Jangan Sampai Merugi di Masa Pandemi (Nasehat)

berdoa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِۙ – ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ – ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ – ٣

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. al-Ashr: 1–3)

Ya, waktu telah berlalu masapun terus berjalan. Umur kita berkurang, sehingga manusia dalam kerugian. Baik yang mengalami kerugian mutlak maupun yang mengalami kerugian nisbi, jika tidak menjalani ayat di atas.

Sebagian manusia, tidak jarang, bingkai cara berpikirnya masih sebatas materi. Barometer untung, rugi, mulia dan hina, cenderung diukur dengan banyak atau sedikit materi yang dimiliki.

Sebagian insan, sebelum musibah, terbiasa hidup senang, tiba-tiba sekarang terkekang. Dulunya relatif bebas sekarang serba terbatas. Di masa pandemi, keterbatasan bisa terjadi. Ekonomi serasa terhenti, pedagang sepi pembeli. Perusahan banyak yang berhenti produksi. Buruh banyak yang kehilangan pekerjaan, penghasilan menjadi tidak pasti. Apalagi pekerja serabutan, orderan belum tentu ada setiap hari.

Pikiran menjadi galau, langkah kaki gontai. Pulang ke rumah terkadang tidak bawa uang walaupun sehelai. Sementara itu, tuntutan hidup tidak bisa dihindari. Lantas kemana kita akan cari solusi?

Bahkan ada kejadian nyata, ketika seorang terpapar corona, ia mencari jalan pintas untuk mengatasinya. Tragisnya untuk mengobatinya pasien tidak dibawa ke Rumah Sakit rujukan. Akan tetapi, ia lebih memilih membawanya ke dukun. Mungkin karena kebodohan atau faktor lain. Akhirnya, bukannya sembuh, bahkan yang didapat adalah perlakuan yang tidak sepantasnya. Padahal pergi ke dukun merupakan perbuatan yang sangat terlarang dalam agama.

Pembaca rahimahukumullah

Syariat memberi bimbingan kepada kita dengan banyak bimbingan, (agar) kita tidak termasuk dalam firman Allah:

إن الإنسان لفي خسر

“Sungguh insan (manusia), berada dalam kerugian.”

Makhluk ciptaan Allah, dari  golongan manusia secara umum, dalam kerugian. Potensi untuk terperosok dalam lobang kerugian terbuka lebar. Jangan sampai kita larut dalam suatu masalah yang melalaikan kita, yang membuat kita masuk dalam orang-orang yang merugi.

JALAN KELUAR DARI KERUGIAN

Diantara amalan terpenting, yang sering manusia itu lalai adalah apa yang dikatakan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah hidayah (petunjuk) maka baginya akan mendapat pahala semisal pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Wahai kaum muslimin,

Barangsiapa yang menunjukkan, kepada jalan hidayah. Hidayah seorang terkait imannya, supaya imannya bertambah. Hidayah seseorang terkait aqidahnya, agar lurus dan benar. Hidayah manusia terkait ibadahnya, agar benar, tepat secara zhahir, mencocoki bimbingan manusia yang diutus oleh Allah, yaitu Rasulullah, di dalam sunnahnya, dan tepat secara batin, yaitu dilakukan ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hidayah manusia terkait akhlak dan adabnya. Hidayah terkait muamalah kesehariannya.

INVESTASI PASTI

“Barangsiapa yang menunjukkan seseorang kepada sebuah hidayah, maka dia akan mendapatkan aliran pahalanya, seperti orang yang melakukannya.”

Pahala ini tidak akan berhenti. Ini merupakan investasi akherat yang bernilai tinggi, yang terkadang tidak memerlukan biaya besar. Jangan salah kita memilih investasi, jangan sampai kita menjadi seorang investor yang salah pilih.

Di waktu yang terbatas, masa hidup yang sebentar, pilihlah investasi yang tertinggi. Terlebih lagi, modal kita sedikit, (baik) modal ilmu, modal tenaga, modal waktu.

