Hukum Melihat Foto atau Video Makhluk Bernyawa

Hukum melihat foto atau video makhluk bernyawa

 

Oleh Abu Ridwan Fahri bin Abdul Hadi, Takhasus

 

Dewasa ini, kita melihat sebuah fenomena yang menyedihkan. Yaitu fenomena bahwa gambar makhluk bernyawa merupakan sebuah hal yang lumrah bagi masyarakat. Baik berupa foto, video ataupun lukisan. Bahkan, lukisan atau foto keluarga sudah menjadi pajangan wajib di setiap rumah.

Ini semua didasari atas suatu anggapan bahwa hal tersebut boleh-boleh saja. Atau dengan keyakinan bahwa ini merupakan adat istiadat setempat. Ada juga yang beralasan bahwa hal ini sulit untuk dihindari, terutama di era seperti ini.

 

Jika demikian, maka perlu kita ketahui bahwa tolok ukur dalam menentukan benar-tidaknya suatu hal adalah Al-Quran dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadis, -ed) sesuai pemahaman salafus-shalih.

Jika baik, pasti mereka telah mengamalkannya dan memerintahkan umat untuk beramal dengannya. Namun, jika itu merupakan kejelekan dan perbuatan dosa, pasti mereka telah melarang umat dari perbuatan itu, serta menghasung mereka untuk menjauhinya.

 

Gambar Makhluk Bernyawa dalam Pandangan Syariat

Begitu pula dalam permasalahan gambar ini, hendaknya kita ukur dengan barometer Al-Quran dan hadis sesuai pemahaman salafus-shalih. Bolehkah gambar makhluk bernyawa menurut mereka.

Berikut kami sodorkan kepada para pembaca sekalian beberapa hadis yang menyebutkan hukum gambar makhluk bernyawa, orang yang menggambarnya dan bagaimana sikap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.

 

Dari sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ قَتَلَهُ نَبِيٌّ، أَوْ قَتَلَ نَبِيًّا، وَإِمَامُ ضَلَالَةٍ، وَمُمَثِّلٌ مِنْ الْمُمَثِّلِينَ

“Orang yang paling keras azabnya pada Hari Kiamat adalah orang yang dibunuh Nabi, orang yang membunuh Nabi, gembong kesesatan, dan pembuat gambar makhluk bernyawa.” (HR. Ahmad 1/407, Syaikh al-Albani menghasankannya di dalam Ash-Shahihah no. 281)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadis yang lain:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى -: وَمَنْ أظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي! فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً؛ أو لِيخْلُقُوا ذَرَّةً

Berkata Allah Taala, “Siapa yang lebih zalim dari seseorang yang mencipta seperti ciptaanku! Coba saja mereka menciptakan biji atau jagung.” (Imam Al-Albani mensahihkannya di dalam at-Ta’liqatul Hisan ala Shahih Ibni Hibban 8/303)

 

Dapat kita simpulkan dari dua hadis di atas sebagai berikut:

  • Larangan membuat segala sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah. Baik itu berupa patung atau yang semisalnya.
  • Larangan ini tidak terbatas pada gambar bernyawa saja. Akan tetapi ia mencakup patung, foto maupun video, berdasarkan hadis di atas.

Pendapat mayoritas ulama ahlus-sunah menggolongkan video sebagai gambar bergerak. Sehingga, video masuk dalam cakupan hadis di atas. Dan mungkin pendapat inilah yang lebih berhati-hati dalam masalah ini –insyaAllah-.


Baca Juga: Hukum Menjepret Foto Makhluk Bernyawa dengan Kamera


Hukum Melihat Postingan Foto atau Tayangan Video Makhluk Bernyawa

Adapun melihat gambar atau video makhluk bernyawa -walaupun tidak menyimpannya-, maka hukumnya tidak boleh selama tidak ada keperluan. Karena, ini menunjukkan persetujuan dia terhadap gambar atau video tersebut. Hal ini juga merupakan bentuk ta’awun alal itsmi wal ‘udwan (bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.(al-Maidah: 2)

 

Ini juga bertentangan dengan perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam agar melenyapkan seluruh gambar makhluk bernyawa. Sebagaimana di dalam hadis Abul Hayyaj al-Asady, ia berkata: Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepadaku:

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟: “أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ.”

 “Maukah engkau aku utus dengan suata perkara, sebagaimana Rasulullah dahulu pernah mengutusku dengannya, ‘Agar tidak menyisakan satu gambar pun kecuali kau lenyapkan dan kuburan tinggi kecuali kau ratakan.’” (HR. Muslim no. 969)

 

Tindakan seseorang melihat tayangan video, lukisan maupun foto yang terdapat padanya gambar makhluk bernyawa tanpa keperluan atau uzur syar’i, tindakan ini menafikan dan bertentangan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Banyak yang beralasan, “Inikan bukan buatan saya…” atau alasan-alasan lainnya yang dibuat-buat.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya (ucapan, -ed). Kalau masih tidak mampu, maka dengan hatinya, inilah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 34)

Bentuk mengingkari dengan hati adalah dengan meninggalkannya serta membenci kemungkaran itu dan orang yang melakukannya.

 

Penutup

Hendaknya seorang muslim tidak meremehkan rambu-rambu agama serta bermudah-mudahan dalam bersikap dan mengambil pendapat. Karena yang demikian itu, khawatirnya menjadi sebab dia jatuh ke dalam fitnah.

Sepantasnya kita takut terhadap ancaman Allah Taala dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.


Artikel Kami: Hukum Gambar Makhluk Tak Bernyawa


 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.