Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Jihad sesuai sunnah vs “jihad” kaum teroris

 

Oleh Afiq Abqari Takhasus 

 

Banyak orang yang pobia dengan kata ‘jihad’. Di benak mereka ‘jihad’ identik dengan pengeboman  dan kekerasan. Wajar saja terlontar penilaian seperti ini, pasalnya belakangan ini muncul berbagai kelompok yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Namun, justru praktek jihad yang mereka aplikasikan sangat jauh dari bimbingan Islam, agama yang penuh kedamaian.

Merekalah kaum khawarij (teroris) dengan berbagai sekte yang ada. Akibat aksi-aksi teror serampangan mereka, nama baik Islam pun tercoreng. Hingga terkenal di mata dunia bahwa Islam sumber kekacauan dan radikal.  Maka kiranya perlu kami paparkan pada kesempatan ini 3 sisi perbedaan jihad versi sunnah dengan jihad versi teroris, sebagai bukti kedustaan dan klaim palsu mereka yang mengatasnamakan Islam dan jihad.

 

Tujuan jihad

Tentang jihad, Allah Ta’ala menyatakan dalam al-Quran,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan) lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakan serta menunaikan zakat. Apabila mereka melakukannya, darah dan harta mereka akan terjaga kecuali dengan hak Islam dan urusannya diserahkan kepada Allah” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 36 dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

 

Tujuan jihad 

Bimbingan Sunnah

Inilah tujuan disyariatkannya jihad, yaitu agar Allah Yang Maha Esa satu-satunya sesembahan yang diibadahi. Oleh karena itu, dalam syariat Islam, sebelum berperang didahului oleh proses dakwah dan ajakan untuk berislam yang disampaikan dengan cara damai dan santun. Bukan asal serang. Bukan pula asal menang dan mendapat kekuasaan.

 

Versi teroris

Berbeda dengan misi jihad kaum teroris, tujuan aksi-aksi teror yang mereka gencarkan adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyah (negara Islam), agar hukum Allah bisa ditegakan di muka bumi[1]. Karena menurut hemat mereka, hukum Allah tidak akan bisa ditegakkan melainkan dengan adanya Daulah Islamiyah.

Niatan yang sebenarnya bagus. Namun sayang, mereka tidak melandasi niatan mereka dengan bimbingan ilmu. Hanya modal semangat perjuangan yang menemani mereka. Akhirnya Islam dan kaum muslimin lah yang terkena getah ulah jihad serampangan mereka.

 

Sasaran jihad

Jihad memiliki aturan dan ketentuan yang harus terpenuhi. Di antara sekian aturan jihad tersebut adalah bahwa tidak semua orang dari pihak lawan boleh dibunuh. Wanita, anak-anak, lanjut usia, dan orang-orang lemah yang tak terlibat perang, tak boleh dibunuh. Demikian pula tempat-tempat ibadah orang kafir, tidak boleh serta merta dihancurkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وَلَا تَغْدِرُوا , وَلَا تَجْبُنُوا , وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا , وَلَا امْرَأَةً , وَلَا شَيْخًا كَبِيرًا

“Janganlah kalian takut, jangan membunuh anak-anak, jangan pula wanita, dan jangan pula orang tua.” (HR. Ath-Thabarani no. 340, dari Sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu(

Disamping itu, tidak semua orang kafir boleh untuk dibunuh. Hanya ada satu keadaan yang minjadikan oranng kafir boleh dibunuh. Yaitu ketika dia berstatus sebagai kafir harbi (kafir yang memerangi kaum muslimin).

Allah Ta’ala berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

” Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalikan dari menjadikan orang-orang yang memerangi kalian karena agama, dan mengusir kalian dari negeri kalian, serta orang-orang yang membantu mengusir kalian, sebagai kawan. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS. Mumtahanah: 8-9)  

Sasaran Jihad Versi Teroris

Namun sayang, alih-alih ingin membela Islam justru yang menjadi sasaran jihad mereka malah kaum muslimin sendiri. Tindakan kaum teroris khawarij ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

“Mereka membunuhi orang-oranng islam, namun membirkan para penyembah berhala (orang-orang kafir).” (HR. Al-Bukhari no.3344 di dalam shahihnya, dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu)

Wajar saja, karena mereka telah mengganggap semua masyarakat muslim keluar dari agama Islam (telah kafir). Tidak ada yang tersisa di dunia ini seorang muslimpun, melainkan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Bahkan sesama kelompok teroris mereka saling mengafirkan.