Wahai saudaraku kaum muslimin,

Dari hadis di atas, tentang pentingnya membimbing manusia kepada hidayah, kita diberi kesempatan untuk meraih pahala. Maka dari itu manfaatkan kesempatan ini. Pertanyaan besar?

Apa kita sudah punya andil dalam mengajak dan membimbing  manusia agar memperoleh hidayah?

Sudahkah kita berinvestasi?

Dalam hadis lain, Nabi bersabda,

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها لا ينقص من اجورهم شيئا

“Barangsiapa menghidupkan jalan baik (dari sisi keimanan, ibadah, akhlaqnya, tutur katanya, semua sisi agama), maka dia akan mendapatkan pahala dari amalan dan sunnah yang dia lakukan dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak berkurang sedikitpun pahala orang yang mengikutinya.”

Ya, mengalir terus, sampai kita meninggal dunia, sampai ditiupkannya sangkakala, bangkitnya manusia, hancurnya dunia ini, terus mengalir.

Pembaca, di samping membantu memikirkan solusi pemenuhan ekonomi; agar produktif, tetap aman dan imun di musim Pandemi, sebagai orang yang beriman,  harus tetap peduli terhadap iman dan akidah saudaranya.

Jangan putus asa!

Jangan sampai rugi di dunia, terlebih di akhirat nanti!

Marilah dalam kesempatan ini, kita berperan, ikut andil, menyebarkan ajaran tauhid. Masyarakat umum, tidak boleh terlalaikan untuk mengenal tauhid. Perdukunan dan pengobatan kepada “orang pintar” terus berkembang di masa Covid-19 ini.

Kemaksiatan, khurafat, pembodohan terhadap umat, terus tumbuh berkembang. Ini justru dikhawatirkan akan mengundang azab ini semakin lama.

Kaum muslimin, jangan sampai kita lalai dan abai dalam masalah ini. Kita harus bangkit, harus berbuat. Ya, bertobat kepada Allah, memperbaiki diri dan keluarga serta masyarakat, menaati imbauan pemerintah, dst.

Nabi mangatakan,

 بادروا بالأعمال !

“Bersegeralah dalam beramal!”

Jangan berpangku tangan, jangan ditunda. Apabila bisa melakukan kebaikan sekarang, maka segera laksanakan. Berikutnya lagi, bisa melakukan amal kebaikan yang lainya, maka lakukan.

Diantara yang praktis lagi mudah, bisa kita lakukan antara lain ikut andil menyebarkan ilmu agama yang sudah tersaji. Kita bisa bagikan, situs www.islamhariini.com atau www.tanggapcovid19.com dan yang lainnya.

Jangan bilang nanti! Jangan ditunda! Kenapa? Karena ujian dan cobaan silih berganti datang kepada kita.

BERDOA DAN BERUSAHA

Disamping itu, jangan lupa di musim Pandemi, kita semakin banyak beribadah, berdoa, shalat malam, berdzkir, thalabul ilmi. Dalam situasi musibah seperti ini, hendaknya kita banyak mengoreksi diri, mengingat betapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Dengan itu, akan melahirkan sikap segera kembali berdoa dan tadharru’ (memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri), seraya menyesali dosa dan kesalahan, memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (QS. al-A’raf: 94)

Semoga Allah jauhkan kita, keluarga kita, anak-anak kita, teman-teman kita, dari kerugian, baik kerugian nisbi, terlebih kerugian mutlak. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita, keluar dari dunia ini sebagai orang yang selamat, dan keluar dari musibah Covid-19 ini dalam keadaan iman dan akhlak kita tetap terjaga. Amin. (TM/MJD)

 

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Araa' berkata:

    Bismillah,apakah bisa kami bergabung dengan situs ini? Bagaimana caranya? Syukrin katsiir..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.