuk negeri yang tidak akan fana…

Demikianlah, secarik kisah pengalamanku…

Semoga menjadi bekal kehidupanku…

Dan semoga juga menjadi motifasi tuk kawan seperjuanganku…

Namun, aku adalah anak adam sepertimu…

Yang tak kan lepas dari dosa walupun satu…

Bahkan lebih dari itu…

Maka, ku minta maaf bila terdapat keliru…

Dalam tata Bahasa maupun tulisanku…

Semua itu karena sebab kebodohanku…

Tetapi, insyaAllah aku kan terus menimba ilmu…

Tuk menghilangkan kebodohan dari diriku…

Semoga kita diberi keistiqomahan dalam menuntut ilmu…

Hingga akhir kehidupan kita yang semu…

Aamiiin..

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.