 

Intruksi Jihad

Adapun intruksi jihad, Islam memberikan bimbingan bahwa jihad wajib dilaksanakan melalui instruksi dari pemerintah yang sah. Jihad tidak boleh dilakukan oleh individu, kelompok, atau organisasi tertentu. Tidak boleh pula dipimpin oleh amir jamaah (ketua kelompok).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya pemerintah itu adalah pelidung/perisai, musuh diperangi dan dihindarkan bahayanya di bawah kepemimpinan pemerintah tersebut.”  (HR. Al-Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1841, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

 

Intruksi jihad bukan dari amir jamaah (ketua kelompok)

Sayangnya, prinsip jihad yang mendasar ini sudah diabaikan oleh kelompok-kelompok radikal-teroris. Dalam prakteknya, mereka jusrtu berjihad dengan dipimpin ketua (amir) kelompoknya masing-masing. Ada kelompok ikhwanul muslimin, al-Qaeda, Jabhah an-Nushra, Jamaah Islamiyah, ISIS, dan masih banyak lagi.

Bagaimana mungkin mereka akan melaksanakan jihad bersama pemerintah, sedangkan di antara prinsip penting dalam akidah kaum teroris adalah meyakini bahwa pemerintah–pemerintah muslimin yang ada sekarang sebagai thaghut yang harus diperangi. Sebab, pemerintah-pemerintah tersebut telah divonis kafir oleh mereka.

Sebagai contoh perhatikan ucapan Usamah bin Laden, dedengkot teroris dunia berikut ini.

“Para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, sekaligus telah keluar dari agama (Islam) ini. Dengan demikian mereka telah mengkhianati umat.” (al-Jazeera, 5-12-1423 H)[2]

Demikian ucapan kawannya Abu Muhammad al-Maqdisi sosok tokoh teroris Khawarij yang dijadikan rujukan oleh kelompok teroris yang ada di negeri ini,

“Di dunia pada hari ini semuanya adalah negri kafir. Tidak ada yang aku kecualikan, termasuk Makkah dan Madinah.” (Tsamratul Jihad hal. 14 karya al-Maqdisi)[3]

Dan masih banyak contoh-contoh ucapan tokoh kelompok teroris-radikal  yang sangat bertentangan dengan keindahan dan kedamaian yang dibawa agama Islam.

 

Kebodohan, sumber munculnya jihad serampagan (terorisme)

Mungkin kita bertanya-tanya, kok bisa ada orang yang mau melakukan pengeboban dengan merelakan hilangnya nyawa? Sedangkan keumuman manusia justru ingin panjang umur.

Itu semua disebabkan kebodohan mereka terhadap ajaran agama Islam yang sebenarnya. Betapa banyak anak muda yang masih polos dijejali paham ekstrem dan radikal. Dengan kehampaan ilmu yang ada pada mereka, dipiculah semangat berperang. Doktrin ekstrem dengan kemasan jihad disuntikan pada mereka. Akhirnya daya tempur melibas musuh meluap-luap.

Siapa yang tidak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai musuh atau kaki tangan kaum kafir. Sikap ekstrem ini berujung pada pengkafiran dan tindakan teror.

Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan sifat dasar yang melekat pada kelompok-kelompok radikal-teroris. Beliau bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Pada akhir zaman nanti akan muncul sebuah kaum yang muda belia usianya dan pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan manusia terbaik (yakni; Nabi Muhammad). Mereka rajin membaca al-Quran, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka  melesat keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari tubuh buruannya.” (HR. al-Bukhari no.3611 dan Muslim 1066, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)

 

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa klaim dusta yang mereka elu-elukan justru merusak keindahan dan kedamaian agama Islam.

Aksi-aksi teror kaum radikal di berbagai penjuru dunia sangat menyayat hati kaum muslimin. Pengeboman yang mereka bungkus dengan nama ‘Jihad’ tak ubahnya justru mencemarkan nama baik Islam. Mungkin terbesit di pikiran kita “Mengapa bisa muncul aksi jihad serampangan (baca; terorisme) disana-sini?”

Pasalnya Jihad tidak asal membunuh dan tidak asal ‘yang penting berani’. Jihad tidak pula semata-mata dorongan emosi dan perasaan. Oleh karena itu, dalam syariat Islam, sebelum berperang didahului oleh proses dakwah dan ajakan untuk berislam yang disampaikan dengan cara damai dan santun.

 

[1] Lihat majalah asy-Syariah Edisi Khusus ‘Mengapa Teroris Tak Pernah Habis?’ Hal.49 paragraf 1-3.

[2] Lihat majalah asy-Syariah Edisi Khusus ‘Mengapa Teroris Tak Pernah Habis?’ Hal.12

[3] Lihat majalah asy-Syariah Edisi Khusus ‘Mengapa Teroris Tak Pernah Habis?’ Hal. 49

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.