Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Dua rukun puasa

 

Oleh Aufa as-Sundawy

 

Pembaca yang semoga Allah rahmati…

Puasa adalah ibadah. Ikhlas dan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengamalkannya merupakan syarat inti diterimanya ibadah. Lalu tahukah rukunnya? Apa sajakah rukun puasa yang harus ditunaikan agar puasa kita diterima?

 

2 rukun puasa

  1. Menahan diri dari berbagai macam pembatal puasa, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Rukun puasa yang pertama ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Sekarang pergauilah istri-istri kalian dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) waktu malam.” [QS. Al-Baqarah: 187]

Yang dimaksud dengan benang putih adalah putihnya siang. Adapun benang hitam adalah gelapnya malam.

  1. Niat

Seorang yang berpuasa harus meniatkan upayanya meninggalkan berbagai pembatal puasa untuk beribadah kepada Allah. Sebab dengan niat akan terbedakan antara ibadah dengan amalan selain ibadah. Seperti orang yang tidak makan minum untuk kesehatan dan lain sebagainya. Dengan niat pula akan terbedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya, seperti niat puasa wajib atau niat puasa sunah.

Dalil rukun puasa yang kedua ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. [HR. AlBukhari no. 1 dan Muslim no. 1907 dari sahabat Umar]

 

Penutup

Mudah-mudahan pembahasan ini bermanfaat dan menjadi pemberat timbangan di hari kiamat kelak. Amin.

 

Referensi: al-Fiqhu al-Muyassar (1/ 149).

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.