Kabar indah bagi yang berusaha istiqamah

 

Oleh Tim Mading Santri Takhasus

 

Wajib atas kita semuanya untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dan merenungi berbagai nikmat-Nya yang telah Allah karuniakan kepada kita pada setiap waktu dan langkah kita di muka bumi ini. Nikmat yang terbesar adalah nikmatul Islam ketika Allah lahirkan kita sebagai muslimin. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah ar-Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah nikmat yang hanya Allah berikan kepada para hamba-Nya yang Dia pilih untuk mendapatkan karunia yang besar ini. Allah Ta’ala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Jika kalian bersyukur kepada Allah pasti akan Allah tambah nikmat tersebut namun apabila kalian kufur sungguh adzab-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 07)

 

Nikmat paling berharga

Dan ketahuilah setelah nikmat Islam yang sangat didambakan oleh setiap hamba mukmin adalah nikmat istiqomah, istiqamah di atas tauhid, di atas ibadah kepada Allah Ta’ala, istiqomah di atas Islam, istiqomah di atas Sunnah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  mengatakan di dalam al-Qur’an tentang nikmatul istiqomah ini, tentang karunia istiqomah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

 

Penjelasan ayat

Sesungguhnya orang-orang yang bersaksi bahwa Rabb, pencipta pengatur adalah Allah, kemudian beristiqomah di saat wafat, di saat malaikat maut hendak menjemputnya, turunlah para malaikat berbondong-bondong dari langit atas perintah rabb mereka, atas perintah Allah Ta’ala  memberikan kabar gembira kepada calon jenazah yang istiqomah dibuka bumi yang tetap bertahan di atas Islam  di atas tauhid di atas ibadah di atas ikhlas memberi kabar gembira:

“Agar kalian tidak takut, tidak khowatir atas apa yang kalian hadapi setelah kematian ini dan janganlah kalian bersedih terhadap apa yang kalian tinggalkan di dunia, keluarga dan anak keturunan. Allah menjaganya, Allah melindunginya.”

Demikian kabar gembira yang dibawa para malaikat yang berbondong-bondong turun dari langit menjemput calon jenazah ini. Mereka mengatakan: “Kami adalah penolong-penolong kalian di dunia dan kami para malaikat ini adalah penolong-penolong di akherat nanti.

Penolong di dunia dalam bentuk berdo’a memohonkan perlindungan, hidayah dari Allah untuknya. Dan di akherat nanti dalam bentuk syafa’at para malaikat dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demikian kabar gembira kepada orang-orang yang beristiqomah.

 

Tidak ada yang mudah, semua butuh perjuangan

Istiqomah itu adalah perkara yang azizah (sulit) diraih, kecuali yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya taufiq, Allah taqdirkan dia termasuk orang-orang yang istiqomah

Sungguh bertahan, berkesinambungan, berkelanjutan di atas Islam, di atas tauhid, di atas ibadah, di atas Sunnah, di atas ikhlas kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah letakkan kepadanya berbagai sebab yang apabila seorang hamba diberi sebab istiqomah tersebut, sangat besar kemungkinan Allah akan menolong dia untuk memberikan karunia nikmat istiqomah tersebut. Dan di antara sebab-sebab istiqomah dan boleh dikata adalah sebab yang terbesar adalah mengikhlaskan niat hanya kepada Allah Ta’ala.

 

Mengikhlaskan niat kepada Allah Ta’ala dalam bertauhid, ketika beribadah dia hanya kepada Allah, ketika dia bertaqorrub, dia kepada Allah, mengikhlaskan niat kepadanya ikhlasun-niyyah di dalam berpegang teguh dengan sunnah rasul bukan untuk yang selain Allah Ta’ala  bukan untuk seseorang selain rabbul alamin. Bukan untuk sesuatu duniawai. Ketika dia menjalankan sunnah, ketika dia menjalankan tauhid, ketika dia menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seorang yang mukhlis, seorang yang ikhlas di dalam menjalankan tauhid dan sunnah dia akan menjadi seseorang yang sabar. Seseorang yang memiliki kesabaran menjalaini Islam seorang yang memiliki kesabaran di dalam menjalankan tauhid, seseorang yang memiliki kesabaran di dalam menjalankan sunnah dan ibadah, akan memiliki kesabaran di dalam berpegang teguh untuk menjalankan manhaf salafy.

 

Konsekuensi perkara yang pasti terjadi

Ketahuilah, kaum muslimin ‘ibadallah.

Bahwa tauhid memiliki lawazim -memiliki kosekuensi- bagi orang yang berpegang teguh dengannya. Begitu juga berpegang teguh dengan sunnah nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, di belakang itu ada lawazim, akan ada konsekuensi-konsekuensi yang muncul menimpa seorang hamba, menimpa dirinya, menimpa keluarganya, menimpa dunianya, menimpa fisiknya menimpa qolbunya.

Seorang yang berpegang teguh dan istiqomah di atas ibadah bukan tanpa konsekuensi dan tanpa pengorbanan. Begitu juga seorang yang berpegang teguh dengan manhaj salafi, di dalam akidahnya, berpegang dengan al-manhajus-salafi, di dalam beriman, berpegang dengan al-manhajus-salafi di dalam beribadah, bermanhaj, berdakwah, bermu’amalah. Semua itu bukan tanpa pengorbanan semua itu berjalan bukan tanpa adanya konsekuensi yang muncul dari diri kita.

 

Demikian Allah Ta’ala telah menegaskan di dalam banyak ayat-Nya:

مَا كانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

“Tidaklah Allah akan membiarkan kaum mukminin berada di kondisi yang kalian terus-menerus berada di atasnya, (pengakuan iman, pengakuan isalm tanpa ada ujian tanpa ada musibah tanpa ada konsekunsi dan lawazim) yang dengannya akan terpisah mana hamba Allah yang jelek dan mana hamba Allah yang baik.” (QS. Al-Imran: 179)

Proses ini akan terus berlangsung, tidak akan berhenti sampai datang kepada hamba itu al-maut, datang kepada setiap pribadi kematian dan berhenti secara total dengan berhentinya kehidupan dunia ini dengan datangnya yaumul qiyamah.

 

Buah dari ikhlas

Maka dari itu, semua menuntut dari kita kesabaran. Seseorang tidak mungkin bisa berjalan di atas tauhid kalau dia tidak memiliki kesabaran. Seseorang tidak bisa beristiqomah di atas sunnah kalau dia tidak memiliki kesabaran. Seseorang tidak akan bisa bertahan di atas akhlaq yang mulia, di atas mu’amalah yang terbimbing kalau dia tidak memiliki kesabaran.

Maka ketahuilah, bahwa kesabaran itu merupakan salah satu buah dari ikhlasun-Niyyah (mengikhlaskan niat hanya untuk Allah). Seorang yang ikhlas di dalam menjalankan tauhid dia tidak akan pernah mundur sedikitpun, walau dengan ancaman apapun. Dikarenakan dia berpegang teguh dengan tauhid.

 

Seorang yang ikhlas saat menjalankan tauhid tidak akan pernah kecewa kepada manusia karena dia berharap hanya karena Allah, tidak berharap ridho manusia. Seorang yang ikhlas di dalam menjalankan as-sunnah, di dalam menjalankan dakwah, di dalam menjalankan ibadah dia akan terus bersabar di atasnya walaupun dia tidak mendapatkan sesuatu dari manusia, walaupun manusia mengecewakannya, walaupun maunsia tidak bisa menghargainya, walupun manusia tidak mau menyanjungnya, walupun manusia meremehkannya, dia tidak akan pernah kecewa dan karena itu, dia akan tetap sabar dan istiqomah. Karena dia ikhlas mengaharapkan ridho Allah Jalla wa ‘Alaa.

 

Kondisi orang yang ikhlas

Kaum muslimin hamba-hamba Allah yang dimuliakan.

Ketahuilah, seorang yang mukhlis ketika dia melakukan amar-ma’ruf nahi munkar, ketika dia menjalani dakwah, ketika dia menyampaikan ilmu, dia akan sabar apapun rintangan yang dihadapinya. Seorang yang mukhlis yang haya mengharapkan ridho Allah Ta’ala, tidak akan pernah berhenti melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Walaupun manusia di sekitarnya tidak ada yang mau mendengar ajakannya. Walaupun manusia di sekitarnya mencemoohnya dan mengejeknya. Dia akan terus berjalan di atas dakwahnya teresbut, karena dia mukhlis, karena hanya Allahlah yang dia lihat dan dia harapkan.

 

Pandangannya jauh kedepan, jannatullah. (surga Allah Ta’ala ) ridho Allah dan pertemuan dengan Allah Ta’ala dalam keadaan Allah ridho kepadanya.

Seorang yang mukhlis ketika menjalani sunnah, ketika menjalani hukum-hukum syari’at, dia tetap akan bersabar walaupun dia terhalangi dengan berbagai perhiasan dunia, walaupun berbagai urusan dunia dia berkurang dan menurun, dia akan tetap akan bersabar karena dia tahu ketika dia menjalankan syari’at, ketika dia menjalankan hukum-hukum Allah dan rasul-Nya dia hanya mengharpkan ridho Allah Ta’ala,

Walaupun manusia di sekitarnya kecewa terhadapnya. Walaupun keluarga memandangnya dengan pandangan penuh cibir, pandangan penuh perendahan, dia akan tetap bersabar menjalani sunnah ar-rasul, menjalani berbagai hukum syari’at, menjalani berbagai hukum mu’amalah dalam kehidupan kesehariannya.

 

Begitu juga seorang yang berpegang teguh dengan manhaj salafi, manhaj yang mengajak kita untuk berpegang teguh dengan iman yang shohih, berpegang tehuh dengan akidah yang benar, yang sesuai dengan bimbingan rasul, sesuai dengan bimbingan khulafa’ rasyidin sesuai dengan bimbingan para shohabat dan para ulama yang datang setelah mereka yang mengikuti jejak mereka dengan baik dan benar, dia akan bersabar.

Walaupun manusia di sekitanya menolak amal dengan manhaj salafi. walaupun manusia di sekitarnya berbondong-bondong menuju kepada adh-dholalat, menuju kepada penyimpangan. walaupun manusia di sekitarnya terus meramaikan berbagai bid’ah dalam ibadah mereka, akidah mereka, dakwah mereka. Dia tetap akan bertahan, bersabar dan istiqomah di aatsnya.

Manusia yang seperti ini, seorang mukmin yang seperti ini, dia yang biidznillah -dengan izin Allah Ta’ala– akan meraih apa yang Allah janjikan dalam ayat pertama yang kita sebutkan dalam khutbah ini.

 

(Disarikan dari khutbah Jum’at Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafidzohullah di masjid Abu Dzar al-Ghifari Nanga-Nanga Kendari pada bulan Muharram 1435 H)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.